Categories: Nasional

Sebelum Vaksin Covid-19 Ditemukan, Status Lockdown Bakal Terus Berulang

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Setiap negara punya kebijakan masing-masing dalam menentukan situasi darurat di tengah pandemi Covid-19. Ada yang menerapkan lockdown atau penguncian, karantina wilayah, pembatasan sosial memutus mata rantai, semi lockdown, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti di Indonesia.

Sebagai contoh di Singapura, status semi lockdown diisyaratkan bisa terus diperpanjang beberapa bulan sampai vaksin berhasil dikembangkan. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Saw Swee Hock, Singapura, Selasa (14/4) Profesor Teo Yik Ying, dalam webinar yang diselenggarakan oleh Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew (LKYSPP), mengatakan, usaha untuk menutup kantor dan sekolah dapat menyebabkan penularan di masyarakat lebih rendah dalam satu hingga dua minggu ke depan.

Tapi dikatakan, semua status itu dinilai akan terus berulang atau diperpanjang sampai vaksin Covid-19 ditemukan. Prof Teo mengatakan negara-negara di seluruh dunia telah membuat keputusan sepihak tentang kapan harus menutup dan membuka kembali perbatasan mereka. Dia mencontohkan China terbukti mengalami gelombang infeksi kedua setelah lockdown dibuka.

“Ini berarti bahwa pembatasan perbatasan di seluruh dunia harus tetap diberlakukan selama beberapa waktu,” katanya.

“Kalaupun dibuka kembali harus ada strategi jangka pendek seperti jaminin atau sertifikat kekebalan bebas virus corona agar bisa kembali bekerja,” jelas Prof Teo.

“Sebab situasi ini tidak hanya akan menjadi maraton, tetapi serangkaian sprint berulang,” katanya.

Hal senada diungkapkan profesor tamu LKYSPP Tikki Pangestu. Dia mengatakan, masih banyak yang tidak diketahui seputar penularan dan tingkat kematian sebenarnya dari virus corona.

“Standar tata kelola yang berbeda dan kurangnya koordinasi global juga membuat sulit untuk memperkirakan kapan pandemi akan berakhir,” katanya seperti dilansir dari AsiaOne, Rabu (15/4).

Ekonom Senior dan Direktur Pusat Penelitian Ekonomi dan Sosial di University of Southern California Associate Professor, Joanne Yoong, mengakui bahwa strategi ini menimbulkan tantangan ekonomi. Yang memperparah adalah keletihan psikologis yang terjadi ketika orang dipaksa untuk menahan kuncian yang panjang.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Agung Nugroho Wajibkan Seluruh Provider Ikut Bereskan Kabel FO Semrawut di Pekanbaru

Pemko Pekanbaru mewajibkan seluruh provider internet ikut menata kabel fiber optic ilegal. Penertiban dilakukan bertahap…

4 jam ago

Diduga Kompresor Mati Saat Menyelam, Pria di Sungai Indragiri Masih Hilang

Seorang penyelam di Inhil diduga tenggelam setelah kompresor udara mati saat evakuasi kapal. Tim gabungan…

4 jam ago

Lima Tahun Direstorasi, Mangrove Teluk Pambang Bengkalis Kini Jadi Sorotan Dunia

Restorasi mangrove Teluk Pambang di Bengkalis selama lima tahun membuahkan hasil. Kawasan kini pulih, menarik…

5 jam ago

Pemko Pekanbaru Tegaskan Komitmen Berantas LGBT, Satpol PP Diminta Perketat Pengawasan

Pemko Pekanbaru menyiapkan pembinaan, penyuluhan, dan penindakan untuk mencegah LGBT dengan melibatkan Satpol PP, mubalig,…

5 jam ago

UPTJJ Wilayah VI Tuntaskan Sejumlah Ruas Jalan Rusak di Rohul

Pemprov Riau mempercepat perbaikan jalan provinsi di Rokan Hulu. Sejumlah ruas telah kembali fungsional, sementara…

5 jam ago

Junaidi Resmi Jadi Tersangka OTT di Siak, Polisi Dalami Dugaan Kasus Kapal Gratis

Polres Siak menetapkan Kadishub Junaidi sebagai tersangka OTT terkait program kapal gratis. Penyidik masih mendalami…

6 jam ago