Categories: Ekonomi Bisnis

Aset Valas Lebih Besar dari Kewajiban

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan risiko akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap industri perbankan nasional dapat dimitigasi dengan baik. Hasil stress test menunjukkan pelemahan nilai tukar rupiah relatif tidak signifikan berpengaruh langsung terhadap permodalan bank. Sebab, posisi devisa neto (PDN) masih jauh di bawah threshold.

’’Secara umum dalam posisi PDN long atau aset valas lebih besar dari kewajiban valas,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae di Jakarta, Jumat (19/4).

Bantalan permodalan perbankan cukup besar. Itu tecermin dari capital adequacy ratio (CAR) yang tinggi sebesar 27,72 persen. Hal tersebut mampu menyerap fluktuasi nilai tukar rupiah maupun suku bunga yang masih tertahan relatif tinggi.

Dana pihak ketiga (DPK) dalam bentuk valuta asing saat ini sekitar 15 persen dari total DPK perbankan sebanyak Rp8.441 triliun. ’’Sampai akhir Maret 2024, DPK valas masih tumbuh cukup baik secara tahunan (YoY) maupun dibandingkan dengan awal 2024 (YtD),” imbuh Dian.

Menurut dia, pelemahan nilai tukar rupiah juga dapat memberikan efek positif terhadap ekspor komoditas dan turunannya. Yang diharapkan dapat mengimbangi penarikan dana non-residen dan mendorong industri dalam negeri.

Dian mengimbau agar masyarakat tetap tenang dalam menghadapi dampak guncangan geopolitik global yang saat ini terjadi. ’’Ketenangan dan rasionalitas dari masyarakat serta koordinasi antar-otoritas terkait merupakan faktor kunci dalam menghadapi dinamika perekonomian global yang saat ini terjadi,” tuturnya.

Bank Mandiri memastikan kondisi likuiditas masih solid meski terjadi fluktuasi nilai tukar. Corporate Secretary Bank Mandiri Teuku Ali Usman menilai, optimalisasi pengelolaan aset liabilitas secara prudent dengan manajemen risiko menyeluruh menjadi strategi perseroan. Termasuk risiko pasar maupun likuiditas.

’’Kami berkomitmen untuk terus mengoptimalkan pengelolaan aset dan liabilitas agar dapat mengantisipasi gejolak pasar yang terjadi. Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Kementerian BUMN agar perusahaan BUMN dapat mengantisipasi gejolak pasar uang akibat perkembangan geopolitik saat ini dengan menjaga secara proporsional porsi kredit yang terdampak oleh volatilitas rupiah, suku bunga, dan harga minyak,” paparnya.(han/dio/jpg)

Redaksi

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

Razia Gabungan di Sudirman, 117 Kendaraan Langsung Ditindak

Sebanyak 117 kendaraan ditindak dalam razia gabungan di Jalan Sudirman Pekanbaru, termasuk truk ODOL dan…

1 hari ago

UHTP Sembelih 4 Sapi Kurban, Daging Dibagikan untuk Warga dan Karyawan

Universitas Hang Tuah Pekanbaru menyembelih empat sapi kurban pada Iduladha 1447 H dan membagikannya kepada…

1 hari ago

Puluhan Tahun Rusak, Jalan Pesisir di Rumbai Segera Mulai Dibangun

Jalan Pesisir di Rumbai yang puluhan tahun rusak segera diperbaiki. Anggaran pembangunan mencapai Rp11,8 miliar.

1 hari ago

Lonjakan Penumpang Roro Bengkalis Terjadi Jelang Libur Akhir Pekan dan Iduladha

Arus penyeberangan Roro Bengkalis meningkat jelang Iduladha. Pengendara motor bahkan harus antre hingga empat jam.

2 hari ago

Libur Iduladha, Masuk Wisata Danau Raja Rengat Gratis hingga 1 Juni

Pemkab Inhu menggratiskan tiket masuk, parkir, dan tempat jualan di Wisata Danau Raja Rengat selama…

2 hari ago

Satreskrim Polres Kampar Ringkus Komplotan Pencuri Sapi, Kerugian Capai Rp72 Juta

Polres Kampar menangkap tiga terduga pelaku pencurian empat ekor sapi milik warga Kuok dengan kerugian…

2 hari ago