PENYULUHAN: Sejumlah petani di Desa Ranah Bukit, Kecamatan Kampar, Kampar saat mengikuti kegiatan pengabdin masyarakat yang dilakukan oleh dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (UIR). foto/gema setara riaupos
PEKANBARU (RIAUPOS.CO)- Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (UIR) melalui program pengabdian masyarakat melakukan motivasi kepada petani di Desa Ranah Bukit Bukit, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar. Motivasi yang diberikan para dosen ini dalam bentuk bagaimana melakukan penanaman, pemupukan dan pencegahan hama penyakit terhadap tanaman yang diusakan para petani.
‘’Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini merupakan kewajiban yang harus dilakukan civitas akademika perguruan tinggi sebagai bentuk tanggungjawab dan berperan serta dalam pengaplikasian ilmu dan teknologi kepada masyarakat dalam arti luas,’’ tutur Ketua Tim Penyuluh Dr Fathurrahman SP MSc didampingi sejumlah tim lainnya Selvia Sutriana SP MP, Ir Ernita MP, Bayu Anggara dan Desi Rani Safitri, Selasa (3/9).
Dia mengatakan, dalam dunia pertanian cukup banyak teknologi yang bisa diterapkan untuk mengatasi berbagai masalah dibidang pertanian. Baik itu teknologi yang dihasilkan oleh berbagai lembaga penelitian, maupun teknologi turun temurun yang sudah menjadi kearifan lokal.
‘’Tujuan kegiatan yang kami lakukan memperkenalkan penerapan teknologi pertanian yang efektif dan efisien kepada petani khususnya di Desa Ranah Bukit, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dan meningkatkan wawasan petani tentang agribisnis tanaman pangan dan hortikultura,’’ ujarnya.
Yang paling penting dari itu semua, tambahnya petani dapat memahami bahwa hasil tanaman pangan memberikan peluang untuk ditingkatkan kualitas dan kuantitas sehingga produknya menjadi kompetitif, ujuang dari itu semua akan memberikan efek positif kepada petani itu sendiri, karena secara tidak langsung hal itu akan bisa menambah pendapatan petani.
‘’Misalnya tentang tanaman padi. Harusnya pola penanaman padi itu bisa dilakukan setahun dua kali, namun petani di desa ini masih melakukan penanaman sekali dalam setahun. Persoalan ini karena tidak adanya sarana irigasi. Masyarakat masih mengandalkan air hujan dalam usaha budidayanya. Kalau sarana irigasi lengkap petani sendiri yakin bisa melakukan penanaman padi setahun dua kali,’’ ujarnya.
Pihaknya yakin, jika sarana irigasi di daerah itu ada pola tanam padi yang selama ini dilakukan setahun sekali akan bisa dilakukan petani menjadi dua tahun sekali. ‘’Secara otomatis, dengan pola ini akan bisa memberikan dampak positif kepada masyarakat petani itu sendiri,’’ tuturnya.
Tidak hanya tentang tanaman padi, para dosen juga memberikan materi tentang hama penyakit, khususnya hama penyakit yang menyerang tanaman jeruk petani di daerah itu. Potensi jeruk di daerah itu cukup menjanjikan, namun karena minimnya pengetahuan petani tentang tata cari mengatasi hama penyakit ini, sehingga jeruk petani yang terserang hama dan penyakit tidak pernah di obati.
‘’Kami melihat motivasi memahami penyakit tanaman jeruk masih rendah, tidak ada usaha kreatif bagaimana mengstasi penyakit jamur batang dan akar. Padahal potensi jeruk cukup menjanjikan jika dikelola dengan baik,’’ ujarnya.
Laporan Gema Setara
Editor: Deslina
Pemerintah perpanjang batas lapor SPT hingga 30 April 2026. Wajib pajak kini punya waktu tambahan…
Polisi musnahkan 9 rakit PETI di Inhu dan Kuansing. Pelaku diduga kabur sebelum petugas tiba…
Warga Bagansiapiapi antre BBM hingga 1 jam usai Lebaran. Lonjakan konsumsi picu antrean, pemerintah pastikan…
Pemko Pekanbaru perketat kriteria bantuan pangan, namun jumlah penerima naik jadi 63 ribu KK lewat…
Lubang besar di Jalan HR Soebrantas Pekanbaru membahayakan pengendara. Warga minta segera diperbaiki karena rawan…
Karhutla di Rupat Bengkalis meluas hingga 50 hektare. Kemarau, akses sulit, dan minim air jadi…