Categories: Nasional

Manajemen Stres Dimasa Pandemi Covid-19

(RIAUPOS.CO) – Covid-19 adalah penyakit virus corona yang ditemukan pada tahun 2019 dan dilaporkan ke WHO. Covid-19 telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Merebaknya wabah ini pun meningkatkan jumlah kasus positif terjangkit Covid-19. Akibatnya, di seluruh dunia termasuk Indonesia mengalami dampak krisis kesehatan dan ekonomi. Kehidupan semua masyarakat seolah terhenti karena ada pembatasan, seperti halnya sekolah, bekerja, pelayanan kesehatan, dll. Hal ini tidak dipungkiri dapat menyebabkan kepanikan, ketakutan dan kecemasan pada masyarakat. Maka dari itu, perlu buat masyarakat untuk mengelola stres di saat pandemi dan pembatasan sosial ini berlangsung.

Apa saja tanda-tanda seseorang yang mengalami stres, terumata pada masa pandemi Covid-19 ini? Tanda-tandanya antara lain, memiliki rasa khawatir atau takut yang berlebihan sehingga berpikir yang tidak rasional, memiliki pikiran negatif terhadap orang yang memiliki tanda-tanda penderita, mencari berita mengenai Covid-19 yang berlebihan sehingga tidak dapat memilah berita yang akurat, sehingga akan memunculkan kecemasan yang membuat seseorang mengalami sulit tidur, sakit kepala, dan sakit fisik lainnya. Oleh sebab itu, mengatur atau mengelola stres pada masa ini sangat penting.

Manajemen stres dapat diartikan sebagai tindakan untuk mengendalikan, mengelola, mengatur stres. Stres sendiri dapat diartikan sebagai reaksi tubuh baik secara psikis maupun fisik karena adanya tekanan ataupun ketegangan dari luar. Disaat pandemi ini yang menjadi sumber stres (stressor) adalah berita mengenai Covid-19 dan pembatasan sosial yang dilakukan oleh pemerintah yang berdampak negatif bagi masyarakat. Stres memang tidak dapat kita hindari, melainkan bagaimana seseorang dapat meminimalisir stres tersebut sehingga masih dapat bertindak positif.

Hal-hal yang perlu kita ketahui dalam mengelola stres antara lain adalah dengan mengenali dulu perasaan yang penuh dengan tekanan, berusaha untuk mengalihkan perhatian, melakukan kegiatan positif sehingga memunculkan perasaan positif dan mengenali respons yang efisien bagi diri sendiri. Pada saat pandemi Covid-19 ini pun ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar stres dapat dikendalikan, antara lain dengan melakukan kegiatan positif bersama keluarga di rumah, tetap mengikutin anjuran dari pemerintah, menjaga imunitas tubuh, tetap menjalin komunikasi dengan rekan atau keluarga jauh melalui aplikasi dan yang penting selalu berpikir positif.

Ketika individu mengalami stres, hal ini akan berdampak pada kesehatannya. Jika stres yang dialami individu rendah (eustress), bisa membantu untuk meningkatkan produktivitas kerja dan berdampak negatif pada kesehatan. Akan tetapi, jika stres yang dialami individu sudah tinggi dan terjadi terus menerus akan mempengaruhi kesehatan. Ketika stres sudah menjadi kronis dan menimbulkan gejala-gejala seperti migrain, penyakit jantung dan stroke, diabetes, tekanan darah tinggi, depresi, dan gangguan kecemasan. Dan akan sangat berpengaruh pada individu yang sudah memiliki riwayat penyakit kronis sebelumnya.

Dalam kondisi pandemi corona ini pun sangat wajar jika seseorang akan mengalami gejala susah tidur, mudah gelisah, sakit kepala, mual, tidak selera makan, tidak ingin melakukan aktivitas atau bahkan mengalami mimpi buruk. Dan jika hal ini berjalan terus menerus dan berlangsung selama lebih dari 1 bulan akan menjadi stres tingkat tinggi dan jika individu mengalami gejala tersebut dapat menghubungi profesional untuk membantu mengatasinya. Hal apa saja yang harus dihindari agar stres yang dialami tidak menjadi tinggi dan kronis terutama selama menghadapi masa pandemi ini? dapat kita lihat beberapa hal yang harus dihindari, yaitu mencari informasi sebanyak-banyaknya tanpa mengecek kebenarannya, memiliki produktivitas dan aktivitas yang rendah, dan berpikir negatif. Hal-hal tersebut dapat memunculkan kepanikan bagi individu, sehingga akan menngkatkan stres yang juga akan mempengaruhi imunitas tubuh.

Apa yang harus dilakukan individu untuk terhindar dari stres yang berlebih atau memiliki tingkat stres yang tinggi? Hal yang perlu disadari bagi seorang individu adalah bagaimana ia dapat mengenali sumber stres ( stressor) dan apa reaksi bagi tubuhnya, sehingga ketika individu tersebut dapat mengenalinya maka ia akan mudah untuk mengatasinya. Lalu yang selanjutanya adalah mengendalikan atau mengalihkan dari sumber stres tersebut. Dan yang terakhir seseorang harus melakukan kegiatan positif yang membantunya untuk selalu berpikir positif untuk meningkatkatkan daya tahan tubuh serta menjaga kesehatan.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahayanya jika mengalami stres yang terus menerus, maka harus mengenali respon atau reaksi pada tubuh yang dapat ditandai dengan menurunnya daya tahan tubuh, mengalami kecemasan yang berlebihan dan rendahnya minat untuk beraktivitas. Jika Anda mengalami hal tersebut ataupun orang terdekat memiliki ciri-ciri seseorang yang memiliki gejala tingkat stres tinggi dan telah berlangsung cukup lama selama masa pandemi corona ini, maka Anda dapat berkonsultasi ke profesional. Sebab, jika ini tidak dapat tertangani dengan tepat dan cepat akan menimbulkan menurunnya kesehatan fisik dan mental seseorang.

Bagaimana menghadapi masa pandemi corona ini selama bulan Ramadan? Hal penting yang dapat kita rasakan adalah ketika memasuki bulan Suci Ramadan ini adalah untuk belajar lebih sabar. Maksudnya adalah selama masa yang penuh keterbatasan ruang gerak dan berkurangnya aktivitas kita di luar dapat membantu kita untuk meningkatkan ibadah di rumah, berpikir lebih positif dan berkumpul dengan keluarga. Dalam arti sabar ini pun kita tetap harus berikhtiar, melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Misalnya, berbagi dengan saudara-saudara yang membutuhkan dan saling peduli. Hal ini pun akan membantu kita untuk mengurangi tingkat stres agar tidak menjadi stres kronis atau tinggi.

Dapat disimpulkan bagaimana seorang individu dapat mengelola, mengendalikan dan mengatur stres terutama dalam menghadapi masa pandemi corona adalah dengan selalu berusaha berpikir positif, sabar, dan tentunya memiliki keyakinan atau optimis bahwa masa pandemi corona (Covid-19) ini akan berlalu sehingga kita masih memiliki harapan yang positif untuk kedepan dan kembali melakukan aktivitas seperti sediakala.***

 

Feni Sriwahyuni, M.Psi., Psikolog (Psikolog RS Awal Bros Pekanbaru)

 

 

 

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Rumah Bulat dan Dua Kontrakan di Marpoyan Damai Ludes Terbakar, Motor Ikut Hangus

Kebakaran di Marpoyan Damai Pekanbaru menghanguskan rumah bulat, dua kontrakan, dan sepeda motor. Delapan unit…

9 jam ago

Mangrove Desa Bokor Mendunia, 13 Spesies Jadi Magnet Wisatawan

Desa Bokor di Kepulauan Meranti berhasil menjaga 13 spesies mangrove dan mengembangkan ekowisata berkelanjutan berbasis…

9 jam ago

Razia Gabungan di Sudirman, 117 Kendaraan Langsung Ditindak

Sebanyak 117 kendaraan ditindak dalam razia gabungan di Jalan Sudirman Pekanbaru, termasuk truk ODOL dan…

2 hari ago

UHTP Sembelih 4 Sapi Kurban, Daging Dibagikan untuk Warga dan Karyawan

Universitas Hang Tuah Pekanbaru menyembelih empat sapi kurban pada Iduladha 1447 H dan membagikannya kepada…

3 hari ago

Puluhan Tahun Rusak, Jalan Pesisir di Rumbai Segera Mulai Dibangun

Jalan Pesisir di Rumbai yang puluhan tahun rusak segera diperbaiki. Anggaran pembangunan mencapai Rp11,8 miliar.

3 hari ago

Lonjakan Penumpang Roro Bengkalis Terjadi Jelang Libur Akhir Pekan dan Iduladha

Arus penyeberangan Roro Bengkalis meningkat jelang Iduladha. Pengendara motor bahkan harus antre hingga empat jam.

3 hari ago