Categories: Ekonomi Bisnis

Dede: Ada Dominasi Bisnis Tak Sehat Angkutan Udara

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Mahalnya harga tiket pesawat telah membuat perubahan signifikan terhadap tren di masyarakat. Seperti saat Idulfitri, masyarakat banyak yang beralih ke moda transportasi darat dan air, ketimbang menggunakan pesawat udara.

Hal ini dibenarkan oleh Ketua Association of Indonesian Tour and Travel Agencies (Asita) Riau Dede Firmansyah. Ia mengatakan, selama puncak arus mudik dan balik, terjadi penurunan yang signifikan pada transportasi udara.

“Masyarakat mulai beralih dari angkutan udara yang sejak Desember lalu harganya tidak turun-turun,” jelas Dede, Kamis (13/6) siang.

Dari data yang ada, angkutan udara di Riau saat mudik turun sebanyak 57 persen dan arus balik turun 21 persen. Sedangkan untuk angkutan darat dan air mengalami kenaikan rata-rata di atas 50 persen dari tahun sebelumnya.

‘‘Melihat kondisi ini, ada dominasi bisnis yang tidak sehat pada angkutan udara. Dua grup besar, Garuda Indonesia group dan Lion Air group, sudah melakukan monopoli harga dengan menerapkan harga batas atas. Bahkan sempat terpantau harga jualnya di atas batas yang ditentukan. Hal ini tentu tidak sehat dan memberatkan masyarakat,” kata Dede.

Untuk itu, Dede mengatakan bahwa Asita saat ini tengah berupaya mencari solusi secara bisnis agar harga tiket kembali normal. Di antaranya dengan melibatkan maskapai Air Asia yang harganya masih dalam batas normal.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Asita Pusat agar bisa mengajak Air Asia membuka rute domestik seperti Jakarta ke beberapa kota di Indonesia. Sehingga dominasi dua grup besar tersebut bisa diakhiri,” jelas Dede.

Dengan adanya pilihan baru, harga tiket akan bersaing dan kembali menjadi normal. Selain itu Asita ingin menjembatani Air Asia untuk menjual rute pendek menggunakan pesawat kecil seperti R80.

Air Asia sudah masuk ke Indonesia. Tapi dia bekerja sama dengan airline lokal yang sekarang kita kenal dengan Indonesia Air Asia.

Dikatakan Dede, jadi ada dua hal yang perlu dilakukan pemerintah pusat. Airline asing masuk ke Indonesia harus bekerja sama dengan airline lokal. tidak seenaknya terbang di wilayah Indonesia. Kedua, untuk menekan biaya operasional airline yang paling besar adalah avtur dan biaya masuk sparepart pesawat. Ini dipecahkan dengan memberi subsidi biaya avtur agar sama dengan negara tetangga. Dan minta biaya masuk.sparepart 0 persen.

“Kita ingin harga tiket bisa kembali normal untuk menghidupkan kembali sektor-sektor usaha yang terkait,” Kata Dede.(rls/mng)

 

 

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Sempat Tertunda, Fakhriadi Syamsuddin dan Istri Resmi Berangkat Haji Bersama Kloter BTH 21

Jemaah haji asal Pekanbaru resmi diberangkatkan ke Arab Saudi. Kanwil Haji Riau ingatkan jemaah fokus…

19 jam ago

Puluhan Warga Belanda Datangi Desa Koto Kombu, Napak Tilas Sejarah Keluarga

Sebanyak 29 warga Belanda datang ke Desa Koto Kombu, Kuansing, untuk napak tilas sejarah keluarga…

20 jam ago

Air Sungai Kuantan Mulai Surut, Warga Kuansing Diminta Tetap Waspada

Debit Sungai Kuantan di Kuansing mulai surut usai banjir dua hari. BPBD mencatat 526 rumah…

1 hari ago

Riezka Rahmatiana Garap Lahan Tidur di Riau, Dorong Ketahanan Pangan Nasional

Riezka Rahmatiana dorong ketahanan pangan di Riau lewat pengelolaan lahan tidur menjadi lahan produktif bersama…

1 hari ago

Sempat Hilang Dua Hari, Korban Tenggelam di Sungai Kampar Ditemukan 2 Kilometer dari Lokasi Awal

Rahmadani (13), bocah yang tenggelam di Sungai Kampar, ditemukan meninggal dunia setelah pencarian intensif selama…

2 hari ago

Pasar Murah Bengkalis Diserbu Warga, Minyakita dan Beras SPHP Cepat Habis

Ratusan warga Bengkalis menyerbu pasar murah Minyakita dan beras SPHP. Stok cepat habis, pemerintah siapkan…

3 hari ago