Categories: Pekanbaru

Anak Leopard Mati Akibat Parvovirus

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) —  Seekor anak leopard berusia tiga bulan mati saat menjalani pe­­rawatan di Kebun Binatang Kasang Kulim, Kabupaten Kampar. Yakni kebun binatang di bawah naungan Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Kematian anak leopard ini diduga akibat terserang virus parvovirus yang menyerang bagian pencernaannya.

Dokter hewan BBKSDA Riau Rini menjelaskan, kondisi leo­pard pada 28 Januari lalu dalam keadaan sehat. Namun pada 31 Januari kesehatannya menurun ditandai dengan nafsu makan berkurang dan muntah.

"Kami melakukan tindakan medis dan pengobatan terhadap leopard dengan pemberian cairan infus untuk menghindari dehidrasi dan menambah cairan tubuhnya yang hilang karena muntah. Kemudian memberikan obat-obat untuk daya tahan tubuh serta memberikan atibiotik dan memberikan obat antimuntah," ujar Rini kepada Riau Pos, Senin (3/2).

Kemudian, pada sore harinya kondisi leopard kembali menurun, lemas, banyak berbaring, kurang lincah kemudian diikuti dengan sesak napas. Akhirnya leopard itu tidak tertolong lagi.

"Hasil pemeriksaan setelah dilakukan bedah bangkai diketahui leopard menderita penyakit yang disebabkan virus parvovirus yang menyerang bagian pencernaan. Virus tersebut juga bisa juga menjalar ke bagian saluran pernapasan," sebutnya.

Lebih jauh Rini menjelaskan, virus parvovirus tersebut ada pada setiap makhluk. Dia akan tumbuh dan berkembang apabila kondisi daya tahan tubuh berkurang. Virus parvovirus ini juga menyerang daya tahan tubuh. Terkait dugaan salah dalam pemberian makanan, Rini menjelaskan setelah dilakukan bedah bangkai tidak menemukan benda-benda yang tidak pantas dimakan Leopard.

"Virus parvovirus umum menyerang bangsa kucing. Virus itu bisa menular dari mana saja misalnya dari kotoran, air ludah atau bahkan juga dari udara. Karena di situ juga selain anak Leopard juga ada jenis singa. Dan singa juga ada terindakasi terkena virus parvovirus, namun bisa kami obati dan bisa diselamatkan. Anak leopard tersebut bisa saja tertular dari singa tersebut ," terangnya.

Sementara Kepala Balai Besar KSDA Riau Suharyono menambahkan, pihaknya hanya bersifat menerima titipan. Seperti yang diketahui BBKSDA memiliki mitra lembaga konservasi yang sah di Provinsi Riau ini hanya satu yaitu Kebun Binatang Kasang Kulim. Dengan kejadian kematian ini, kalau memang diperlukan ada evaluasi tentang tempat penitipan ini atau diperlukan lembaga konservasi yang lebih representatif di luar Provinsi Riau, pihaknya siap mengkomunikasikan. (dof)

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Dies Natalis ke-4 Universitas Awal Bros Berlangsung Meriah dan Penuh Makna

Universitas Awal Bros rayakan Dies Natalis ke-4 secara hybrid. Berbagai kegiatan digelar hingga pemberian penghargaan…

4 jam ago

Pekanbaru Teken MoU PSEL, Sampah Disulap Jadi Energi Listrik

Pekanbaru teken MoU PSEL untuk olah sampah jadi energi listrik. Proyek ini ditargetkan kurangi beban…

4 jam ago

Buron Usai Jambret Santunan Ramadan Anak Yatim, Pelaku Diciduk di Sumbar

Pelaku jambret uang santunan anak yatim di Pekanbaru ditangkap di Sumbar setelah buron dua pekan.…

6 jam ago

Polisi Ungkap Penimbunan BBM Subsidi, Solar 3.200 Liter Disita

Polisi di Riau menangkap dua pelaku penimbunan BBM subsidi. Ribuan liter solar dan pertalite diamankan,…

7 jam ago

Jadi Aset Pemko, Rusunawa Rumbai Siap Ditata Total

Pemko Pekanbaru mulai membenahi Rusunawa Yos Sudarso. Wako soroti kondisi kumuh dan siap beri keringanan…

7 jam ago

Tarif Parkir Kuliner Cut Nyak Dhien Disorot, Pengunjung Dipatok Rp5.000

Pengunjung kuliner malam Cut Nyak Dhien mengeluhkan tarif parkir hingga Rp5.000. Dishub Pekanbaru janji segera…

7 jam ago