Categories: Ekonomi Bisnis

Warga Okura Diajarkan Masak Mi Sagu

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Asosiasi Perusahaan Jasa Boga (APJI) Riau, mengajarkan masyarakat yang tinggal di sekitar tempat wisata Taman Bunga Impian Okura, tentang cara memasak mi sagu untuk dijual bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah wisata tersebut.

Menurut Ketua APJI Riau, Alfanoni masyarakat yang berjualan di TBI Okura kebanyakan menjual makanan instan dan produk instan lainnya kepada pengunjung. Padahal jika menggunakan makanan khas, hal tersebut dapat mempromosikan kuli­ner khas Riau yang berkunjung ke sana. “Saya lihat yang jualan di sini banyak mie instan,” kata Noni sapaan akrabnya.

Noni dan rekan-rekannya dari APJI juga mengajarkan masyarakat yang tinggal di Okura, teruama ibu-ibu untuk lebih menjual makanan khas seperti mie sagu kepada wisatawan yang datang. Dengan demikian, tidak hanya TBI Okura saja yang bisa terkenal, tetapi juga makanan khasnya.

Dalam demonstrasi di TBI Okura tersebut APJI mendemonstrasikan mie sagu tekstur melayu. Serta cara mempromosikan mie sagu kepada wisatawan yang datang.

“Tekstur mie sagu, tak pakai telor, pakai bilis asam dan pakai daun kucai serta udang. Sederhana, jualnya gak usah porsi besar, porsi sedang aja biar wisatawan bisa tahu,” jelas Noni

Noni memberikan contoh mie sagu untuk dijadikan sebuah identitas kuliner bagi Desa Okura juga bagi Riau. Tak hanya itu, ia juga mengungkapkan jika identitas kuliner di Riau juga di Pekanbaru masih tergolong lemah. Mie sagu misalnya, meskipun banyak dijumpai di Riau, tapi mie sagu belum dikenal sebagai makanan khas Riau.

“Kita melihat Riau ini indentitasnya kurang kuat, maka­nya kami memlih masya­rakat yang tinggal di destinasi wisata untuk memperkenalkannya dan menjadikan mie sagu sebagai makanan khas Riau,” ujar Noni.(*1/ksm)

Noni menambahkan program tersebut bernama diplomasi kuliner, dimana APJI memberikan demonstrasi cara memasak mie sagu serta teknik dalam memasarkannya. Terlebih di daerah wisata, biasanya pengunjung selalu mencari makanan khas suatu daerah, tetapi kebanyakan pedagang yang berjualan hanya menjual produk instan.

“Diplomasi kuliner ini sejalan dengan pariwisat Riau, memperkuat kuliner Riau. Biasanya di satu tempat destinasi banyak yang jual mie instan dan produk instan, yang sifatnya khas itu jarang atau bahkan tidak ada,” tutur Noni.

Selain itu, Noni mengatakan Riau pernah mendapatkan penghargaan di Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2016 dengan membuat 369 menu dari sagu. “Dari sekian banyak itu masak satu aja gak bisa difokusin jadi khas Riau,” pungkasnya.(*2/ksm)

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Cabai Merah Turun Tajam, Harga Sembako Selatpanjang Tetap Stabil

Harga sembako di Pasar Selatpanjang awal Januari 2026 terpantau stabil. Cabai merah turun tajam, sementara…

8 jam ago

Tarik Dana Global, Arab Saudi Izinkan Investor Asing Masuk Pasar Modal

Arab Saudi membuka pasar modal bagi investor asing mulai 1 Februari 2026 dengan menghapus skema…

8 jam ago

Hyundai Perkenalkan Creta Alpha dengan Desain Eksklusif dan Teknologi Terkini

Hyundai resmi meluncurkan Creta Alpha secara daring. SUV B-Compact ini hadir dengan desain lebih premium,…

8 jam ago

Rupiah Tertekan di 2026, Berpotensi Bergerak hingga Rp17.500 per Dolar AS

Tekanan global diperkirakan masih membayangi rupiah pada 2026 dengan potensi pelemahan hingga Rp17.500 per dolar…

10 jam ago

Pemkab Siak Gelar Job Fit Isi SOTK Baru, 27 Pejabat Ikut Uji Kesesuaian

Pemkab Siak menggelar job fit pejabat eselon II untuk mengisi SOTK baru sekaligus mengevaluasi kinerja.…

10 jam ago

Singkirkan Raymond/Joaquin, Sabar/Reza Melaju ke 16 Besar Malaysia Open

Sabar/Reza melaju ke 16 besar Malaysia Open 2026 usai mengalahkan rekan senegara. Fajar/Fikri juga meraih…

10 jam ago