Categories: Ekonomi Bisnis

Gudang Garam Masuk Bisnis Rokok Elektrik

JAKARTA (RIAUPOS.CO)  –  Usaha baru rokok elektrik bakal dilakukan  PT Gudang Garam Tbk. Emiten berkode GGRM itu akan mendirikan tiga anak usaha baru. Masing-masing berperan sebagai importir, distributor, dan manufaktur produsen.
Direktur Gudang Garam Heru Budiman mengatakan, proses pendirian tiga anak usaha tersebut baru selesai di tahap pembuatan akta perusahaan. Tiga anak usaha itu didirikan untuk persiapan memasuki bisnis rokok elektrik.
“Kami masih memantau perkembangan bisnis dan pasar rokok elektrik. Tiga perusahaan tersebut belum melakukan aktivitas apa-apa. Tidak ada karyawannya, tidak ada biayanya, kecuali biaya (mengurus) izin PT,” katanya dalam public expose.
Menurut Heru, rokok elektrik tidak bisa menggantikan produk konvensional. Pihaknya juga tidak khawatir dengan adanya perilaku konsumen yang beralih dari produk tembakau ke elektrik.
“Selain biaya yang lebih murah, konsumen merasa kepuasan produk tembakau belum tergantikan,” ujarnya.
Perolehan margin laba kotor produsen rokok Gudang Garam turun pada semester I 2021. Hanya 10,8 persen dari 16,1 persen pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut disebabkan kenaikan tarif cukai yang tinggi dalam dua tahun terakhir.
Sementara itu, GGRM terus melanjutkan pembangunan Bandara Dhoho di Kediri, Jawa Timur, di tengah pandemi Covid-19. Terbaru, perseroan sedang dalam proses penyiapan lahan.
Direktur Gudang Garam Istata Taswin Siddharta mengatakan, bandara itu ditargetkan rampung pada 2023. GGRM sudah mengeluarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) hampir Rp5 triliun. Pembangunan proyek tersebut membutuhkan dana sekitar Rp9 triliun.
“Capex tersebut digunakan termasuk untuk memenuhi biaya perolehan lahan, konsultan, desain, dan lain-lain,” kata Istata.
Terkait dengan masa konsesi bandara, Istata menyebutkan bahwa pihaknya belum mendapat keputusan dari pemerintah mengenai jangka waktu. Menurut dia, waktu konsesi yang ideal supaya Gudang Garam bisa mencapai break even point (BEP) adalah lebih dari 50 tahun.
“Akan tetapi, jangka waktu untuk mencapai BEP sangat bergantung pada perkembangan daerah dan tingkat traffic bandara itu sendiri. Kalau traffic-nya bisa banyak naik, mungkin di bawah 50 tahun sudah bisa BEP,” jelasnya.
Sumber: Jawapos.com
Editor: Erwan Sani

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Proyek Tol Bukittinggi-Sicincin Masuk Tahap Awal, Pengadaan Lahan Mulai Dikaji

Pembangunan Tol Bukittinggi-Sicincin mulai memasuki tahap awal. Pengadaan lahan dan dampak proyek menjadi fokus pembahasan.

1 jam ago

Pesta Pembuka Piala Dunia 2026, El Tri! Meksiko Bekuk Afrika Selatan 2-0 di Stadion Azteca

Meksiko membuka Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 2-0 atas Afrika Selatan dalam laga yang diwarnai…

1 jam ago

Pasokan BBM Terlambat Masuk, Antrean Kendaraan Mengular di Sejumlah SPBU Bengkalis

Keterlambatan pasokan BBM ke Pulau Bengkalis menyebabkan antrean panjang di SPBU. Warga juga mengeluhkan mahalnya…

21 jam ago

Bayi Gajah Sumatera Lahir di Tesso Nilo, Kondisinya Sehat dan Aktif Menyusu

Seekor bayi Gajah Sumatera betina lahir sehat di Taman Nasional Tesso Nilo. Kelahiran ini menambah…

22 jam ago

Belanja Pegawai Meranti Tembus Rp399 Miliar, Disebut Jadi Bom Waktu APBD

Belanja pegawai Kepulauan Meranti mencapai 34,37 persen dari APBD. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius…

23 jam ago

Bupati Bengkalis Tegas: Jangan Ada Titipan dan Jual Beli Kursi Saat SPMB

Bupati Bengkalis Kasmarni menegaskan SPMB 2026/2027 harus bebas titipan, jual beli kursi, pungli, dan penyalahgunaan…

24 jam ago