Categories: Nasional

Dampak Pandemi, Mulai Deteksi Dini Kesehatan Jiwa

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pandemi Covid-19 menuntut masyarakat untuk bisa beradaptasi dengan kehidupan baru. Aktivitas yang biasa di tempat kerja (perkantoran), sekolah, kampus, dan tempat umum kini banyak dilakukan di rumah. Hal itu tentu membuat sebagian masyarakat mengalami masalah kesehatan psikologis.

Dosen Bidang Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Atika Dian Ariana mengatakan, berdasar laporan dari layanan SEJIWA, platform penyedia konsultasi psikologi, ternyata banyak kasus kesehatan jiwa yang dialami masyarakat Indonesia selama pandemi.

’’Mulai gangguan kognisi, gangguan emosi dan afeksi, gangguan perilaku, hingga psikosomatis,” katanya. Gangguan fisik yang arahnya psikosomatis disebabkan budaya kolektif masyarakat Indonesia sehingga mereka malu mengakui bahwa dirinya mengalami keluhan gangguan psikologis.

’’Jadi, itu adalah manifestasi beberapa perasaan emosi,” ujar dia.

Atika menuturkan, penting sekali melakukan deteksi dini terhadap gangguan psikologis. Hal itu bisa dilakukan siapa pun. Termasuk mereka yang nonprofessional, tetapi memiliki kedekatan relasi.

’’Semua orang punya tanggung jawab untuk memperhatikan lingkungan terdekatnya. Harus lebih peka terhadap perubahan perilaku dan emosi yang ditunjukkan oleh orang-orang terdekat,” jelasnya.

Berbagai perubahan perilaku dan emosi, lanjut dia, bisa berupa menarik diri secara sosial, menurunnya motivasi untuk mengerjakan hal-hal yang merupakan hobinya, hingga perubahan emosi yang ekstrem.

’’Caranya, kita bisa mendekati, mendengarkan, dan memberikan perhatian. Banyak orang yang cukup terbantu dengan dukungan awal yang diberikan oleh orang-orang terdekatnya,” imbuhnya.

Atika menjelaskan, jika perubahan-perubahan perilaku yang dialami cenderung menetap dan membahayakan diri sendiri dan orang lain, sudah seharusnya mereka mencari bantuan profesional.

’’Ketika sudah menunjukkan perilaku seperti itu, wajib datang ke yang profesional,” kata dia.

Kepala prodi S-1 psikologi Unair itu menambahkan, self care atau peduli terhadap diri sendiri sangat penting. Ketika merasa ada gangguan, tetapi tidak bisa diatasi sendiri, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional.

Atika mengatakan, bantuan profesional dapat diberikan oleh psikolog atau psikiater. Layanan tersebut dapat diperoleh dari mana saja. Bahkan, sudah banyak layanan virtual yang diberikan psikolog atau psikiater.

’’Layanan psikolog dan psikiater sebenarnya sangat dekat dan bisa saling kerja sama. Masyarakat tinggal pilih satu atau dua dari tenaga profesional tersebut,” katanya.

 

Sumber: Jawapos.com

Editor: E Sulaiman

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Seleksi Komisaris PT BLJ Resmi Dibuka, Ini Pesan Pemkab Bengkalis kepada Peserta

Pemkab Bengkalis membuka seleksi Komisaris PT BLJ. Empat peserta mengikuti serangkaian uji kelayakan dan kepatutan…

1 hari ago

BPBD Catat 20 Bangunan Terdampak Abrasi di Kuala Enok dalam Tiga Hari

Abrasi yang melanda Kuala Enok selama tiga hari merusak 20 bangunan dan fasilitas umum. Kerugian…

1 hari ago

Jadi Saksi di Sidang Korupsi Abdul Wahid, UAS Ungkap Fakta di Balik Pilgub Riau

Kesaksian UAS di sidang Abdul Wahid mengungkap perjalanan politik, dukungan Pilgub Riau, hingga konflik kepemimpinan…

1 hari ago

Pameran Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning Resmi Dibuka, Angkat Warisan Budaya ke Ruang Kreatif

Pameran Khat Melayu dan Re-Imaji Lancang Kuning di Galeri Hang Nadim hadirkan karya seni yang…

2 hari ago

PLN UIP Sumbagteng Gelar Fun Walk di Bukittinggi, Perkuat Kebersamaan dan Budaya Hidup Sehat

PLN UIP Sumbagteng menggelar Fun Walk dalam Wellbeing Day di Bukittinggi untuk memperkuat kesehatan, sinergi,…

2 hari ago

Senat Unri Sahkan Delapan Bakal Calon Rektor, Tahapan Penentuan Tiga Kandidat Segera Digelar

Senat Universitas Riau menetapkan delapan bakal calon rektor periode 2026-2030. Tahap penyaringan dan penetapan tiga…

2 hari ago