Categories: Ekonomi Bisnis

18 Ribu Ton Daging Kerbau Masuk Akhir Tahun

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Sisa jatah impor daging kerbau 18 ribu ton didatangkan Perum Bulog secara bertahap hingga akhir tahun ini. Selain itu, Bulog berwenang mengimpor 80 ribu ton daging kerbau untuk memenuhi keperluan dalam negeri.
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyebutkan, pihaknya mendapat jatah impor 80 ribu ton daging kerbau dari Brasil. Saat ini Bulog telah merealisasikan daging sapi dari luar negeri sehingga tinggal menyelesaikan sisa kuota 18 ribu ton. ’’Kami prediksi awal Desember datang semua secara bertahap,’’ ujarnya.
Menurut dia, impor daging dilakukan secara bertahap untuk menyesuaikan kapasitas gudang karena kurangnya fasilitas gudang pendingin (cold storage). Daging kerbau tidak bisa disimpan di pelabuhan lantaran biayanya cukup besar. Buwas –sapaan akrabnya– telah bekerja sama dengan penyalur daging kerbau. Dengan begitu, harga daging yang dijual di kisaran Rp 80 ribu per kilogram bisa tetap terjangkau bagi masyarakat.
Selain impor daging kerbau, Bulog akan mengimpor 30 ribu ton daging sapi Brasil. Impor tersebut diperkirakan masuk akhir tahun atau bahkan Januari 2020, mundur dari penugasan tahun ini. Jadwal impor mundur karena pihaknya belum menerima surat penugasan dari menteri BUMN, rekomendasi Kementerian Pertanian, dan surat persetujuan impor dari Kementerian Perdagangan. ’’Terlebih lagi, pengiriman daging dari Brazil memerlukan waktu 47 hari,’’ ungkapnya.
Impor daging sapi Brazil bakal digunakan untuk memasok keperluan dalam negeri. Harga daging sapi Brasil lebih terjangkau daripada daging dari negara lain seperti Australia. Meski begitu, daging sapi Brasil telah memenuhi persyaratan halal sesuai dengan standar MUI.
Menurut Buwas, berdasar instruksi Presiden Joko Widodo, pemerintah memang membuka opsi impor daging sapi Brazil dengan pertimbangan harga yang relatif lebih murah ketimbang negara produsen lainnya. Meski terdapat biaya transportasi dan logistik, pemerintah mengklaim harga daging sapi Brazil tetap kompetitif.
Sejauh ini mayoritas keperluan daging sapi dan kerbau Indonesia memang masih dipasok impor. Berdasar catatan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi daging sapi nasional pada 2017 mencapai 532 ribu ton, sedangkan keperluan daging sapi 686.271 ton per tahun. Artinya, Indonesia masih defisit daging sapi.(agf/c14/oki/jrr)

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Ketua DPRD Kuansing Diperiksa KPK Selama 12 Jam, Kuasa Hukum Beberkan Materi Pemeriksaan

Ketua DPRD Kuansing Juprizal diperiksa KPK selama 12 jam terkait pelepasan kawasan hutan. Kuasa hukum…

19 jam ago

Jaksa KPK Tuntut Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara, Uraikan Dugaan Aliran Uang Rp2,4 Miliar

Jaksa KPK menuntut Abdul Wahid 8 tahun 6 bulan penjara dan mengungkap lima dasar tuntutan…

19 jam ago

Bupati Meranti Ingatkan Pilkades 2026 Jangan Sampai Picu Perpecahan

Bupati Kepulauan Meranti mengajak masyarakat menjaga persatuan saat Pilkades 2026 dan menyiapkan hadiah umrah bagi…

20 jam ago

Nelayan Korban Serangan Buaya di Rokan Hilir Meninggal Setelah Dirawat Intensif

Nelayan korban serangan buaya di Sungai Rokan meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat intensif. Korban…

20 jam ago

Tiga PKS di Rohul Masih Beli TBS Sawit di Bawah Harga Provinsi, Petani Diminta Lebih Selektif

Tiga PKS di Rohul masih membeli TBS sawit Rp2.850 per kg atau di bawah harga…

2 hari ago

Pelabuhan Penumpang Dumai Resmi Jadi Kawasan Non Tunai, Pembayaran ke Malaysia Kini Bisa Pakai QRIS

Pelabuhan Penumpang Dumai resmi menjadi Kawasan Non Tunai. Pembayaran gate pass hingga tiket ferry internasional…

2 hari ago