Categories: Riau

Pemprov Riau Harus Belajar dari Pengalaman

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – RIGHTS Asia menyebut  Pemerintah Provinsi Riau panik menangani kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan yang terjadi dibeberapa daerah di  Riau. Padahal menurutnya, bencana kabut asap yang terjadi saat ini bukanlah yang pertama kalinya. 

"Pemerintah daerah sepertinya panik tidak tahu harus berbuat apa, padahal kejadian karhutla ini sudah bertahun-tahun dan berulang," kata Direktur Eksekutif RIGHT Asia, Nukila Evanty kepada Riau Pos, kemarin.

Menurut Nukila, seharusnya Gubernur Riau Syamsuar belajar dari pengalaman gubernur sebelumnya untuk mengatasi bencana kabut asap. Pemerintah juga harus menyadari apa yang menjadi hak masyarakat yang terkena dampak asap, seperti menganggarkan dana siap pakai untuk mendirikan lebih awal posko kesehatan sesuai standar, memfasilitasi evakuasi korban dan menyediakan masker respirator standar WHO secara gratis ke masyarakat. 

"Menyediakan anggaran penanggulangan bencana segera dalam bentuk dana siap pakai, jangan menunggu pembahasan APBD tahun 2020, bersegerah mengadakan pertemuan dengan DPRD untuk membahas dana siap pakai bencana ini," bebernya.

Katanya, berdasarkan UU Nomor 24 /2007 tentang penanggulangan bencana, pemerintah daerah adalah pihak yang paling bertanggungjawab. Sebab, sambungnya, dalam undang-undang tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa pemerintah daerah adalah terdiri dari gubernur, bupati/wali kota dan dinas-dinas terkait seperti DLH, Dinsos, Dinkes dan Dinas Pertanian menjadi penanggung jawab utama yang seharusnya melindungi masyarakat dari dampak asap dan mengurangi resiko bencana di wilayahnya.

"Pemerintah daerah yang paling bertanggung jawab dalam karhutla dan dampak asap pemerintah Provinsi Riau adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam karhutla dan dampak asap ini. Di UU Nomor 24 /2007 tentang penanggulangan bencana dengan jelas disebutkan," tegasnya. 

Nukila juga mempertanyakan apa yang telah dilakukan Pemprov Riau untuk mengatasi dampak sosial ekonomi bagi masyarakat yang sudah mulai jenuh dengan kondisi sekarang dan terjadi gelombang urbanisasi.   

"Pernah tidak pemerintah daerah terpikirkan dampak sosial dari arus pengungsian keluarga-keluarga dari Riau ke wilayah Jawa misalnya?. Hanya untuk mendapatkan udara segar dan kesehatan buat keluarganya," katanya.

Dia meminta Pemprov Riau bersama dinas terkait mulai mendata jumlah korban dan juga kerugian yang dialaminya akibat bencana asap. 

"Pemerintah daerah dengan dinas-dinas terkait sudah mulai mendata jumlah korban terkena dampak asap baik dari sisi kesehatan, dampak ekonomi, rusaknya prasarana dan sarana," pungkasnya.

Laporan: Yusnir/Jakarta
Editor: wws

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Meriah! Festival Perang Air Selatpanjang Digelar 17–22 Februari, Resmi Masuk KEN 2026

Festival Perang Air Meranti kembali digelar 17–22 Februari 2026. Tradisi budaya ini resmi masuk Karisma…

10 jam ago

Pria 46 Tahun di Inhu Diamankan Polisi, Diduga Cabuli Anak Tiri yang Masih Balita

Polisi Inhu mengamankan pria 46 tahun yang diduga melakukan kekerasan seksual terhadap anak tiri berusia…

13 jam ago

Pustu Tak Layak, Warga Desa Patah Parang Terpaksa Melahirkan di Kantor Desa

Bangunan Pustu rusak parah membuat warga Desa Patah Parang terpaksa melahirkan di kantor desa. Perbaikan…

13 jam ago

Daftar Produk dan Harga ASICS Sonicblast di Blibli

Daftar Produk dan Harga ASICS Sonicblast di Blibli

1 hari ago

Pastikan UMK 2026 Dipatuhi, Pemko Pekanbaru Sidak Hotel dan Rumah Sakit

Disnaker Pekanbaru memperketat pengawasan UMK 2026 dengan menyidak hotel dan rumah sakit untuk memastikan gaji…

2 hari ago

Jelang Riau Pos Fun Bike 2026, Peserta Perorangan Tunjukkan Antusiasme Tinggi

Menjelang Riau Pos Fun Bike 2026, antusiasme peserta perorangan terus meningkat. Iven gowes massal ini…

2 hari ago