Categories: Nasional

Booster Jadi Syarat Mudik Idulfitri, MUI Minta Vaksin Halal

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Vaksin dosis lanjutan (booster) menjadi syarat bagi masyarakat yang ingin mudik pada hari raya Idulfitri nanti. Namun, atas syarat itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta pemerintah menyediakan vaksin halal untuk booster.

Ketua Bidang Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh meminta pemerintah menyediakan vaksin booster halal untuk masyarakat. Sebab, booster menjadi syarat untuk melakukan mudik Idulfitri.

“Pemerintah harus konsisten menyediakan vaksin halal. Ini menjadi concern kita bersama, termasuk booster. Ini catatan pinggir yang kami berikan,” jelas Niam, Sabtu (2/4/2022).

Ahad (3/4) umat Islam sudah mulai menunaikan ibadah puasa. Dia mengajak umat Islam mengikuti vaksinasi booster, meskipun sedang berpuasa. Dia menegaskan bahwa orang yang sedang berpuasa tidak bermasalah jika mendapat suntik vaksin ke tubuhnya.

Mendapat suntik vaksin, menurut Niam tidak membatalkan puasa. Akan tetapi perlu juga diperhatikan kehalalan vaksin itu.

“Puasa tidak menjadi penghalang untuk seseorang melakukan vaksinasi,” ujarnya.

Niam menyebut soal tes swab antigen atau PCR selama berpuasa. Kedua tes itu tidak membatalkan puasa, alatnya dimasukkan ke dalam hidung atau langit-langit lidah.

“Oleh karena itu, MUI menetapkan panduan bahwasannya test swab itu tidak membatalkan puasa,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menetapkan syarat untuk masyarakat yang akan melakukan mudik Idulfitri. Bagi yang sudah menerima vaksin booster, maka tidak wajib menyertakan hasil tes PCR maupun antigen. Sayangnya, sampai saat ini belum ada pilihan vaksin booster yang telah mendapatkan fatwa halal MUI.

Kemudian, bagi yang baru mendapat dosis kedua, mereka wajib melampirkan hasil tes antigen. Untuk warga yang baru mendapat vasksin dosis pertama, mereka wajib menyertakan hasil tes PCR.

Saat ini sudah ada dua jenis vaksin yang telah mendapatkan fatwa halal dari MUI dan sudah mendapatkan izin penggunaan darurat oleh BPOM yakni Sinovac dan Zyfivax. Menurut data Biofarma, kapastitas produksi mereka mencapai 250 juta dosis per tahun. Sedangkan Zyfivax yang diproduksi oleh JBio mampu menyediakan 360 juta dosis per tahun.

Sumber: Jawapos.com
Editor : Edwar Yaman
 

Eka Gusmadi Putra

Share
Published by
Eka Gusmadi Putra

Recent Posts

Tabebuya Bermekaran, Wajah Kota Pekanbaru Berubah Jadi Lebih Indah

Bunga Tabebuya bermekaran di sejumlah ruas jalan Pekanbaru. Warga terpesona melihat pemandangan kota yang lebih…

18 jam ago

Kalam Kudus Menang di Dua Laga, Putra-Putri Melaju ke Final HSBL Selatpanjang

Kalam Kudus meraih dua kemenangan pada HSBL Selatpanjang 2026 dan memastikan tim putra-putri melaju ke…

18 jam ago

Mengarak Tabak hingga Makan Beradat, Tradisi Melayu Batang Peranap Kembali Digelar

Festival Adat Batang Peranap menampilkan Beghagak Tabak, Caca Inai dan Makan Beradat sebagai upaya melestarikan…

2 hari ago

Harga Dexlite Melonjak, Antrean Biosolar di Pelalawan Mengular

Harga Dexlite naik Rp5.050 per liter, pengendara beralih ke biosolar hingga antrean di SPBU Pangkalan…

2 hari ago

Akses Pelabuhan Tanjung Harapan Dibangun Ulang, Ini Panjang dan Ketebalan Jalannya

Pelindo mulai meningkatkan jalan akses Terminal Tanjung Harapan Selatpanjang senilai Rp1,48 miliar untuk kenyamanan dan…

2 hari ago

Lahan 221 Hektare Jadi Sorotan, Mitra Agrinas dan Ninik Mamak Koto Garo Saling Lapor

Konflik pengelolaan lahan eks PT RAL di Koto Garo, Kampar, memanas setelah Mitra Agrinas dan…

2 hari ago