Categories: Ekonomi Bisnis

Kenaikan Harga CPO Tekan Defisit Indonesia

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Badan Pusat Statistik (BPS) membukukan neraca dagang Indonesia sepanjang November 2019 defisit sebesar USD 1,33 miliar. Capaian itu dibukukan dari perolehan ekspor sebesar USD 14,01 miliar dan total impor mencapai USD 15,34 miliar.

Membaiknya beberapa harga komoditas belakangan ini mampu mengurangi pelebaran angka defisit neraca dagang Indonesia. Salah satunya untuk produk kelapa sawit.

"Komoditas nonmigas yang mengalami peningkatan harga per bulan bulan November 2019 adalah minyak kernel, minyak kelapa sawit (CPO), karet, coklat (kakao), dan alumunium. Kenaikan harga atau penurunan harga pada beberapa komoditas itu tentunya akan berpengaruh kepada ketahanan ekspor dan impor kita," terang Kepala BPS Suhariyanto di kantornya, Jakarta, Senin (16/12).

Salah satu contoh harga adalah karet (RSS/ribbed smoked sheet), dari USD 1,43 per kg menjadi USD 1,54 per kg, kakao juga naik dari USD 2,24 per kg menjadi USD 2,52 per kg atau naik 3,28 persen, begitu juga dengan aluminium yang naik dari USD 1.726 per MT menjadi USD 1.775 per MT atau naik 2,84 persen. 

Kemudian, harga minyak kernel sawit mengalami kenaikan 27,27 persen dari USD 594 per Metric Ton (MT) menjadi USD 756 per MT, lalu harga minyak kelapa sawit yang semula harganya USD 591 per MT menjadi USD 683 per MT atau naik 15,57 persen.

Meskipun beberapa komoditas mengalami kenaikan, kenaikan harga komoditas kelapa sawit yang paling berdampak. Bahkan, penurunan laju ekspor pada November ini bisa tertutupi oleh kenaikan harga komoditas kepala sawit.

Nilai ekspor minyak kelapa sawit meningkat dari USD 1,33 miliar pada Oktober menjadi USD 1,45 miliar pada November. Kemudian, untuk volume ekspor naik dari 2,53 juta ton pada Oktober menjadi 2,66 juta ton pada November.

Seperti diketahui, nilai ekspor yang menurun disumbangkan oleh menurunnya bijih, kerak, dan abu logam sebesar USD 239,6 juta, lalu besi dan baja sebesar USD 169 juta, dan bahan bakar mineral sebesar USD 138,5 juta. Selain itu juga ada kendaraan dan bagiannya yang turun sebesar USD 122,4 juta dan logam mulia, perhiasan turun USD 105,2 juta.

Untuk nilai impor, pada November 2019 sebesar USD 15,34 miliar atau naik 3,94 persen dibandingkan Oktober. Komoditas nonmigas yang mengalami peningkatan nilai impor tertinggi adalah mesin atau peralatan listrik sebesar USD 146,8 juta, bahan bakar mineral sebesar USD 137,8 juta, kendaraan dan bagiannya sebesar USD 51,5 juta, mesin dan peralatan mekanis sebesar USD 50,9 juta, dan buah-buahan sebesar USD 46,7 juta.
Sumber: Jawapos.com
Editor: Erizal

Rinaldi

Share
Published by
Rinaldi

Recent Posts

Polres Kuansing Gencarkan Pemberantasan PETI, 48 Rakit Dimusnahkan dalam 7 Hari

Polres Kuansing bersama Polda Riau menindak 16 lokasi PETI dan memusnahkan 48 rakit dalam sepekan.…

2 jam ago

Indonesia Juara Umum Piala Dunia Woodball 2026, Raih 4 Emas di Malaysia

Tim woodball Indonesia menjadi juara umum Piala Dunia Woodball 2026 di Malaysia dengan raihan 4…

5 jam ago

RS Awal Bros Pekanbaru dan Batam Pertahankan Akreditasi JCI untuk Keempat Kalinya

RS Awal Bros Pekanbaru dan Batam berhasil mempertahankan akreditasi internasional JCI untuk keempat kalinya, bertepatan…

6 jam ago

Polres Inhu Gerebek Empat Pengedar Narkoba, Satu Tersangka Ternyata ASN

Polres Inhu menangkap empat tersangka pengedar narkoba, termasuk oknum ASN. Polisi menyita sabu 12,94 gram,…

6 jam ago

Kasus Malaria di Rohil Meningkat, DPRD Segera Panggil Dinas Kesehatan

Kasus malaria meningkat di sejumlah wilayah Rohil. Komisi D DPRD Rohil akan memanggil Diskes untuk…

6 jam ago

Geram Proyek Pasar Bawah Mangkrak, Wali Kota Pekanbaru Ancam Putus Kontrak

Revitalisasi Pasar Bawah Pekanbaru baru 60 persen dan mangkrak berbulan-bulan. Wali Kota Agung Nugroho mengancam…

6 jam ago