Categories: Nasional

Dukung Percepatan Riset Obat dan Makanan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Riset dan pengembangan obat dan makanan terus d­ilakukan. Harapannya, ketergantungan dengan luar negeri lambat laun dikurangi. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) berupaya untuk mendukung hal ini.

Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Produk Fitofarmaka serta Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Produk Biologi milik BPOM sudah ditetapkan pada 13 September lalu melalui SK Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. "BPOM melakukan pendampingan kepada peneliti dan pelaku usaha," ungkap Kepala Badan POM RI, Penny K Lukito.

Tujuan pendampingan tersebut untuk mengawal produk inovasi riset yang siap dihilirisasi dapat memenuhi persyaratan untuk memperoleh izin edar. Penny menyampaikan bahwa terdapat produk hasil riset yang sudah berhasil mendapatkan izin edar, yaitu Stem Cell produksi Pusat Pengembangan Penelitian Stem Cell Universitas Airlangga Surabaya bersama PT Phapros dan Albumin yang berasal dari ikan gabus yang dikembangkan oleh Universitas Hasanudin Makassar bersama PT Royal Medika.

"Selain itu, terdapat produk biologi yang sedang dikembangkan yaitu enoxaparin bersumber domba, trastuzumab, dan sejumlah vaksin antara lain MR, Hepatitis B, Tifoid, Rotavirus, Polio," katanya.

Produk lainnya adalah obat tradisional. Antara lain ekstrak seledri, binahong, daun kelor, daun gambir, dan bajakah. Pada produk darah dilakukan pengembangan industri fraksionasi plasma.  Langkah awal untuk penyediaan bahan baku plasma adalah dengan melakukan pendampingan dan percepatan sertifikasi Cara Produksi Obat yang Baik (CPOB) Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI).

"Hingga saat ini telah tersertifikasi 13 UTD PMI dan empat sertifikat CPOB diantaranya akan diserahkan secara resmi pada kegiatan ini," bebernya.

Penny  menegaskan BPOM berkomitmen untuk terus menjalankan Instruksi Presiden No 6 Tahun 2016 dengan mendorong percepatan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri obat, obat tradisional, dan pangan di Indonesia.

Sebagai otoritas obat dan makanan di Indonesia, BPOM melakukan pengawalan sepanjang produksi hingga post-market.  "Siklus ini merupakan unsur kritikal bagi efektivitas perlindungan masyarakat dari risiko Obat dan Makanan yang membahayakan kesehatan masyarakat," tutur Penny.(lyn/jpg)

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Tekan Balap Liar dan Knalpot Brong, Polisi Sita 12 Motor di Pekanbaru

Satlantas Polresta Pekanbaru menggelar patroli Blue Light dini hari dan mengamankan 12 sepeda motor pelanggar…

10 jam ago

Inovasi Layanan Umrah, Menang Tour & Travel Launching MMC

PT Butala Menang Abadi meluncurkan Menang Member Card di awal 2026 untuk mempermudah jemaah umrah…

11 jam ago

Baznas Riau Catat Zakat ASN Pemprov Riau Tembus Rp52 Miliar

Baznas Riau mencatat zakat ASN Pemprov Riau tahun 2025 mencapai Rp52,5 miliar dan terus mengoptimalkan…

11 jam ago

Penolakan Relokasi Menguat, Masyarakat Cerenti Tanda Tangani Petisi

Masyarakat Cerenti menggelar aksi damai dan menandatangani petisi menolak rencana relokasi warga TNTN ke Desa…

11 jam ago

Kantin SDN 169 Pekanbaru Terbakar Dini Hari, Damkar Kerahkan 5 Unit

Kantin SDN 169 Pekanbaru terbakar dini hari. Lima unit damkar dikerahkan untuk memadamkan api dan…

12 jam ago

Dermaga Peranggas Meranti Kian Memprihatinkan, DPRD Minta Perhatian Pemerintah

Dermaga Peranggas di Kepulauan Meranti kian memprihatinkan dan dinilai tak layak pakai. DPRD mendesak pemerintah…

12 jam ago