Categories: Ekonomi Bisnis

Mobil Listrik Cina Nol Kilometer: Antara Strategi Pasar dan Kewaspadaan Konsumen

RIAUPOS.CO – Di tengah gencarnya peralihan menuju kendaraan listrik, industri otomotif Cina kini menghadapi tantangan baru: munculnya mobil listrik “bekas” yang sebenarnya belum pernah digunakan — dikenal sebagai mobil bekas nol kilometer.

Fenomena ini bukan hanya memperbesar volume pasar mobil bekas, tapi juga mengguncang kepercayaan konsumen dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kestabilan industri dalam jangka panjang.

Menurut laporan dari CarNewsChina, praktik ini melibatkan kendaraan baru yang secara administratif sudah dicatat sebagai terjual, biasanya kepada dealer rekanan atau platform penjualan tertutup, lalu dipasarkan kembali sebagai unit bekas dengan harga lebih rendah, meski jarak tempuhnya hampir nol.

Tujuan dari strategi ini bermacam-macam. Pabrikan ingin menaikkan angka penjualan demi terlihat sukses di mata investor dan pemerintah. Sementara itu, dealer mencoba mengurangi stok yang menumpuk dengan menawarkan diskon besar-besaran — mencapai 30 persen dari harga resmi — bahkan dengan cara mengejar subsidi atau peluang ekspor.

Namun, di balik potongan harga besar ini, terdapat risiko besar yang mengintai pembeli. Masa garansi sering kali sudah aktif sejak kendaraan pertama kali didaftarkan, bukan dari saat pembelian. Beberapa kendaraan bahkan masih dalam cicilan atau memiliki riwayat kepemilikan yang tidak jelas — hal-hal yang bisa berujung pada masalah hukum atau keuangan di kemudian hari.

Yang lebih meresahkan adalah dampaknya dalam jangka panjang. Penjualan yang dibesar-besarkan menciptakan kesan permintaan tinggi, menyesatkan investor, dan mengacaukan harga pasar. Contohnya, harga bekas BYD Qin L anjlok hingga 40 persen dari harga barunya. Akibatnya, banyak model lain ikut terdampak penurunan nilai, mempercepat penurunan harga mobil secara luas.

Data terbaru menunjukkan betapa seriusnya kondisi ini. Per April 2025, jumlah stok mobil penumpang di Cina melonjak hingga 3,5 juta unit. Banyak produsen beroperasi dengan kapasitas produksi di bawah 50 persen, menandakan tekanan berat yang mendorong mereka menerapkan strategi manipulatif.

Di sektor kendaraan energi baru (New Energy Vehicle atau NEV), kompetisi harga yang sengit dan ketergantungan terhadap subsidi membuka peluang subur bagi praktik-praktik tak transparan ini, khususnya di lini mobil listrik.

Ketua Great Wall Motor, Wei Jianjun, secara terbuka mengecam praktik semacam ini. Ia menyebutnya sebagai manipulasi data penjualan yang merugikan konsumen dan merusak ekosistem pasar kendaraan listrik.

Meskipun banyak konsumen tergoda oleh harga murah yang ditawarkan, di balik itu semua tersembunyi strategi sistematis untuk mengatasi masalah kelebihan pasokan yang semakin parah di industri otomotif Cina.(JPG)

Redaksi

Recent Posts

Zakat ASN Pemprov Riau Capai Rp61 Miliar, Plt Gubri Pimpin Gerakan Berzakat

Zakat ASN Pemprov Riau melalui Baznas mencapai Rp61 miliar. Plt Gubri SF Hariyanto memimpin Gerakan…

7 jam ago

Kabar Baik untuk ASN, Pemko Pekanbaru Bayar Gaji, THR hingga TPP Sekaligus

Pemko Pekanbaru mencairkan gaji, THR, TPP dan TPP ke-14 ASN sekaligus pada Maret untuk membantu…

8 jam ago

Jalan Parit Guntong–Pulau Kijang Rusak Parah, Warga Minta Perbaikan Segera

Warga keluhkan kondisi jalan Parit Guntong–Pulau Kijang di Inhil yang rusak dan berlumpur. Mereka berharap…

1 hari ago

Motif Cinta Segitiga, Terduga Pelaku Pembunuhan Guru di Dumai Meninggal Dunia

Terduga pelaku penganiayaan yang menewaskan guru di Dumai meninggal dunia saat dirawat di RSUD setelah…

1 hari ago

Kolaborasi Dua Perusahaan Daikin, Roda-Roda Ramadan Bagikan 1.000 Paket Sembako

Daikin menyalurkan 1.000 paket sembako melalui program Roda-Roda Ramadan kepada masyarakat dan lansia sebagai bagian…

1 hari ago

Program Arabian Delight Aryaduta Pekanbaru Hadirkan Menu Timur Tengah hingga Melayu Riau

Program buka puasa Arabian Delight di Aryaduta Pekanbaru diminati masyarakat. Tamu berkesempatan meraih hadiah umrah…

1 hari ago