Categories: Nasional

Survei LSI: Mayoritas Muslim Indonesia Intoleran dalam Urusan Politik

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyebut bahwa umat Islam intoleran dalam konteks politik. Hal itu terungkap berdasarkan hasil survei LSI pada 8 September 2019 – 17 September 2019 yang melibatkan 1.550 responden di seluruh Indonesia.

Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan mengatakan, setidaknya 59,1 persen responden muslim keberatan jika dipimpin oleh pihak yang berbeda keyakinan. Sedangkan 31,3 persen merasa tidak masalah jika dipimpin nonmuslim. Sisanya tidak menjawab atau tidak tahu.

"Mayoritas warga muslim intoleran terhadap orang yang berbeda keyakinan menjadi kepala pemerintahan di tingkat kabupaten atau kota, gubernur, wakil presiden dan presiden," kata Djayadi saat merilis hasil surveinya dengan tema Tantangan Intoleransi dan Kebebasan Sipil Serta Modal Kerja Pada Pemerintahan Periode Kedua Jokowi di kawasan Jakarta Pusat, Ahas (3/11).

Untuk porsi wakil presiden juga demikian. Menurut Djayadi, 56,1 persen responden muslim menolak memilih wakil presiden yang berbeda keyakinan. Sementara 34,2 persen yang tidak keberatan. Sisanya tidak menjawab atau tidak tahu.

Sementara itu di level pemerintahan daerah, yang keberatan nonmuslim menjadi gubernur sebesar 52 persen. Yang tidak keberatan 37,9 persen. Yang keberatan nonmuslim menjadi wali kota atau bupati sebesar 51,6 persen. Yang tidak keberatan 38,3 persen.

Berbanding terbalik dalam hal pelaksanaan ritual keagamaan nonmuslim, seperti berkegiatan di sekitar rumah. Dalam soal nonmuslim mengadakan acara keagamaan atau kebaktian di sekitar mereka hasilnya lebih baik. Yang keberatan hanya 36,4 persen dan yang merasa tidak keberatan sebanyak 54 persen masyarakat muslim.

Namun, penolakan terhadap pendirian rumah ibadah nonmuslim masih tinggi. Sebanyak 53 persen muslim keberatan mereka yang berbeda keyakinan membangun rumah ibadah. Hanya 36,8 persen yang mengaku tidak keberatan.

"Intoleransi religius-kultural cenderung turun sejak 2010, namun penurunan ini berhenti di 2017. Pasca 2017 intoleransi religius-kultural cenderung meningkat terutama dalam hal pembangunan rumah ibadah," jelas Djayadi.

Survei dilakukan pada 8 September 2019 – 17 September 2019 dengan melibatkan 1.550 responden di seluruh Indonesia yang terpilih secara acak dengan margin of error 2,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Survei dikakukan dengan wawancara tatap muka langsung. (tan/jpnn)

Sumber: Jpnn,com
Editor: Erizal

Rinaldi

Share
Published by
Rinaldi

Recent Posts

Pelajar SMP Tenggelam Saat Berenang di Sungai Siak, Pencarian Hingga Malam Belum Membuahkan Hasil

Pelajar SMP berusia 13 tahun dilaporkan tenggelam saat berenang di Sungai Siak. Tim BPBD dan…

18 menit ago

Kabar Baik! Jalan Teratai Pekanbaru Mulai Dibenahi, Drainase yang Lama Tertutup Kini Dibuka

Pemko Pekanbaru mulai memperbaiki Jalan Teratai dengan normalisasi drainase dan overlay sepanjang 783 meter. Pekerjaan…

22 jam ago

Gara-gara Puntung Rokok, 5 Hektare Kebun Sawit di Inhu Terbakar, Pelaku Ditahan Polisi

Seorang buruh angkut sawit di Indragiri Hulu ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga membuang puntung rokok…

23 jam ago

Pacu Jalur Bawa Berkah, Menteri PU Siap Kaji Pembangunan Tol Pekanbaru-Kuansing

Menteri PU mengkaji rencana pembangunan Tol Pekanbaru-Kuansing untuk mendukung Pacu Jalur, memperlancar akses, dan mendorong…

23 jam ago

Promo Merdeka Angkasa Garden Hotel Hadirkan Menu Unik, Mierdeka Laksamana Jadi Andalan

Angkasa Garden Hotel Pekanbaru menghadirkan Promo Merdeka dengan menu baru Mierdeka Laksamana dan Si Merah…

24 jam ago

Kasus Seragam SMAN Riau Masuk Babak Baru, Kepala Sekolah Diperiksa Satu per Satu

BKD Riau mulai memanggil kepala sekolah terkait kasus kelebihan bayar seragam SMAN. Sanksi disiplin disiapkan,…

24 jam ago