Categories: Nasional

Justin Bieber Idap Ramsay Hunt Syndrome, Benarkah Akibat Vaksin Covid?

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Penyanyi Justin Bieber secara mengejutkan mengumumkan kepada para penggemar melalui akun media sosial bahwa dirinya mengalami ramsay hunt syndrome. Akibat virus yang bersarang di tubuhnya tersebut, Bieber harus menunda sementara gelaran tour konsernya yang mengusung tajuk Justice World Tour.

Bieber kini masih fokus beristirahat sementara waktu sampai kondisinya semakin membaik. Ramsay hunt syndrome yang menyerang Justin Bieber kemungkinan sudah di taraf cukup parah. Sebab dia mengaku tidak bisa tersenyum dan lubang hidungnya tidak bisa bergerak setelah virus ini menyerang saraf bagian telinga dan saraf wajahnya. Dia bahkan mengaku wajahnya mengalami kelumpuhan.

Sempat muncul selentingan kabar bahwa ramsay hunt syndrome yang diderita Justin Bieber diakibatkan oleh vaksin Covid-19. Benarkah demikian ?

Terkait pertanyaan tersebut, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Zubairi Djoerban mengatakan bahwa sampai saat ini tidak ada data valid yang menghubungkan antara virus ini dengan vaksin Covid-19.

“Belum ada bukti. Yang jelas, sindrom ini sudah ada obatnya di Indonesia dan tersedia juga di apotek-apotek,” cuit Prof. Zubairi Djoerban di akun Twitter pribadinya.

Dia menyatakan, ramsay hunt syndrome biasanya menyerang orang dewasa dan jarang sekali terjadi pada anak anak.Orang yang mengidap virus ini memiliki memiliki gejala seperti gendang telinga terasa sakit, mengalami gangguan pendengaran, kesulitan menutup salah satu mata, vertigo, bahkan menyebababkan kelumpuhan pada wajah.

Untuk memastikan apakah seseorang menderita ramsay hunt syndrome atau tidak dengan cara melakukan tes darah dan kulit untuk virus varicella-zoster, elektromiografi (EMG), atau magnetic resonance imaging (MRI).

Kabar baiknya, menurut Prof Zubairi Djoerban, ramsay hunt syndrome peluang pemulihannya sangat tinggi selama ditangani dengan benar.

“Dari studi disebutkan bahwa tingkat pemulihan cukup tinggi, yakni di atas 70 persen. Tentu harus dengan pendekatan medis yang tepat,” ujarnya.

Virus ini sebenarnya bukan lah virus baru. Terbukti obatnya sudah ada sejak dulu. Pada tahun 1982 silam, Prof. Zubairi Djoerban menyatakan sudah ada obat yang digunakan untuk penyakit ini, yaitu Acyclovir. Namun seiring adanya kemajuan zaman, ditemukan obat yang lebih mumpuni, yakni Valacyclovir.

“Variasi obat lain? Jadi ada tiga pilihan: Acyclovir, Famciclovir, dan Valacyclovir. Dari pengalaman saya, Valacyclovir lebih baik ditambah obat steroid (seperti Prednison). Kombinasi itu membuat penyembuhannya lebih cepat,” jelas Prof Zubairi Djoerban.

Sumber: Jawapos.com

Editor: Edwar Yaman

 

 

Eka Gusmadi Putra

Share
Published by
Eka Gusmadi Putra

Recent Posts

Dosen Unilak Bekali Siswa SMKN 1 Kandis Jurus Branding Digital dan Hitung Harga Jual

Dosen Unilak membekali siswa SMKN 1 Kandis dengan kemampuan digital branding dan menghitung HPP untuk…

9 jam ago

Air Sungai Singingi Kembali Keruh, PETI Diduga Jadi Penyebab

Air Sungai Singingi kembali keruh setelah PETI diduga beraksi. Warga meminta aparat meningkatkan razia demi…

9 jam ago

Tempuh 192 Km Selama 22 Jam, Goweser Paliko Siap Meriahkan Gowes Merdeka 2026

Tempuh 192 km selama 22 jam, tiga Goweser Paliko dari Payakumbuh dan Limapuluh Kota hadir…

9 jam ago

Gowes Merdeka 2026 Dimulai, 1.500 Peserta Taklukkan Rute 17 Km di Pekanbaru

Sebanyak 1.500 peserta meramaikan Gowes Merdeka 2026 di Pekanbaru dengan menempuh rute 17 kilometer hingga…

9 jam ago

Kasus Suap Jabatan Kuansing Naik ke Penuntutan, Dua Tersangka Segera Disidang

KPK menyerahkan Zulkarnain dan Ardiles ke jaksa dalam kasus suap jabatan Kuansing. Penyidikan masih dikembangkan…

2 hari ago

Dihadiri 5.133 Mahasiswa Baru, PBAK UIN Suska Riau Tekankan Kepemimpinan Muda

Sebanyak 5.133 mahasiswa baru UIN Suska Riau mengikuti PBAK 2026 dengan pembekalan kepemimpinan, karakter, integritas…

2 hari ago