huawei-bikin-retak-aliansi-five-eyes
CANBERRA (RIAUPOS.CO) — Hubungan Inggris dan Australia merenggang. Penyebabnya adalah teknologi 5G Huawei. Inggris menerbitkan kebijakan yang tidak sama dengan keputusan empat negara lain anggota Aliansi Five Eyes terhadap perusahaan teknologi asal Cina tersebut. Akibatnya, Australia membatalkan rencana lawatannya ke Negeri Big Ben itu.
Sedianya, komisi intelijen parlemen Australia berkunjung ke Inggris pada Maret mendatang. Sabtu lalu (15/2) Canberra mengumumkan pembatalan. Bukannya ke London, komisi intelijen justru akan bertolak ke Washington akhir bulan depan. "Kami menuruti saran Komisioner Tinggi Australia untuk Inggris. Menurut mereka, komisi intelijen parlemen Inggris belum terbentuk," terang parlemen Australia dalam cuitan pada akun resmi Twitter mereka.
Secara formal, memang alasan itulah yang disampaikan Australia. Tapi, percakapan tertutup Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab dan Wakil Ketua Komisi Intelijen Parlemen Australia Anthony Byrne yang bocor ke publik mengungkapkan hal lain. Saat menerima kunjungan Raab pekan lalu, Byrne sempat mengungkapkan kekesalannya soal kebijakan Inggris terhadap Huawei.
Australia kesal karena Inggris mengizinkan penggunaan teknologi 5G Huawei secara terbatas di wilayahnya. "Bagaimana perasaan Anda jika Rusia datang dan memasang infrastruktur telekomunikasi di wilayah Anda. Itulah perasaan kami terkait Huawei," ujar Byrne kepada Raab pada Kamis lalu (13/2) sebagaimana dilansir Sydney Morning Herald.
Kepada Raab, Byrne menegaskan bahwa keputusan Inggris itu tidak hanya mengecewakan Australia. Tapi, juga sekutu intelijen lain yang tergabung dalam Aliansi Five Eyes. Yakni, AS, Kanada, dan Selandia Baru. Sama dengan Australia, AS dan Selandia Baru juga menolak teknologi 5G Huawei. Kanada pun mungkin menerbitkan kebijakan yang sama.
Bocornya percakapan yang bersifat rahasia itu sempat membuat Komisioner Tinggi Inggris untuk Australia Vicki Treadell berang. Dia pun mengirimkan surat protes ke parlemen Australia. Mengapa? Sebab, dalam laporannya pekan lalu, Treadell menjelaskan bahwa pertemuan Raab dan Byrne berjalan lancar. Memang, tujuan pertemuan saat itu adalah memetakan kembali kerja sama dua negara pasca-British Exit (Brexit).
"Jika memang itu sikap Inggris, kami lebih baik mengunjungi AS yang bisa lebih kami percaya," ungkap salah seorang anggota komisi intelijen Australia kepada ABC.
Reaksi sejumlah politikus Australia itu membuat pemerintahan Perdana Menteri (PM) Scott Morrison repot. Akhir pekan lalu Canberra berusaha mengelak dari kabar bahwa Australia sedang bersitegang dengan Inggris.(bil/c10/hep/jpg)
Satpol PP Kuansing patroli hari pertama Ramadan, pastikan rumah makan di Teluk Kuantan tutup hingga…
Sebanyak 27 calon jemaah haji Riau menunda atau batal berangkat 2026 karena faktor kesehatan dan…
Penimbunan Jalintim KM 75 Pangkalankerinci selesai 300 meter, sistem buka tutup masih berlaku hingga proyek…
Ratusan napi Lapas Kelas IIA Pekanbaru khusyuk salat Tarawih bersama Kalapas pada malam pertama Ramadan…
Grand Zuri Duri gelar Corporate Gathering Ramadan 2026, perkenalkan konsep “Sajian Nusantara” untuk berbuka puasa.
PTPN IV Regional III dukung tradisi Balimau Kasai di Tandun, Rokan Hulu, sebagai wujud pelestarian…