Categories: Pekanbaru

Komunitas Arus Balik Nobar “The Bajau” Produksi Watchdoc

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Bertempat di Kedai Kopi Kopikirapa, Jalan Kundur pusat kota Pekanbaru, komunitas Arus Balik menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter The Bajau, Ahad (19/1/2020).

The Bajau diproduksi oleh Watchdoc berkolaborasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan AJI Gorontalo serta disutradarai oleh jurnalis senior Dandhy Dwi Laksono.

The Bajau berkisah tentang kehidupan masyarakat Suku Bajo di kepulauan Indonesia. Bercerita tentang dua keluarga suku Bajo yang dikenal sebagai pengelana laut yang pernah hidup nomaden selama berabad-abad di sekitar Laut Cina Selatan hingga Pasifik Selatan dan Selandia Baru.

Pemantik diskusi dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, Fandi Rahman, mengatakan, sebenarnya nasib suku Bajo hampir mirip seperti suku-suku di Riau. Menurutnya, perubahan lingkungan membuat keberadaannya semakin tersingkirkan.

"Bagaimana pun negara punya peran menyamakan hak sebagai warga negara," jelasnya.

Dikatakan Fandi, contoh suku Akit di pinggiran Sungai Siak yang dahulu mencari ikan untuk kebutuhan ekonomi, sekarang mencari sampah plastik lalu dijual untuk memenuhi kebutuhan sehar-hari.

Haldi, salah seorang penggerak komunitas Arus Balik, beranggapan bahwa pemutaran film di Pekanbaru kali ini mencoba mengambil sudut pandang pengaruh kerusakan ekologis bagi masyarakat adat.

"Hanya saja, film dokumenter tersebut tidak terlalu banyak membahas sektor hulu kerusakan ekologis yg mengancam ruang hidup masyarakat adat," kata Haldi.

Salah seorang peserta sekaligus peneliti Forum for Academician of Politics and International Relations (FAIR) Riau, Bambang Putra Ermansya,h menanggapi bahwa yang terjadi dengan suku Bajo adalah bentuk pemaksaan gaya hidup dari kebanyakan masyarakat.

Nobar dan diskusi hasil kolaborasi antara komunitas Arus Balik, AJI Pekanbaru, Thinkcore dan Kopikirapa ini diikuti oleh peserta dari mahasiswa dan umum. Selain nobar dan diskusi, dilakukan donasi untuk warga suku Bajo yang kurang beruntung.

Di Pekanbaru, pemutaran film ini sebelumnya sudah dilaksanakan pada Sabtu (18/1/2020) lalu di dua tempat yang berbeda dengan penyelenggara lokal yang berbeda.(eko)

Eka Gusmadi Putra

Share
Published by
Eka Gusmadi Putra

Recent Posts

Kuansing Dapat Tambahan Dana Rp70 Miliar, Gaji PPPK dan TPP ASN Jadi Prioritas

Kuansing mendapat tambahan dana Rp70 miliar dari Kemenkeu. Dana diprioritaskan untuk gaji ASN, PPPK, dan…

9 jam ago

290 Bilik Santri Ludes Terbakar, Bupati Kampar Langsung Turun ke Ponpes Syekh Burhanuddin

Kebakaran menghanguskan 290 bilik santri Ponpes Syekh Burhanuddin Kampar. Pemkab bergerak cepat mendirikan tenda dan…

9 jam ago

Harga Kelapa Anjlok, Ratusan Mahasiswa dan Petani Kepung Kantor Bupati Inhil

Ratusan mahasiswa dan petani kelapa menggelar aksi di Kantor Bupati Inhil. Mereka mendesak pemerintah memperjuangkan…

11 jam ago

7.341 PKH dan 10.428 Sembako Kemensos Proses Penyaluran, Terlibat Pinjol dan Judol Tak Lagi Mendapat Bantuan

Penerima bansos di Siak menurun pada triwulan III. Dinsos menyebut pindah, pinjol hingga judol sebagai…

11 jam ago

Pasien Koma Meninggal Usai Dirujuk ke Pekanbaru, Keluarga Ungkap Kronologinya

Video pasien koma viral di media sosial. Keluarga menyoroti lamanya proses rujukan, sementara RSUD Bagansiapiapi…

11 jam ago

14 Tim Basket Kampar dan Rohul Berebut Juara di Riau Pos-HSBL 2026

Sebanyak 14 tim basket pelajar Kampar dan Rohul siap bertarung di Riau Pos-HSBL 2026 Seri…

11 jam ago