usai-divaksin-covid-tetap-harus-pakai-masker-ini-alasan-ilmiahnya
JAKARTA ( RIAUPOS.CO) – Setelah divaksin Covid-19 bukan berarti seseorang bisa bebas mengabaikan protokol kesehatan seperti melepas masker. Sebab vaksin membutuhkan waktu untuk membentuk antibodi di dalam tubuh.
Apalagi, saat kita divaksin, populasi dunia belum seluruhnya ikut divaksin. Maka kekebalan kawanan (herd immunity) belum terbentuk.
Para ahli mengatakan siapapun harus tetap memakai masker wajah dan secara ketat menjaga jarak fisik meskipun sudah divaksinasi. Seorang dokter darurat dan direktur fakultas Urban Health Lab di University of Pennsylvania,
Eugenia South, adalah salah satu tenaga medis yang mendapatkan vaksinasi. Namun dia masih konsisten pakai masker saat bekerja.
Pakar kesehatan mengatakan bahwa ada alasan bagus mengapa kita harus mengikuti teladan Dr. South. “Masker dan jarak sosial perlu terus berlanjut di masa mendatang, sampai kita memiliki tingkat kekebalan kawanan tertentu,” kata Kepala Petugas Kesehatan dari Universitas Michigan dr. Preeti Malani seperti dilansir dari Science Times, Selasa (19/1).
Berikut 5 Alasan Pentingnya Tetap Memakai Masker :
Berbagai uji klinis telah menemukan bahwa Pfizer-BioNTech dan Moderna memiliki tingkat keefektifan yang lebih tinggi daripada vaksin lain yaitu 95 persen. “Meskipun hasilnya mengesankan, 1-20 masih berpeluang tidak terlindungi,” kata mantan direktur CDC dr. Tom Frieden,
Vaksin tidak efektif segera setelah Anda menerima dosisnya. Seringkali dibutuhkan sekitar dua minggu bagi sistem kekebalan untuk membuat antibodi yang memblokir infeksi.
Vaksin C9vid-19 membutuhkan waktu inokulasi yang lebih lama dibandingkan.
Singkatnya, perlindungan penuh dari Covid tidak akan langsung terwujud sampai minggu ke-5 atau ke-6 setelah dosis pertama vaksin.
Vaksin dapat memiliki dua tingkat perlindungan yakni perlindungan dari penyebab infeksi dan penyebaran virus ke orang lain. Namun, penasihat National Institutes of Health dan Food and Drug Administration, De. Paul Offit,
menyatakan bahwa vaksin flu dan sejenisnya tidak mencegah orang menjadi pembawa virus. Meskipun vaksin Covid-19 mencegah penyakit, para ilmuwan perlu melakukan lebih banyak eksperimen dan uji coba untuk menentukan apakah mereka juga mencegah penularan lokal.
Orang dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya seperti kanker, masalah paru-paru, dan penyakit kardiovaskular berisiko lebih besar terkena Covid-19. Studi menunjukkan bahwa orang-orang ini memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular penyakit dan kematian. Penderita kanker lebih rentan karena sistem kekebalan mereka melemah saat menjalani kemoterapi dan pengobatan radiasi, sehingga lebih sulit untuk melawan pneumonia. Penting bagi mereka tetap memakai masker.
Para ahli prihatin dengan varian genetik baru dari virus corona yang tampaknya 50 persen lebih menular. Meskipun penelitian menunjukkan bahwa vaksin masih efektif melawan strain baru, tindakan kesehatan masyarakat seperti menjaga jarak secara fisik dan menghindari kerumunan mengurangi risiko tertular strain baru.
Sumber: Jawapos.com
Editor: E Sulaiman
Capella Honda Riau menghadirkan Gebyar Musim Ganti Oli di awal 2026 dengan berbagai paket servis…
LG StanbyME 2 resmi hadir di Indonesia dengan layar lepas-pasang, resolusi QHD, dan dukungan kendali…
Gerakan literasi digencarkan, tetapi nasib sastrawan masih terpinggirkan. Artikel ini mengulas pentingnya peran negara memanusiakan…
Jonatan Christie melaju ke final India Open 2026 setelah menaklukkan Loh Kean Yew lewat laga…
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho menghadiri Isra Mikraj di Masjid Al Kautsar sekaligus menyerahkan bantuan…
Ruas Jalan Teluk Kuantan–Cerenti amblas sepanjang 20 meter di kawasan Pasar Cerenti. Pengendara diminta waspada,…