Categories: Siak

Sungai Tercemar, Nelayan Tualang Keluhkan Tangkapan Ikan Berkurang

PERAWANG (RIAUPOS.CO) – Nelayan Tualang Kecamatan Tualang, Siak mengeluhkan minimnya hasil tangkapan ikan di Sungai Siak setahun belakangan ini, diduga akibat pencemaran sungai.

Bahkan nelayan mengaku mereka dalam sepekan tidak dapat menjual hasil tangkapan ke pasar, karena ikan yang diperoleh sangat sedikit, tidak cukup untuk dijual.

"Hasil tangkapan ikan sedikit, hanya cukup di bawa pulang ke rumah," ujar salah satu nelayan Tualang Marlis dibenarkan oleh rekannya Rasyid dan Alang, Selasa ( 31/8/2021).

Marlis bekerja sebagai nelayan selama 28 tahun itu menuturkan hasil tangkapan ikan jauh menurun dirasakan sejak setahun terakhir ini, hal ini diduga ada pencemaran limbah pabrik.

Sekarang dia hanya bisa membawa ikan pulang paling banyak 5 kilogram jenis ikan juara, bahkan hanya mendapatkan ikan rasau yang harga jualnya lebih murah, kadang dapat udang sedikit.

"Turun ke sungai sekarang paling banyak dapat 5 kilogram ikan juara. Banyaknya dapat ikan rasau, jika di jual harganya Rp5.000 per kilogram. Sedangkan ikan juara harganya Rp15.000 -30.000 per kilogram tergantung ukuran ikannya. Sebelum pencemaran limbah di sungai kami bisa mendapatkan ikan puluhan kilo, bahkan pernah sampai 100 kilogram lebih," ungkapnya.

Dengan hasil tangkapan ikan jauh menurun, ayah yang memiliki lima anak ini mencari pekerjaan sampingnya lainnya.

"Kadang dodos sawit, gali kubur atau pekerjaan lain yang bisa memenuhi keperluan sehari-hari," katanya.

Dirinya berharap pemerintah setempat memperhatikan pencemaran limbah di sungai. Nasib nelayan Hanya mengandalkan penghasilan dari tangkapan ikan.

"Sejak sungai tercemar limbah ikan- ikan punah," ungkapnya.

Rasyid (53) nelayan Tualang juga mengeluhkan sulitnya memperoleh tangkapan ikan saat ini disebabkan pencemaran sungai yang semakin parah. Dengan minimnya hasil ikan, tidak dapat menutupi biaya operasional, nelayan merugi.

"Dah setahun ini ikan semakin sulit diperoleh. Tak bisa diharapkan dari hasil tangkapan ikan lagi untuk memenuhi keperluan keluarga," katanya.

Terkait keluhan nelayan, Penghulu Kampung Tualang Juprianto menyampaikan prihatinn nasib nelayan di Kampung Tualang.

Dia berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat meninjau pencemaran sungai yang diduga dari limbah pabrik. Sebab  nelayan mengeluhkan limbah di sungai berdampak pada hasil tangkapan ikan.

"Harapan kita dinas terkait yakni Dinas Lingkungan Hidup  turun langsung.Kasihan nelayan yang hidupnya tergantung pada hasil tangkapan ikan untuk menghidupkan keluarganya," ungkap Juprianto.

 

Laporan: Wiwik Widaningsih (Perawang)

 

Editor: Erwan Sani

 

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Solar Subsidi Langka di Riau, Sopir Truk Rela Antre Hingga 6 Jam di SPBU

Kelangkaan solar subsidi memicu antrean panjang hingga 6 jam di berbagai wilayah Riau. Masyarakat desak…

19 jam ago

DPRD Kepulauan Meranti Jadwalkan Pengesahan Dua Ranperda

DPRD Kepulauan Meranti bakal mengesahkan dua Ranperda yang telah rampung dibahas guna mendorong capaian Indeks…

19 jam ago

Tim SAR Hentikan Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal yang Hilang Kontak di Selat Sunda

Operasi pencarian 5 jurnalis dan 3 kru speedboat yang hilang kontak di Selat Sunda resmi…

20 jam ago

Diserahkan Menteri PPPA, Bunda Literasi Pekanbaru Sulastri Agung Nugroho Sabet Penghargaan Nasional

Ketua TP PKK sekaligus Bunda Literasi Pekanbaru Sulastri Agung Nugroho meraih penghargaan Apresiasi Swara Cantika…

20 jam ago

BMKG Deteksi 71 Titik Panas di Riau, 10 Daerah Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

BMKG mencatat 3.227 titik panas di Sumatera dengan 71 titik berada di Riau. Peringatan dini…

21 jam ago

Dampak Asap Karhutla Makin Pekat, Pemkab Kuansing Liburkan Sekolah Dua Hari

Kualitas udara di Kuansing nyaris menyentuh level sangat tidak sehat. Disdikpora Kuansing memutuskan kembali menerapkan…

1 hari ago