Categories: Politik

Survei Menunjukkan, 43 Persen Rakyat Takut Bicara Politik

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis survei nasional yang bertajuk  ’’Kondisi Demokrasi dan Ekonomi Politik Nasional Pasca-Kerusuhan 21-22 Mei’’. Hasilnya, angka kepuasan demokrasi Indonesia masih terbilang masih cukup tinggi.

Namun, fakta itu diiringi oleh tingginya angka responden yang mengaku takut berbicara soal politik setelah kerusuhan 21-22 Mei. Berdasarkan data SMRC, sekitar 59 persen dari 1.220 responden menganggap cukup puas dengan jalannya demokrasi selama ini. Sedangkan 7 persen respondennya menyatakan merasa sangat puas.

Di sisi lain, ada sekitar 26 persen responden yang menyatakan kurang puas, 4 persen mengaku tidak puas sama sekali dan 4 persen sisanya tidak menjawab. Dalam surveinya tersebut, ada sekitar 43 persen responden Indonesia menyatakan takut berbicara politik pasca kerusuhan 21-22 Mei 2019. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan dengan periode awal Joko Widodo (Jokowi) memimpin pada 2014 lalu yang hanya sebesar 17 persen.

’’Saat ini ada peningkatan, itu menyebabkan publik takut untuk berbicara politik,’’ kata Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas, di kantornya, Menteng, Jakarta, Minggu (16/6/2019).

Tren tersebut juga lebih jauh meningkat daripada periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2009 lalu. Abbas mengatakan, pada era SBY hanya sebesar 16 persen masyarakat yang takut berbicara politik.

’’Ini perlu kita catat bahwa saat ini ada tren kenaikan perasaan takut di masyarakat untuk berbicara politik. Ada penurunan kualitas,’’ katanya.

Kendati demikian, dia mengatakan saat ini ada pula masyarakat Indonesia yang masih mau berbicara politik. Dalam temuannya, sebesar 35 persen masyarakat Indonesia masih sering bicara politik.

Sedangkan, yang mengaku jarang bicara politik sebesar 25 persen, tidak pernah bicara politik sebesar 26 persen, selalu bicara politik 8 persen, dan tidak menjawab 7 persen.

’’Sebagian besar jarang bicara politik,’’ katanya. Survei SMRC kali ini digelar dengan responden warga yang berusia 17 tahun atau lebih atau yang sudah menikah dalam rentang waktu 20 Mei-1 Juni 2019. Metode survei yang digunakan adalah multistage random sampling dengan 1220 responden.

Kendati demikian, responden yang dapat diwawancarai secara valid 1078 atau 88 persen. Margin of error kurang lebih 3,05 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.(igmanibrahim)

Sumber: Jawapos.com
Editor: Fopin A Sinaga

Redaksi

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

MK Kabulkan Gugatan, Operator Wajib Lindungi Sisa Kuota Internet Pengguna

MK menegaskan sisa kuota internet merupakan hak konsumen yang bernilai ekonomi. Operator wajib menyediakan pilihan…

7 jam ago

Enam Jam Geledah Kantor Disdik Riau, Penyidik Bawa Dokumen dan Barang Elektronik

Kejati Riau menggeledah Kantor Disdik terkait dugaan korupsi pengadaan IFP 2024 senilai Rp9,6 miliar dan…

7 jam ago

Rohil Cetak Rekor MURI, 7.750 Penari Perempuan Tampilkan Tari Sapin Bagan

Sebanyak 7.750 penari perempuan dari 18 kecamatan tampil serentak membawakan Tari Sapin Bagan hingga Rohil…

8 jam ago

Bintang Laut Menang Tipis atas Wahidin dalam Duel Sengit HSBL Bagansiapiapi 2026

Hari kedua HSBL Bagansiapiapi Series 2026 berlangsung sengit. Bintang Laut menang tipis 54-52 atas Wahidin,…

9 jam ago

Pemprov Riau Buka Rekrutmen 90 Tenaga Perawat, Pengumuman Seleksi Mulai Pekan Depan

Pemprov Riau menyiapkan 90 formasi tenaga perawat melalui skema BLUD. Pengumuman rekrutmen dijadwalkan mulai pekan…

10 jam ago

Lubang Besar Menganga di Jalan Kaharuddin Nasution Dekat Bandara SSK II Pekanbaru

Lubang besar menganga di Jalan Kaharuddin Nasution dekat Bandara SSK II Pekanbaru. Pengendara khawatir dan…

10 jam ago