Ilustrasi. Pemerintah merencanakan akan mencabut subsidi listrik untuk para pelanggan 900 Volt Amphere (VA) RTM pada 2020. (DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)
JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan anggaran subsidi listrik dalam RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun. Nilai tersebut meningkat sekitar Rp17 triliun dibandingkan alokasi subsidi listrik dalam APBN 2026 yang mencapai Rp100,83 triliun.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, besaran usulan tersebut disusun berdasarkan sejumlah asumsi ekonomi yang digunakan pemerintah. Salah satunya adalah harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 75 dolar AS per barel.
Selain ICP, pemerintah menggunakan asumsi nilai tukar Rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS serta tingkat inflasi 2,5 persen.
“Usulan subsidi listrik pada RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun dengan asumsi ICP 75 dolar AS per barel, dengan nilai tukar Rp17.500, tingkat inflasi sebesar 2,5 persen,” kata Bahlil dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (31/8).
Menurut Bahlil, angka subsidi tersebut masih dapat berubah apabila kondisi sejumlah indikator ekonomi bergerak di luar perkiraan pemerintah.
Perubahan harga minyak mentah, nilai tukar Rupiah, maupun inflasi dapat menjadi faktor yang mendorong kebutuhan subsidi listrik menjadi lebih besar.
“Jadi kalau harganya naik asumsi naiknya menjadi 80 dolar per barel ICP, maka ada kemungkinan penambahan subsidi termasuk nilai tukar. Ya kita berdoa aja mudah-mudahan nilai tukar tidak terlalu banyak terkoreksi,” ujarnya.
Sementara itu, realisasi subsidi listrik hingga Juni 2026 telah mencapai Rp46,36 triliun. Adapun tagihan untuk Juli sebesar Rp8,12 triliun serta koreksi triwulan I-2026 senilai Rp1,21 triliun masih dalam proses verifikasi oleh Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan.
Di sisi lain, ESDM juga menaikkan target produksi minyak bumi nasional dalam RAPBN 2027 menjadi 612.500 barel per hari (bph). Target itu sedikit lebih tinggi dibandingkan sasaran lifting minyak bumi pada APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 610.000 bph.
Bahlil mengatakan target tersebut telah dibahas bersama sejumlah pemangku kepentingan. Ia berharap tambahan produksi dapat berasal dari sejumlah sumur baru yang mulai berproduksi pada 2027.
Menurutnya, terdapat beberapa sumber tambahan produksi yang diharapkan mendukung pencapaian target tersebut. Di antaranya sumur Petronas di wilayah Madura, sejumlah sumur yang menggunakan teknologi enhanced oil recovery (EOR), serta potensi sumur baru di wilayah Sumatra.
“Kita memang sekarang kan di 2027 itu ada terjadi beberapa penambahan sumur, seperti Petronas yang ada di wilayah Madura. Terus ada beberapa penambahan sumur kita yang memakai teknologi EOR. Terus ada juga beberapa penambahan potensi sumur kita yang ada di Sumatra,” ungkapnya. (jpg)
Festival Adat Batang Peranap menampilkan Beghagak Tabak, Caca Inai dan Makan Beradat sebagai upaya melestarikan…
Harga Dexlite naik Rp5.050 per liter, pengendara beralih ke biosolar hingga antrean di SPBU Pangkalan…
Pelindo mulai meningkatkan jalan akses Terminal Tanjung Harapan Selatpanjang senilai Rp1,48 miliar untuk kenyamanan dan…
Konflik pengelolaan lahan eks PT RAL di Koto Garo, Kampar, memanas setelah Mitra Agrinas dan…
nalladia ayu rokan, ketua fraksi golkar dprd riau mundur dari jabatannya dan digantikan imustiar sebagai…
ribuan pil ekstasi ditangkap di pekanbaru, 1.226 butir esktasi berbagai merek disimpan dalam lemari rumah,…