Categories: Nasional

Susi Kesal Indonesia Tak Diuntungkan Perang Dagang

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyayangkan masih banyak pelaku usaha perikanan nekat berbuat curang. Menyiasati anti-dumping demi meraup keuntungan pribadi. Jika terus dibiarkan, Indonesia tidak akan pernah mendapat untung dari perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Cina.

”Indonesia is the last least less benefiting trade war,”ucap Susi menyebut judul artikel dibacanya. Dia merasa miris. Padahal, seharusnya Indonesia bisa mendapat keuntungan atas perang dagang tersebut.

AS tidak mengenakan kebijakan tarif tinggi terhadap produk eskpor Indonesia. Hanya sekitar 12 hingga 20 persen dari harga normal. Sedangkan, negara lainnya dikenai lebih dari 70 persen. Namun, yang terjadi Indonesia tidak mendapat keuntungan sama sekali. Fenomena tersebut tidak lepas dari perilaku para pelaku perikanan tanah air. ”Oknum PNS Perikanan bermain, pengusahanya bermain,” keluh Susi blak-blakan.

Mereka menyiasati anti-dumping demi mendapat keuntungan yang banyak. Anti-dumping adalah perjanjian politik dagang yang melarang harga jual di luar negeri lebih rendah dari harga normal. Dengan alasan, demi meningkatkan pangsa pasar di luar negeri.

”Namanya usaha itu harus cari provit dari produknya 5 hingga 10 persen. Tapi pengusaha sepertinya lebih milih mendapat komisi dari asing 5 sen per kg. Teken saja, yang penting nama perusahaannya terpampang,” terang menteri 54 tahun itu.

Susi teringat ketika pergi ke AS bertemu dengan pengusaha Indonesia di sebuah bandara. Para pengusaha mau mengekspor barang dari Tiongkok ke AS. Sebab, barang buatan Negeri Panda itu dikenai tarif anti-dumping 100 persen. ”Lah padahal mereka (pengusaha, red) beli bukan produksi. Mestinya itu tidak boleh dilakukan,” ucapnya kecewa.

Seharusnya, dengan adanya perang dagang AS-Cina, impor produk dihentikan. Agar Indonesia bisa memaksimalkan produksi dalam negeri untuk ekspor. Mengawasi penyelundupan, penangkapan ikan ilegal, dan alat tangkap yang digunakan di wilayah perairan nusantara.

Lobster, misalnya. Jenis plasma nutfah tersebut yang paling digemari di pasar global. Permintaan tinggi, namun ketersediaan semakin menipis. Indonesia menjadi sasaran lantaran memiliki jumlah yang melimpah di lautan.(han/jpg)
Editor: Eko Faizin

Eka Gusmadi Putra

Share
Published by
Eka Gusmadi Putra

Recent Posts

Pemko Pekanbaru Targetkan Perbaiki Jalan Rusak Lebih dari 42 Kilometer

Pemko Pekanbaru menargetkan perbaikan jalan rusak lebih dari 42 kilometer tahun ini, menyasar pusat kota…

6 jam ago

Konsisten Sejak 2019, DBC Kembali Kirim 15 Peserta Meriahkan Riau Pos Fun Bike 2026

Duri Bike Community memastikan ikut Riau Pos Fun Bike 2026 dengan menurunkan 15 peserta dan…

7 jam ago

Butuh Pegawai Tangguh, BPR Indra Arta Perpanjang Pendaftaran Rekrutmen

BPR Indra Arta Indragiri Hulu memperpanjang pendaftaran rekrutmen pegawai baru hingga 26 Januari untuk menjaring…

7 jam ago

Jalan Berlubang di Pangkalankerinci Dikeluhkan, Pemkab Pelalawan Diminta Bertindak

Warga dan DPRD Pelalawan mendesak pemkab segera menambal jalan berlubang di Pangkalankerinci karena dinilai rawan…

7 jam ago

Bupati Siak Turun Tangan Atasi Kendala Gaji ASN

Pencairan gaji ASN di Kabupaten Siak terkendala administrasi dampak SOTK baru. Bupati Afni memastikan proses…

8 jam ago

Sampah Masih Menumpuk di Pekanbaru, Warga Diminta Ikut Mengawasi

Tumpukan sampah masih ditemukan di Pekanbaru, terutama di Jalan Soekarno Hatta. DLHK mengajak masyarakat ikut…

8 jam ago