Categories: Nasional

Tol Gajah, Harmoni Infrastruktur dan Konservasi

Rawa dan gambut dipancang dengan konstruksi kaki seribu (slab on pile). Beberapa sungai tetap mengalir mengikuti nyanyian sunyi derap langkah gajah. Keselamatan pengendara jadi prioritas berikut menjaga kelestarian habitat satwa liar. Menjadi harmonisasi antara infrastruktur modern dan konservasi.

Laporan: EKA G PUTRA (Pekanbaru)

"MEREKA melintas tiap subuh (pukul 05.00 WIB). Bisa sampai 40-an ekor gajah, ada juga tu yang kecil, kakinya puntung. Kasihan," kisah Sakinah.

Sakinah tengah menyapu halaman warung yang sekaligus adalah rumahnya. Bangunan kayu, tepat di samping proyek prestisius yang masuk dalam ruas tol Pekanbaru-Dumai di seksi 4. Anaknya paling kecil tampak ikut digendong, berusia satu tahunan.

Dengan ramah ia mempersilakan rombongan awak media yang melirik warungnya untuk sekadar beristirahat. Matahari memang sudah lewat di atas kepala. Namun bayang masih bercucuran keringat di atas tanah kering. Alat berat meraung beroperasi memuluskan jalan berkelas tinggi sedang dikerjakan jelang memasuki 2020 lalu.

"Ya, gajahnya gajah liar. Sering lewat, karena memang tempatnya biasa lalu lalang," akunya.

Menurut Sakinah, kawasan di salah satu titik seksi 4 yang dilintasi jalan tol tersebut memang tempatnya gajah liar bermain.

"Lebih sering melintas sendiri. Memang di waktu tertentu sampai puluhan ekor," sambungnya berbincang dengan Riau Pos.

23 Desember 2019 lalu, Riau Pos berkesempatan mengunjungi pekerjaan pembangunan ruas jalan tol Pekanbaru-Dumai. Dari Pekanbaru pagi hari dan singgah di beberapa lokasi. Hingga sampai di seksi 4 yang kala itu masih terus dikebut pekerjaannya.

Sakinah yang ditemui memang sudah lama membuka warung di rumahnya. Kebetulan ada pekerja, kisahnya riang, maka rezeki pun mengalir lebih deras. Menurut wanita berusia 40-an tahun tersebut, kawasan tempat tinggalnya merupakan area perlintasan gajah sejak lama. Material dan tanah timbun proyek tol bukan halangan bagi gajah untuk sekadar berjalan di hutan dan sebagian sudah ditanami sawit tersebut. "Katanya mau di­bangun terowongan. Baguslah, biar gajahnya tak terganggu," jelas Sakinah menunjuk ke beberapa terowongan dan di atasnya terdapat jalan lurus.

Terowongan yang sedang dibangun tampak dialiri air. Semacam sungai kecil, sedikit air. Namun inilah yang akhirnya menjadi bagian dari lima terowongan yang dibangun Hutama Karya di seksi 4 ruas jalan tol Pekanbaru-Dumai. Disebut sebagai terowongan gajah, atau underpass.

Gajah sumatera (elephas maximus sumatrae) di Indonesia tercatat dari data Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam ekspos di Pekanbaru pada sebuah acara Mei 2019 lalu, berjumlah 1.659 ekor. Di mana kurang 200 ekor gajah di antaranya tersebar di beberapa kantong habitat di Riau. Mulai di Mahato, Minas, Balai Raja, Giam Siak Kecil hingga Tesso Nilo.

Selain gajah, masih dari data pihak kementerian dimaksud, juga terdapat populasi harimau sumatera (panthera tigris sumatrae). Di mana untuk Riau jumlahnya tak sampai 70-an ekor dan tersebar di beberapa daerah dan kawasan hutan Riau.

Hutama Karya Infrastruktur selaku kontraktor pelaksana Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS) ruas Pekanbaru-Dumai (Jalan Tol Permai) sekaligus anak perusahaan dari PT Hutama Karya (Persero) (HK), mengungkapkan pekerjaan sudah rampung dan tinggal membenahi beberapa titik. Kali ini Direktur Utama HKI, Aji Prasetyanti menginformasikan terkait progress konstruksi Jalan Tol Permai.

Menurutnya, Tol Permai memiliki fitur unik karena di dalamnya turut dibangun enam underpass untuk perlintasan kawanan gajah. Selain Pekanbaru-Dumai, JTTS yang disebut juga memiliki terowongan gajah ada di Aceh-Sigli. Namun jumlah tero­wongan lebih sedikit dibanding yang dibangun di Riau.

Tol untuk Gajah
Dengan fasilitas khusus, underpass, gajah yang merupakan satwa dilindungi pun memiliki jalan tolnya sendiri. Dengan harapan bisa tetap bebas menjelajah di habitatnya, sehingga konflik dengan manusia dapat ditekan angkanya.

Gajah, harimau sumatera, tapir dan satwa liar lainnya memang mendapatkan tempat di sepanjang ruas jalan Tol Permai agar habitatnya tidak terusik. Ruas jalan bebas hambatan sepanjang 131 kilometer ini pun dipasang camera trap di beberapa titik.

Stakeholder terkait menyepakati perlu adanya kesepahaman bersama percepatan pembangunan infrastruktur tetap harus memperhatikan faktor kelestarian alam. Harmonisasi infrastruktur modern sejalan konservasi pun dilakukan dalam pekerjaan pembangunan ruas jalan Tol Permai.
 

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Penanganan Karhutla Diperkuat, Satu Helikopter Water Bombing Tiba di Pekanbaru

BNPB menambah satu helikopter water bombing di Riau. Kini tersedia enam armada udara untuk memperkuat…

8 jam ago

IKTS dan P3KPI Gandeng DJP Riau, Siap Sosialisasikan PP 20 Tahun 2026 untuk UMKM

IKTS dan P3KPI Pekanbaru berkolaborasi dengan DJP Riau untuk mengedukasi pelaku UMKM terkait penerapan PP…

9 jam ago

Dua Terduga Pelaku Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Anak Diamankan di Meranti

Polisi mengamankan dua terduga pelaku dalam kasus dugaan kekerasan seksual terhadap remaja 14 tahun di…

10 jam ago

Besok Pecahkan Rekor MURI Kue Talam Durian 1 Kilometer, CFD Pekanbaru Diperpanjang

Dishub Pekanbaru menerapkan rekayasa lalu lintas dan memperpanjang CFD untuk mendukung pemecahan rekor MURI Kue…

21 jam ago

Pendaftaran SPMB Riau Resmi Berakhir, Verifikasi Berkas Peserta Masih Berlangsung

Pendaftaran SPMB SMA dan SMK Negeri Riau resmi ditutup. Sekolah kini memverifikasi berkas peserta sebelum…

22 jam ago

Polemik Dana MBG Mengemuka, DJP Soroti Status Hibah dan Kepatuhan Pajak

DJP menyoroti status dana hibah MBG yang berpotensi menimbulkan risiko pajak. Di saat yang sama,…

1 hari ago