Ilustrasi.
JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Setiap kali wilayah Timur Tengah ricuh, pelaku industri global migas kalut. Alasannya pasti sama. Jalur migas dari negara-negara Timur Tengah bakal terhambat dengan keadaan nonkondusif.
Keadaan itu terulang saat isu Iran memanas. New York Times merilis bahwa harga minyak mentah Brent meningkat 3,5 persen menjadi 61 dolar AS (Rp853 ribu) per barel Kamis lalu (11/7/2019).
Satu-satunya alasan yang menahan harga komoditas fosil tersebut meroket adalah ekonomi Cina, konsumen migas terbesar, yang lesu. ’’Kapal dari berbagai negara pasti melalui jalur tersebut. Jika jalur tak aman, risiko pasokan pasti meninggi,’’’ ujar Paolo d’Amico, ketua International Association of Independent Tanker Owners.
Pemerintah Arab Saudi dan Qatar sudah berupaya membuat jalur alternatif. Mereka membangun jalur pipa migas lintas negara sampai ke luar perairan teluk. Namun, jalur tersebut pun masih rentan terhadap serangan. Pada Juni lalu, jaringan pipa itu diledakkan kelompok Houthi dan membuat pasokan minyak terhenti sementara.
Tiga kios semipermanen di Jalan Yos Sudarso Pekanbaru terbakar. Seorang pedagang terluka, sementara api berhasil…
OMODA kembali ke Indonesia bersama JAECOO dan memperkenalkan O4 EV, mobil listrik berbasis AI dengan…
Pria 75 tahun di Inhu ditahan polisi setelah diduga melakukan kekerasan seksual terhadap pasien dengan…
KPK menyita mobil Pajero Sport milik istri Bupati Kuansing Suhardiman Amby dalam penyidikan dugaan suap…
Akses keluar Tol Pekanbaru-Dumai menuju Kota Pekanbaru dialihkan ke Pintu Tol Bypass mulai 30 Juli…
Jembatan bailey sepanjang 24 meter di Jalan Nelayan Pekanbaru selesai dipasang BWS Sumatera III dan…