Marzuki
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyebut titik panas (hot spot) di Riau terpantau nihil pukul 16.00 WIB, Kamis (26/9). Tidak adanya hot spot ini dikarenakan adanya hujan yang sejak beberapa hari lalu merata mengguyur wilayah Riau.
"Untuk Sumatera level konfiden di atas 50 persen masih ada 102 titik lagi. Namun di Riau tidak ada hot spot, semua berada di provinsi lain," ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Pekanbaru, Marzuki.
Tidak hanya hot spot, kata Marzuki, Riau dengan tingkat kepercayaan di atas 70 persen atau diduga merupakan titik api (fire spot) juga terpantau tidak ada. Ditambah dengan adanya hujan, kondisi jarak pandang di Riau sudah mulai kembali normal. "Untuk Pekanbaru, Rengat dan Pelalawan hari ini jarak pandang sudah tujuh km pada pukul 16.00 WIB dan enam km di Dumai," tambahnya.
Memasuki musim peralihan dari kemarau ke musim penghujan. BMKG Pekanbaru memperkirakan adanya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sore ini. "Dengan disertai petir dan angin kencang di sebagian wilayah Bengkalis, Pelalawan, sebagian Rohil dan sebagian Siak," ucapnya.
Kabut asap berangsur-angsur hilang, pascahujan deras menggguyur sebagian wilayah Bumi Lancang Kuning. Meski begitu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) belum mencabut status darurat pencemaran udara. Kondisi udara yang dapat berubah sewaktu-waktu menjadi faktor pertimbangan.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau, Ahmad Syah Harrofie mengatakan, pihaknya akan menggelar rapat bersama pihak terkait untuk membahas rencana pencabutan status tersebut. Evaluasi itu dijadwalkan dilakukan sore ini (27/9).
"Belum dicabut. In sya Allah besok sore (hari ini, red), kami evaluasi (status darurat pencemaran udara)," ungkap Ahmad Syah, Kamis (26/9).
Terhadap pencabutan status, disampaikan Ahmad Syah, Pemprov mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal di Riau. Untuk kondisi internal, pihaknya akan melihat perkembangan indeks standar pencemaran udara (ISPU) dan potensi titik api. Sedangkan, faktor eksternal yaitu melintang arah angin dengan berkoordinasi dengan BMKG. Karena, menurut Asisten I Pemprov Riau itu kabut asap yang melanda merupakan kiriman dari provinsi tetangga tengah mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla). "Kami pertimbangkan internal dan eksternal Riau. Kondisi udara masih dinamis, karena faktor provinsi lain juga jadi pertimbangan," sebut Ahmad.(rir/*1/dof/kas/wik)
Pemkab Inhil memastikan TPP dan THR ASN telah dibayar penuh sebelum Lebaran, tanpa tunggakan, untuk…
Warga Pekanbaru yang menebang pohon tanpa izin disanksi menanam 30 pohon sebagai bentuk tanggung jawab…
Bupati Rohul mengimbau masyarakat dan UMKM menjaga kebersihan Kompleks Bina Praja seiring meningkatnya aktivitas di…
Alam Mayang Pekanbaru tetap ramai dikunjungi saat libur Lebaran, meski jumlah wisatawan turun sekitar 30…
Gaji ASN Meranti Maret 2026 sempat terlambat. Pemkab memastikan pembayaran tetap dilakukan dan ditargetkan tuntas…
Polres Siak intensifkan patroli SPBU untuk memastikan stok BBM aman, mencegah kelangkaan, dan menjaga kenyamanan…