Categories: Nasional

Pemeriksaan Mantan Bendahara Penilap Zakat Hampir Tuntas

PEKANBARU, (RIAUPOS.CO) – Penyidikan kasus penilapan dana zakat oleh mantan bendahara Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Riau saat ini sudah hampir tuntas. Hal tersebut dikarenakan oknum tersebut sudah mengakui semua perbuatannya tersebut.

Kepala Inspektorat Riau Sigit Juli Hendrawan mengatakan, dari pemeriksaan pihaknya, hingga saat ini belum ada keterlibatan pihak lain pada penilapan dana zakat. Penilapan dana zakat itu murni dilakukan mantan bendahara sendiri. "Kesimpulan sementara, tunggal. Ini berdasarkan pengakuan yang bersangkutan, memang ia telah mengakui semuanya," kata Sigit kemarin.

Lebih lanjut dikatakannya, hal tersebut juga merujuk dari beberapa hasil pemeriksaan terhadap pihak lain yang berkaitan langsung dengan pengelolaan dana zakat di Bapenda tersebut. Begitu juga dari pihak Baznas. "Mantan bandahara Bapenda itu sendiri sudah beberapa kali diperiksa di Inspektorat Riau. Kemudian barang bukti penyetoran dana zakat sudah ada di Inspektorat," ujarnya.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan Inspektorat Riau ini, sejalan dengan pemeriksaan yang dilakukan internal Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Indra S Lubis di Bapenda pada akhir Februari lalu.
Menurut Indra, oknum tersebut mengakui dari total Rp1,4 miliar uang zakat yang terkumpul sejak akhir 2020 akhir hingga selama 2021, uang yang disetorkan hanya sebesar Rp300 juta ke Bank Riau untuk Baznas.

Sisanya, dana yang bersumber dari potongan dana 2,5 persen setiap pegawai di Bapenda ditilapnya sendiri dengan merekayasa laporan-laporan keuangan zakat.

"Kami selaku PPNS, sudah memanggil dan memeriksa mantan bendahara Bapenda. Dia mengakui perbuatannya, dan itu dilakukannya sendiri dengan merekayasa laporan-laporan keuangan, tanpa ada keterlibatan orang lain," ungkap Indra.

Selain mengakui perbuatan sendiri, mantan bendahara tersebut juga menyatakan bersedia akan mengganti semua perbuatan culasnya, dengan cara menjual aset-aset yang dimilikinya.

Di antaranya, dengan menjual rumah, mobil termasuk ruko. Dengan rincian, ruko di Kota Dumai senilai Rp700 juta, mobil Toyota Camry senilai Rp300 juta lebih. Aset-aset berharga tersebut dijualnya, untuk mengganti uang zakat yang ditilapnya.

"Waktu BAP, dia sempat menyodorkan sertifikat ruko, rumah, BPKB mobil. Ada juga uang cash Rp50 juta untuk mengganti atas perbuatannya," paparnya.(sol)

 

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

APBD Terbatas, Meranti Andalkan Program IJD untuk Benahi 9,6 Km Jalan

Pemkab Kepulauan Meranti mengusulkan tiga ruas jalan sepanjang 9,6 km masuk program IJD dengan kebutuhan…

4 jam ago

Kabut Asap Karhutla Kembali Selimuti Pekanbaru, Polusi Tertinggi Ketiga di Indonesia

Kabut asap karhutla masih menyelimuti Pekanbaru. Kualitas udara memburuk, AQI mencapai 171 dan 156 titik…

5 jam ago

Bentrokan Konflik Lahan 80 Hektare di Kuansing, 9 Orang Terluka

Bentrokan dua kelompok terkait konflik lahan 80 hektare terjadi di Kuansing. Sembilan orang terluka dan…

6 jam ago

Jalan Sontang-Duri Kembali Berlumpur, Truk Bermuatan Berat Banyak Terjebak

Jalan Sontang-Duri kembali rusak setelah hujan menggerus timbunan. Truk bermuatan berat kesulitan melintas dan terjebak…

6 jam ago

Erupsi 4 Gunung Bikin 8 Bandara Ditutup, 35 Penerbangan Pekanbaru-Jakarta Batal

Erupsi empat gunung mengganggu penerbangan. Sebanyak 35 penerbangan dari dan ke Pekanbaru batal setelah delapan…

6 jam ago

Distribusi Tersendat, Semen di Rohul Langka hingga Warga Harus Antre

Kelangkaan semen di Rohul hampir sebulan membuat warga harus booking. Omzet toko bangunan turun hingga…

6 jam ago