Categories: Ekonomi Bisnis

Pertamina Disarankan Hanya Jual 4 Jenis BBM

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Hasil riset Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) sejak 2005 menunjukkan bahwa pemerintah dan PT Pertamina (Persero) tidak menggunakan acuan atau kualitas yang setara dengan negara-negara lain dalam menetapkan harga bahan bakar minyak (BBM). Akibatnya, rakyat Indonesia mendapatkan BBM dengan harga relatif mahal, namun tak sebanding dengan kualitasnya.

Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin (Puput) pun melihat, ada indikasi harga BBM yang diberlakukan selama ini terlalu mahal. Menurutnya, kelebihan margin biaya hanya dinikmati oleh para ‘parasit harga’.

Di sisi lain, sebelum berusaha menaikkan harga BBM, pemerintah disarankan menyesuaikan kualitas BBM dengan kebutuhan teknologi. Hal itu mengingat, saat ini teknologi kendaraan yang dimandatkan adalah standar Euro 4.

Guna memudahkan pengendalian harga dan kualitas BBM ini, Puput menyarankan ada spesifikasi minimum jenis BBM. Dia pun merekomendasikan Pertamina memproduksi dan menjual hanya empat jenis BBM.

"Bensin RON 92 kadar sulfur maksimum 50 ppm, Bensin RON 95 kadar sulfur maksimum 50 ppm, Solar CN 51 dengan kadar sulfur maksimum 300 ppm, dan Solar CN 53 dengan kadar sulfur maksimum 50 ppm," kata Puput dalam webinar, Rabu (29/4).

Sebagaimana diketahui, bensin RON 88 atau Premium saat ini masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat berpendapatan rendah. Apabila BBM jenis ini dihilangkan, tentu akan menambah beban pengeluaran mereka.

Mengenai hal ini, Puput kembali menyerahkan kepada pemerintah dan Pertamina untuk lebih transparan dalam memformulasikan harga BBM. Sebab, menurut catatan KPBB, dibandingkan Australia, Amerika Serikat, maupun Malaysia, harga pokok BBM di Indonesia masih terlalu mahal.

Oleh karenanya menurut Puput, jika penentuan harga dilakukan secara transparan dan tidak ada permainan, maka masyarakat Indonesia bisa mendapatkan BBM dengan kualitas baik namun dengan harga terjangkau. "Jadi, sebenarnya ya kita tahu kalau Premium 88 dan Solar 48 dihapus, itu kebutuhan rakyat kecil, solusinya kan harus restrukturisasi harga," katanya.

"Yang kami harapkan hanya RON 92, RON 95 atau 98, Solar 51 dan Solar 53. Kan bukan berarti harganya harus mahal. Kita belajar dari Malaysia atau Australia," sambungnya.

Australia, lanjut Puput, bisa mendapat RON 95/S10ppm dengan harga pokok penjualan Rp 1.529,14 per liter. Jenis BBM ini kualitasnya lebih tinggi dari Pertamax Turbo yang harga pokok penjualannya mencapai Rp 7.387,50 per liter.

Indonesia juga bisa belajar dari Malaysia yang harga BBMnya lebih stabil, karena adanya subsidi fleksibel. Artinya, ketika harga minyak dunia turun, maka BBM dikenakan pajak. Sementara itu, ketika harga minyak dunia naik, maka pemerintah memberikan subsidi.

Sumber: JawaPos.com
Editor: Erizal
 

Rinaldi

Share
Published by
Rinaldi

Recent Posts

Agung Toyota Gelar Buka Bersama Komunitas dan Media

Agung Toyota Riau menggelar buka puasa bersama komunitas Toyota, Toyota Value Chain dan media di…

18 jam ago

Bupati Suhardiman Amby Tekankan Pelayanan Kesehatan Tetap Berjalan

Bupati Kuansing meminta RSUD dan seluruh puskesmas tetap membuka layanan kesehatan selama 24 jam selama…

18 jam ago

Plh Bupati Rohul Minta OPD Realisasikan Aspirasi Warga

Safari Ramadan Pemkab Rohul berakhir setelah mengunjungi 16 kecamatan. Pemkab meminta OPD menindaklanjuti aspirasi masyarakat,…

18 jam ago

Pembatasan Angkutan Barang Berlaku, Truk Antre Panjang di Roro Bengkalis

Hari terakhir operasional truk di penyeberangan Bengkalis memicu antrean panjang. Pembatasan angkutan barang berlaku 14–28…

18 jam ago

Waspada KLB Campak saat Mudik Lebaran, Lindungi Buah Hati dengan Imunisasi di RS Awal Bros

Momen Lebaran dan mudik ke kampung halaman tetap waspada terhadap ancaman penyakit campak yang saat…

19 jam ago

Zakat ASN Pemprov Riau Capai Rp61 Miliar, Plt Gubri Pimpin Gerakan Berzakat

Zakat ASN Pemprov Riau melalui Baznas mencapai Rp61 miliar. Plt Gubri SF Hariyanto memimpin Gerakan…

2 hari ago