Categories: Nasional

Buron Pembobol BNI Diekstradisi Bukan Kelas Kakap

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menilai, ekstradisi terhadap buronan pembobol Bank BNI, Maria Pauline Lumowa merupakan serangkaian adegan atau gimik yang dilakukan Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Hamonangan Laoly. Menurutnya, hal tersebut untuk menutupi lolosnya buronan Harun Masiku dan Djoko Tjandra yang diklaim tak terdeteksi Ditjen Imigrasi.

"Bisa jadi yang dilakukan Menkumham meski itu suatu keberhasilan, tapi juga bisa jadi menutupi kekurangannya, terutama lembaga Imigrasi yang sering kebobolan seperti Harun Masiku yang sampai kini belum juga tertangkap. Gajah depan mata sering tak sengaja tak ditampakkan," kata Fickar dikonfirmasi, Jumat (10/7).

Akademisi Universitas Trisakti ini memandang, buronan yang berhasil diringkus pemerintah maupun aparat penegak hukum bukan kategori kelas kakap. Dia meminta tak pandang bulu dalam menangani kasus hukum.

"Buronan yang dapat ditangkap umumnya yang tidak terlalu kuat di back up pendanaan maupun jaringannya di Indonesia. Bagi buronan yang kuat financialnya seperti Djoko Tjandra tentu lain lagi. Dia bolak balik lenggang kangkung tanpa ditangkap, bahkan bisa buat e-KTP dan Paspor," ucap Fickar.

Kendati demikian, Fickar mengapresiasi Yasonna yang berhasil mengekstradisi Maria yang telah menjadi buronan selama 17 tahun. Lantaran, kerja sama bantuan hukum antar negara semakin efektif.

"Dari sudut perkembangan penanganan kasus pidana terhadap para buronan, ini sebuah perstiwa yang menggembirakan," pungkasnya.

Terpisah, Menkumham Yasonna Laoly berdalih, kedatangan Djoko Tjandra tak terekam dalam data perlintasan sistem keimigrasian. Dia mengklaim, pihaknya bersama Kejagung tengah memburu Djoko Tjandra yang merupakan Direktur PT Era Giat Prima (EGP).

"Tentang Djoko Tjandra, Kejaksaan sedang memburu, kita bekerja sama. Kemarin ada info masuk di Indonesia, kita cek data perlintasan sama sekali enggak ada. Biar jadi penelitian selanjutnya," kata Yasonna di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (9/7).

Sementara terkait Harun Masiku, Yasonna pernah menyampaikan jika saat itu terjadi perbaikan sistem keimigrasian ketika Harun Masiku tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada awal Januari 2020 lalu. Namun, hingga kini aparat penegak hukum, khususnya KPK belum berhasil meringkus kader PDI Perjuangan itu.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Pastikan UMK 2026 Dipatuhi, Pemko Pekanbaru Sidak Hotel dan Rumah Sakit

Disnaker Pekanbaru memperketat pengawasan UMK 2026 dengan menyidak hotel dan rumah sakit untuk memastikan gaji…

20 jam ago

Jelang Riau Pos Fun Bike 2026, Peserta Perorangan Tunjukkan Antusiasme Tinggi

Menjelang Riau Pos Fun Bike 2026, antusiasme peserta perorangan terus meningkat. Iven gowes massal ini…

21 jam ago

Tersedak Paku Masuk ke Paru-Paru, RSUD Arifin Achmad Tangani Tanpa Operasi

RSUD Arifin Achmad berhasil menangani kasus langka pasien tersedak paku hingga ke paru-paru tanpa operasi…

21 jam ago

Polisi Bongkar Dugaan TPPO di Bengkalis, 12 Orang Diamankan

Polres Bengkalis menggerebek rumah di Bandar Laksamana yang diduga jadi penampungan PMI ilegal. Empat terduga…

21 jam ago

Belajar Jadi Jurnalis, Puluhan Siswa SMP Global Andalan Kunjungi Redaksi Riau Pos

Puluhan siswa SMP Global Andalan mengikuti outing class ke Riau Pos untuk belajar jurnalistik, mengenal…

22 jam ago

Wali Kota Turun Langsung, New Paragon KTV Disegel Usai Video Viral

Pemko Pekanbaru menyegel New Paragon KTV usai viral video pesta waria. Pemeriksaan masih berlangsung, izin…

2 hari ago