Joseph Maguire saat memberikan kesaksian di depan DPR AS Kamis (26/9) (ANDREW HARNIK/AP)
JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Sasaran kemarahan Partai Demokrat kini bukan hanya Presiden AS Donald Trump. Namun, juga pejabat-pejabat senior di Gedung Putih. Diibaratkan mereka bersekongkol untuk menutup aib dan pelanggaran kepala negara.
Semua tudingan tersebut berasal dari laporan whistle-blower yang akhirnya dirilis ke khalayak umum Kamis lalu (26/9). Menurut pelapor, petinggi di dalam kabinet Trump berusaha menutupi kasus hubungan Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Dari informasi yang dihimpun, banyak pejabat dan staf gedung putih yang berada di ruang rapat khusus kepresidenan pada insiden 25 Juli. Mereka mengira bahwa percakapan telepon Trump hanyalah seputar ucapan selamat atas kemenangan Partai Servant of the People dalam pemilu parlemen. Mereka kaget ketika Trump mengungkit masalah Hunter Biden dan menyebut nama Rudy Giuliani, pengacara pribadi Trump.
"Saya mendengar dari beberapa sumber bahwa pejabat tinggi Gedung Putih mencoba untuk mengunci semua laporan dan rekaman percakapan," tulisnya.
Dokumen tersebut dipindahkan dari server yang biasanya mendokumentasikan percakapan presiden menuju server tertutup. Server tersebut merupakan tempat penyimpanan dokumen-dokumen rahasia negara paling sensitif.
Pelapor juga menceritakan peran Giuliani dalam kegiatan itu. Ternyata, mantan wali kota New York tersebut berhubungan langsung dengan beberapa pejabat Ukraina untuk menyelidiki borok Biden. Lingkaran Gedung Putih tahu tentang manuver tersebut.
"Ini jelas upaya menutupi (kesalahan kepala negara, Red)," ungkap Ketua Dewan Perwakilan AS Nancy Pelosi kepada Agence France-Presse.
Adam Schiff, Ketua Komite Intelijen Dewan Perwakilan AS, ikut mencerca Director of National Intelligence Joseph Maguire dalam sesi kesaksian. Dia menganggap Maguire ikut menutupi pelanggaran presiden. Pasalnya, Maguire sempat menahan dokumen aduan dan percakapan saat diminta kongres.
Maguire menjelaskan bahwa dirinya harus berhati-hati menangani dokumen tersebut karena hak eksekutif presiden. Mantan petinggi Angkatan Laut AS itu juga menegaskan bahwa pengadu sudah bertindak sesuai prosedur.
"Saya yakin mereka bertindak atas niat yang mulia," ungkap dia seperti dilansir New York Times.
Beberapa politikus Republik di Capitol Hill pun mulai meragukan kredibilitas Trump. Will Hurd mengatakan bahwa dokumen tersebut bisa jadi hanya secuplik dari masalah Gedung Putih yang diadukan namun tak sampai ke telinga publik. Dia pun meminta semua tuduhan bisa diselidiki.
Kubu Trump pun kacau. Menurut sumber terdekat, Trump terlihat tak fokus dalam beberapa hari terakhir. Dia bahkan sempat meminta identitas whistle-blower dalam percakapan tertutup.
"Saya ingin tahu siapa orangnya dan siapa yang memberi orang itu informasi. Karena itu sama seperti mata-mata," ungkap dia menurut rekaman suara yang dirilis Los Angeles Times.
Beruntung, sampai saat ini Maguire masih melindungi sang pelapor. Dalam kesaksiannya, pemimpin semua lembaga intelijen AS itu mengaku bahwa pelapor meminta identitasnya dirahasiakan. Satu-satunya informasi yang bocor adalah dia merupakan petugas Central Intelligence Agency (CIA) AS.
Sumber : Jawapos.com
Editor : Rinaldi
Kebakaran di Marpoyan Damai Pekanbaru menghanguskan rumah bulat, dua kontrakan, dan sepeda motor. Delapan unit…
Desa Bokor di Kepulauan Meranti berhasil menjaga 13 spesies mangrove dan mengembangkan ekowisata berkelanjutan berbasis…
Sebanyak 117 kendaraan ditindak dalam razia gabungan di Jalan Sudirman Pekanbaru, termasuk truk ODOL dan…
Universitas Hang Tuah Pekanbaru menyembelih empat sapi kurban pada Iduladha 1447 H dan membagikannya kepada…
Jalan Pesisir di Rumbai yang puluhan tahun rusak segera diperbaiki. Anggaran pembangunan mencapai Rp11,8 miliar.
Arus penyeberangan Roro Bengkalis meningkat jelang Iduladha. Pengendara motor bahkan harus antre hingga empat jam.