Categories: Nasional

Data soal Corona Pusat dan Daerah Tak Singkron

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Ada ketidaksingkronan data yang dimiliki pemerintah pusat dengan pemerintah daerah terkait dengan jumlah masyarakat yang terpapar virus corona atau Covid-19. Karena itu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo‎ meminta untuk dilakukan pengecekan kembali.

‎"Sudah kami ingatkan supaya dicek soal data-data yang masuk‎. Tetapi sekali lagi data ini harus satu suara, satu sumber," ujar Doni dalam rapat dengan Komisi VIII DPR, Jakarta, Senin (6/4).

Menurut Doni, semua data itu harus sama dengan daerah. Sehingga ke depannya akan diatur supaya data dari pemerintah pusat bisa singkron dengan data pemerintah daerah.

"Ini semuanya nanti akan diatur lebih lanjut," katanya.

Doni juga menjelaskan, data yang didapat pemerintah, BPBD dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), semuanya dikumpulkan dan digabung menjadi satu.

"Jadi nanti data dari BPBD dan Kementerian Kesehatan akan pararel," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Agus Wibowo membenarkan jika data kasus positif virus corona yang selama ini disajikan pemerintah pusat tidak sinkron dengan pemerintah daerah.

Agus berdalih, asupan data dari Kementerian Kesehatan juga terbatas. Namun, Gugus Tugas tetap mengacu pada data Kementerian Kesehatan.

"Kami dapat masukan data dari Kemenkes terbatas, jadi kami belum bisa menghasilkan data yang sangat lengkap atau terbuka," katanya.

Agus menjelaskan, BNPB kini membangun aplikasi Lawan Covid-19 yang nantinya digunakan untuk menampung data terkait kasus positif. Harapannya, bisa menghasilkan data yang lebih sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Agus juga mengamini, jika data antara pemerintah pusat dan daerah terkait Covid-19 tidak sinkron. Tapi ia mengaku tidak tahu pangkal masalahnya.

Menurut Agus, BNPB bekerja di belakang layar mencatat semua laporan terkait kasus penyakit virus corona itu dari seluruh daerah. Namun mereka tidak bisa mempublikasikannya karena bukan juru bicara pemerintah.

"Kami punya data dua-duanya. BNPB kumpulkan data dari daerah dan Kemenkes, kami sandingkan. Tapi karena jubirnya Pak Yuri, jadi apa yang disampaikan Pak Yuri itu yang kami publikasikan," katanya.

Sumber: Jawapos.com
Editor: Rinaldi

 

Edwar Yaman

Share
Published by
Edwar Yaman

Recent Posts

Didemo Emak-emak, Tujuh Kafe Remang-remang di Tapung Akhirnya Disegel

Tujuh kafe di Desa Gading Sari, Tapung, disegel tim gabungan setelah dikeluhkan warga. Petugas juga…

31 menit ago

Agung Nugroho Wajibkan Seluruh Provider Ikut Bereskan Kabel FO Semrawut di Pekanbaru

Pemko Pekanbaru mewajibkan seluruh provider internet ikut menata kabel fiber optic ilegal. Penertiban dilakukan bertahap…

21 jam ago

Diduga Kompresor Mati Saat Menyelam, Pria di Sungai Indragiri Masih Hilang

Seorang penyelam di Inhil diduga tenggelam setelah kompresor udara mati saat evakuasi kapal. Tim gabungan…

21 jam ago

Lima Tahun Direstorasi, Mangrove Teluk Pambang Bengkalis Kini Jadi Sorotan Dunia

Restorasi mangrove Teluk Pambang di Bengkalis selama lima tahun membuahkan hasil. Kawasan kini pulih, menarik…

21 jam ago

Pemko Pekanbaru Tegaskan Komitmen Berantas LGBT, Satpol PP Diminta Perketat Pengawasan

Pemko Pekanbaru menyiapkan pembinaan, penyuluhan, dan penindakan untuk mencegah LGBT dengan melibatkan Satpol PP, mubalig,…

21 jam ago

UPTJJ Wilayah VI Tuntaskan Sejumlah Ruas Jalan Rusak di Rohul

Pemprov Riau mempercepat perbaikan jalan provinsi di Rokan Hulu. Sejumlah ruas telah kembali fungsional, sementara…

22 jam ago