Site icon Riau Pos

Tuntut Kinerja Pemkab, Mahasiswa Bawa Pocong

DEMO: Puluhan mahasiwa melakukan demo di depan pintu kantor Bupati Kampar sambil membentang spanduk raksasa dan membawa "pocong", Senin (30/12/2019). (hendrawan kariman/riau pos)

KAMPAR (RIAUPOS.CO) — Baru saja pada malam hari Bupati Kampar Catur Sugeng Susanto menggelar talkshow pencapaian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar, siang pada Senin (30/12) mahasiswa langsung datang melakukan demo.

Dengan spanduk raksasa bertinta merah, lengkap dengan tonggak raksasa, mahasiswa datang membawa pocong sebagai simbol matinya keadilan di Kabupaten Kampar.

Pertama, rombonga mahasiswa yang menamakan diri sebagai Aliansi Mahasiswa Peduli Kampar (AMPEK) ini mendatangi rumah dinas bupati di yang berada tepi Jalan Lintas Riau-Sumatera Barat pada pagi hari. Tidak berhasil menemui bupati, mahasiswa bergerak ke Kantor Bupati Kampar pada siang hari. Namun kehadiran mereka tidak kunjunga diterima Bupati Kampar yang ingin mereka temui.

Koordinator Lapangan demo ini M Fadhli menyampaikan sejumlah tuntutan kepada bupati. Yang pertama mereka minta adalah  kehadiran Wakil Bupati yang hingga hari ini masih kosong. Para mahsiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang ada di Bangkinang dan Pekanbaru ini menilai bupati terlalu nyaman memimpin tanpa wakil, sementara banyak agenda pemerintahan terganggu karena kekosongan jabatan tersebut.

Mahasiswa juga menyinggung pelayanan Disdukcapil Kampar yang selalu kehabisan stok blanko. Mereka menuding, ketika masyarakat mengurus berbagai keperluan pencatatan sipil dengan jalur lurus, selalu ada hambatan seperti ketiadan blanko tadi.

Tidak segan-segan, dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa juga menuding Kapolres dan juga Kejari Kampar melindungi kasus korupsi di Kampar. Hal ini dengan hilangnya kasus temuan di RSUD Bangkinang yang mereka duga mencapai Rp900 juta.

Hal ini termasuk juga terkait proyek pembangunan pasar di Simalinyang. Pada kesempatan itu, mahasiswa juga menyinggung soal pejabat bermasalah.

"Kami menolak pejabat yang bermasalah. Kami meminta persoalan Jembatan Waterfront City dituntaskan dan menolak semua pejabat yang terlibat dalam kasus itu. Kami juga meminta semua dugaan korupsi di Kampar untuk dituntaskan, termasuk temuan BPK di RSUD Bangkinang, Dinas Pertanian dan juga Dinas PU Kabupaten Kampar," terangnya Fadhli yang memimpin puluhan kawan-kawannya.

Pada saat orasi yang digelar bergantian itu, mahasiswa juga meminta Pemkab Kampar untuk memberikan pendidikan 12 tahun untuk masyarakat Kampar. Mereka juga mengecap aksi pungli di Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar. Terkait lingkungan, aksi menjelang tutup tahun ini juga membahas persoalan aktivitas galian C yang mulai marak setahun terakhir di Kabupaten Kampar.

"Stop juga galian C di Bangkinang Seberang, XIII Koto Kampar. Tutup juga galian C di Kecamatan Tambang, Desa Kualu, Kecamatan Siak Hulu, Kamparkiri dan beberapa tempat lainnya. Kampar perlu energi positif baru untuk melawan kejahatan korupsi," teriak Fadhli dalam orasi.

Pada siang itu di Kantor Bupati Kampar, selain mahasiswa juga hadir masyarakat Desa Bukit Melintang, Kecamatan Kuok. Bila mahasiswa mencecar dan menuntut kinerja Bupati, masyarakat dari Bukit Melintang ini menuntut keadilan terhadap salah satu calon kepala desa setempat yang mereka anggap dikalahkan oleh Pemkab Kampar. (end)

Exit mobile version