Categories: Feature

Yudi Febrian, Warga Pekanbaru Penumpang Helikopter yang Jatuh di Kalsel; Hutan Itu Sahabatnya, Keluarga pun Ikhlas

Tim SAR gabungan akhirnya menemukan Helikopter BK117-D3 milik PT Eastindo Air yang hilang kontak sejak Senin (1/9). Helikopter itu ditemukan di kawasan hutan Air Terjun Mandin Damar, Kecamatan Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (Kalsel), Rabu (3/9).

Laporan HENDRAWAN KARIMAN dan JPG, Pekanbaru dan Banjarbaru

Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo mengatakan, helikopter ditemukan pada Rabu (3/9) pukul 14.45 WITA.

”Ditemukan bangkai helikopter berada di koordinat 03° 5’6” S – 115° 37’39.07” E atau sekitar 700 meter dari titik yang sebelumnya diberikan KNKT,” ucapnya di Lanud Syamsudin Noor, Rabu (3/9) malam.

Pada pukul 15.53 WITA, tim menemukan satu korban yang jaraknya 100 meter dari badan helikopter. Korban langsung dievakuasi ke Posko Lapangan. Tim juga mengevakuasi tujuh jenazah lain.

Delapan jenazah akan menjalani proses identifikasi di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Banjarmasin. Delapan korban itu yakni Captain Haryanto, Eng. Hendra, Mark Werren, Yudi Febrian, Andys Pissa Palulu, Santha Kumar, Claudine Quito, dan Iboy Irfan Rosa.

Kabid Dokkes Polda Kalimantan Selatan (Kalsel) Kombes Pol Dr dr M El Yandiko mengungkapkan, seluruh tim medis dan forensik telah bersiaga untuk proses identifikasi. ”Kami sudah siapkan tim yang bertugas untuk mengumpulkan data korban, termasuk ciri-ciri khas dan petunjuk yang diperlukan untuk proses identifikasi,” ujarnya.

Menurut Yandiko, proses identifikasi memerlukan kecermatan tinggi. Sebab, kondisi korban kemungkinan besar tidak bisa dikenali secara visual. ”Ciri-ciri seperti bekas luka, tanda lahir, atau barang pribadi seperti jam tangan atau pakaian yang biasa dipakai akan sangat membantu,” jelasnya.

Karena, seluruh korban adalah laki-laki, proses awal pencocokan diharapkan berjalan lebih cepat. Namun, apabila identifikasi primer tidak membuahkan hasil, prosedur lanjutan seperti pencocokan DNA akan ditempuh. ”Kalau harus menggunakan DNA, tentu akan memakan waktu lebih lama. Karena harus diproses di laboratorium. Apalagi, jika jenazah mengalami pembusukan atau luka bakar luas,” terang Yandiko.

Jenazah-jenazah yang kini dievakuasi ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan itu tidak semua ditemukan dalam keadaan utuh. Bahkan dua orang disebutkan dalam keadaan hangus. Pihak keluarga, termasuk keluarga Yudi menunggu hasil tes DNA karena kondisi jenazah yang hangus dan tidak bisa dikenali secara langsung.

‘’Satu jenazah dari kecelakaan itu telah teridentifikasi, namun bukan Yudi. Istrinya juga masih menunggu karena belum bisa memastikan mana yang suaminya. Harus lewat tes DNA dulu,” kata Epi Yatim, kakak kandung Yudi di Pekanbaru, Kamis (4/9).

Kendati demikian, rumah duka sudah siapkan untuk menyambut kepulangan jenazah di Kompleks Nyamuk Timur, Jalan Amir Hamzah, Kecamatan Sail. Tenda terpantau sudah berdiri, papan bunga beberapa sudah berjejer.

Musibah yang merenggut nyawa adiknya itu merupakan kejadian yang tidak pernah dibayangkan Epi. Ia memahami bahwa adiknya itu seorang pekerja keras dan cenderung gila kerja, namun tidak dengan kepergiannya yang jatuh dari helikopter.

Pasalnya, menurut Epi, selama bekerja di Kalimantan adiknya sudah kerap terbang naik heli. Karena hal itu sudah menjadi bagian dari pekerjaannya selama di sana. ‘’Sekali ini ia baru terbang 10 menit, baru sekitar 700 meter meninggalkan titik terbang,’’ ungkapnya.

Epi bercerita, Yudi akan selalu bersemangat bila menceritakan soal pekerjaan. Maka ia memahami bahwa adiknya itu berani mengambil risiko. Terlepas dari apa yang menjadi penyebab kecelakaan, namun menurut Epi satu yang pasti, Yudi Febrian memang gemar keluar-masuk hutan.

Yudi memang tidak bisa jauh dari hutan. Bahkan saat tamat SMA puluhan tahun silam ia langsung pergi ke pedalaman Ukui Pelalawan untuk bekerja alih-alih kuliah. Hal itu, kata Epi cukup menggambarkan bahwa Yudi adalah seorang pekerja keras dan mencintai alam. Hidupnya, dari bujang tidak lepas dari alam dan hutan. Bahkan ia terus bekerja tanpa bisa dipisahkan dengan hutan.

‘’Hutan itu sabahabatnya, sampai meninggalnyapun di hutan. Tadinya saya berpikir kalaupun tidak ketemu, ikhlas karena dia sudah sama sahabatnya (di hutan, red). Dia memang tidak bisa lepas, biarpun berjalan kaki ke hutan,’’ sebut Epi.

Epi berharap jenazah adiknya segera diterbangkan ke Pekanbaru. Pihak keluarga menurutnya sudah mempersiapkan prosesi kepergian sang adik. Sesuai rencana, Yudi akan dimakamkan di kawasan Hang Tuah Ujung, pemakaman keluarga di Gang Akhir. Di sana, sejumlah keluarga Yudi turut dimakamkan, termasuk anaknya yang telah meninggalkannya lebih dulu.(she/ian/aph/end/das)






Reporter: Hendrawan Kariman

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Longsor Terjang Lembah Anai, Jalan Utama Padang–Bukittinggi Tak Bisa Dilalui

Longsor menutup jalur Padang–Bukittinggi di Lembah Anai. Akses dua arah ditutup total sementara demi keselamatan…

11 jam ago

Pendaftaran SMP Negeri Pekanbaru Segera Ditutup, Ribuan Calon Siswa Berebut Kursi

Pendaftaran SPMB SMP negeri Pekanbaru hampir berakhir. Jalur domisili mencapai 98 persen, sementara kuota sekolah…

15 jam ago

APBD Rohul 2025 Terserap 92,87 Persen, Pemkab Kembali Raih WTP ke-10 Berturut-turut

Pemkab Rohul mencatat realisasi APBD 2025 sebesar Rp1,9 triliun atau 92,87 persen dan kembali meraih…

2 hari ago

Dari Semak Belukar Jadi Kebun Herbal, Mahasiswa FK Unri Hadirkan Program Lentera TOGA

Mahasiswa FK Unri mengubah lahan kosong di Teluk Makmur, Dumai, menjadi kebun TOGA produktif untuk…

2 hari ago

Tak Lolos SMAN/SMKN? Disdik Riau Siapkan 2.179 Kursi Gratis Lewat Jalur BOSDA Afirmasi

Disdik Riau mengumumkan 70.616 peserta lulus SPMB 2026. Bagi yang belum diterima, tersedia 2.179 kursi…

2 hari ago

Pemko Pekanbaru Kejar Target, Perbaikan Jalan Rusak Tahun Ini Ditargetkan Tembus Lebih dari 42 Km

Pemko Pekanbaru menargetkan perbaikan jalan rusak lebih dari 42 km pada 2026, disertai pembangunan drainase…

2 hari ago