Categories: Politik

Survei, 44 Persen Tidak Puas dengan DemokrasiÂ

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Lembaga survei Indikator Politik menemukan 44 persen masyarakat tidak puas dengan jalannya demokrasi selama pandemi Covid-19. Angka ini merupakan salah satu dari data hasil survei yang dipaparkan Indikator Politik terkait pandemi pada Ahad (26/9).

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyampaikan, jumlah responden yang puas dan tidak puas dengan demokrasi semasa pandemi hampir imbang. Sebanyak 47 persen menyatakan puas, 44 persen tidak puas, dan sisanya menjawab tidak tahu.

Ketidakpuasan itu bukan dari segi sistem demokrasi, tetapi lebih kepada pelaksanaannya. Jadi, data tersebut tidak menunjukkan bahwa masyarakat ingin alternatif selain sistem demokrasi. "Saya kira ini penting supaya aspirasi publik bisa ditangkap dan penurunan demokrasi bisa direspons oleh para pemangku kebijakan," ujarnya dalam diskusi virtual kemarin.

Secara lebih rinci, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) memberikan catatan tingginya ketidakpuasan masyarakat terhadap demokrasi semasa pandemi. Ketua Umum YLBHI Asfinawati menyampaikan tiga poin yang perlu dikritisi. Pertama, penanganan pandemi di lapangan yang didominasi oleh TNI/Polri.

"Misalnya, BLT disalurkan melalui TNI/Polri, itu agak jauh dari fungsi mereka. Juga Badan Intelijen (BIN), untuk apa badan intelijen sempat mengeluarkan obat. Kita perlu melihat apakah ada nuansa ekonomi politik di situ," terang Asfinawati dalam forum diskusi virtual.

Dia menegaskan bahwa semestinya TNI/Polri maupun badan intelijen berperan sebagai perbantuan, bukan pelaksana utama. Pelaksana tetap dari otoritas kesehatan. Harus menjadi pertanyaan juga mengapa sistem otoritas kesehatan tidak cukup kuat sehingga TNI/Polri harus turun tangan dalam vaksinasi, misalnya.

Kemudian, penegakan aturan pembatasan sosial juga dirasa diskriminatif. Tindakan penertiban kerap dilakukan kepada aksi-aksi masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, tetapi tidak berlaku sama untuk kegiatan kampanye politik. Aparat penegak hukum juga melakukan penangkapan terhadap masyarakat yang menggelar aksi tanpa adanya kasus pidana.

"Padahal penangkapan itu hanya untuk kepentingan pemeriksaan perkara pidana. Kalau nggak ada ya nggak boleh ditangkap," tegasnya. Penurunan indeks demokrasi juga ditengarai terjadi karena salah kaprah penanganan ujaran kebencian atau hate speech. Terakhir, adanya kasus korupsi terkait penanganan pandemi yang melanggar hak masyarakat atas kesehatan dan kualitas hidup.(deb/fat/jrr)

Laporan JPG, Jakarta

Eka Gusmadi Putra

Share
Published by
Eka Gusmadi Putra

Recent Posts

Anak Kuansing Jago Bahasa Asing Bakal Punya Peran Khusus di Pacu Jalur 2026

Pacu Jalur Kuansing 2026 ditargetkan mendunia dengan melibatkan anak daerah penguasaan bahasa asing dan promosi…

21 jam ago

Kecelakaan di Kelok 17 Limapuluh Kota, Empat Warga Pekanbaru Jadi Korban

Kecelakaan truk dan SUV di Kelok 17 menewaskan satu warga Pekanbaru. Tiga korban selamat setelah…

22 jam ago

5.000 Mangrove Ditanam di Desa Penyengat Pesisir Siak, Warga Bergerak Sebelum Abrasi Makin Parah

Warga Penyengat, Siak, menanam 5.000 mangrove secara swadaya untuk melindungi pesisir dari abrasi dan menjaga…

2 hari ago

Pamit Keluar Rumah, Gadis 19 Tahun di Pekanbaru Tak Bisa Dihubungi

Tsabita Salsabila, 19 tahun, dilaporkan hilang di Pekanbaru. Ponselnya terakhir terdeteksi di Jalan Swakarya setelah…

2 hari ago

Gempa M7,7 Hantam NTT, 20 Orang Meninggal dan 2 Masih Tertimbun

Gempa M7,7 mengguncang NTT dan menewaskan 20 orang. Enam warga luka-luka dan dua lainnya masih…

2 hari ago

Mobil Konsumen Terbakar Saat di SPBU Pelalawan, Pertamina Amankan Lokasi dan Periksa CCTV

Kendaraan konsumen terbakar di SPBU Bandar Petalangan, Pelalawan. Pertamina menghentikan operasional sementara dan masih menyelidiki…

2 hari ago