pucuk-ubi
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Nina tinggal di sebuah rumah yang memiliki tetangga di samping kiri, kanan, dan belakangnya. Namun, di bagian belakang rumah ada halaman kecil yang memisahkan rumahnya dengan rumah tetangga.
Nina menanami halaman belakang tersebut dengan tanaman ubi dan beberapa pohon pisang, serta cabai. Semenjak pandemi, ia memang sangat senang menanam.
Seiring berjalannya waktu, tanaman Nina mulai membesar, dan bisa segera dimakan, terlebih pucuk ubi yang terlihat sangat segar. Nina berencana memasak pucuk ubi tersebut hari Ahad yang merupakan hari libur. Pucuk tersebut akan menjadi pucuk pertama yang akan ia petik.
Hari Ahad pun tiba, Nina pergi ke halaman belakang untuk memetik pucuk ubi. Namun, kebagahiaannya pudar seketika saat melihat pucuk-pucuk ubi segar telah hilang, dan hanya tertinggal daun ubi tua dan bekas petikan yang masih terlihat baru.
Nina sangat kesal, ia berpikir tidak-tidak tentang tetangganya. Namun, ia hanya berani mengumpat dengan suara keras agar tetangganya bisa mendengar omelan Nina. Bagaimana tidak, ia yang sudah susah payah menanam, malah orang lain yang memanen, bahkan tanpa meminta izin.
"Alamaak….! Siapa yang memetik tanaman orang sembarangan, mana nggak izin pula. Saya doakan perutnya bunci…tt..," teriak Nina masih di halaman belakang.(anf)
Polri menguji Formula X-Fire untuk menangani Karhutla di lahan gambut Pelalawan dengan dukungan 6.000 liter…
Terduga pengedar sabu MA (26) dibekuk polisi saat bersembunyi di parit di Kampa. Petugas mengamankan…
Pemko Pekanbaru menargetkan angka kemiskinan turun dari 3,1 persen menjadi 2 persen dalam tiga tahun…
Tender proyek pembangunan Pasar Tembilahan senilai sekitar Rp19,9 miliar batal. Pemkab Inhil mempertimbangkan pelaksanaan pembangunan…
Mabes Polri mengirim 6.000 liter Formula X-Fire untuk memperkuat pemadaman karhutla di Pelalawan, terutama kawasan…
Kabut asap karhutla masih berdampak pada sekolah di Pekanbaru. PTM terbatas diberlakukan dengan kewajiban masker…