Categories: Ekonomi Bisnis

Perjanjian Dagang dengan Swiss Bisa Pulihkan Ekspor CPO ke Eropa

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Pandemi Covid-19 masih akan membayangi kinerja ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) Indonesia tahun ini. Karena itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) merasa perlu memetakan dan mengembangkan ekspor. Terutama ke pasar Eropa.

Sepanjang 2020, Indonesia berhasil mencatatkan total volume ekspor sebesar 34 juta ton. Nilainya berkisar 22,9 miliar dolar AS atau setara dengan Rp329,9 triliun. Itu menjadi bagian dari surplus neraca dagang.

”Angka tersebut menunjukkan bahwa pada masa pandemi, kontribusi minyak sawit terhadap devisa negara sangat signifikan,” ujar Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono, Selasa (9/3/2012).

Ekspor CPO Indonesia memang kerap menghadapi kendala. Salah satunya adalah black campaign oleh Uni Eropa (UE). Namun, baru-baru ini Indonesia menyegel perjanjian dagang dengan Swiss. Termasuk soal komoditas CPO. Gapki menilai perjanjian itu sebagai peluang untuk kembali mendominasi pasar Eropa.

"Meski pasar Swiss tidak signifikan, ada peluang Swiss dapat mendistribusikan kelapa sawit Indonesia ke negara Eropa lainnya,” ungkap Mukti.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menyatakan bahwa berbagai kampanye antisawit dan pelarangan di Benua Biru merupakan refleksi persaingan dagang dan tidak berpijak pada fakta. Keberatan itu disampaikan saat memimpin delegasi Indonesia dalam sidang gugatan diskriminasi CPO di World Trade Organization (WTO) beberapa waktu lalu.

"Ini refleksi ketakutan mereka terhadap tingginya daya saing kelapa sawit Indonesia. Jika bersaing secara sehat, kelapa sawit Indonesia jauh lebih murah dan lebih kompetitif daripada minyak nabati mereka yang berbahan rapeseed dan sejenisnya,” urai Jerry.

Menurut Mukti, Gapki optimistis menghadapi 2021. Produksi minyak kelapa sawit bahkan diprediksi naik karena pemeliharaan kebun yang lebih baik serta dorongan harga komoditas CPO yang tinggi. Dia juga menegaskan bahwa program biodiesel B30 bakal menyerap 9,2 juta kiloliter atau setara dengan 8 juta ton minyak sawit.

Soal proyeksi pasar ekspor, Mukti menyinggung pentingnya dampak vaksinasi untuk membangun kepercayaan pasar global. ”Keberhasilan program vaksin akan meningkatkan aktivitas ekonomi sehingga meningkatkan konsumsi minyak nabati secara global, termasuk sawit,” ujarnya.(agf/c12/hep/jpg)

 

Editor: Eka G Putra

 

 

Share
Published by

Recent Posts

Penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru Berjalan Normal di Tengah Kabut Asap

Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional SSK II Pekanbaru berjalan aman dan normal meski Kota Pekanbaru…

10 jam ago

Opening Party Honda DBL 2026 Riau Bergulir Hari Ini di Gelanggang Remaja Pekanbaru

Kompetisi basket pelajar bergengsi Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Riau resmi bergulir mulai…

10 jam ago

Sidang Korupsi Kuansing: Sopir Zulkarnain dan Istri Suhardiman Amby Bersaksi

Persidangan kasus suap mantan Sekda Kuansing Zulkarnain mengungkap alur pembayaran angsuran Pajero Sport dan penguasaan…

16 jam ago

Kabut Asap Makin Tebal, Disdikbud Pelalawan Liburkan Tatap Muka di 8 Kecamatan

Disdikbud Kabupaten Pelalawan memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di 8 kecamatan akibat memburuknya kualitas udara…

16 jam ago

Tabrakan Beruntun 10 Mobil di Lampung Akibat Asap Tebal, 2 Orang Meninggal

Kecelakaan beruntun melibatkan 10 kendaraan terjadi di Jalan Lintas Pantai Timur Sumatera, Tulang Bawang, Lampung…

19 jam ago

Persidangan Korupsi Kuansing Ungkap Mantan Kabag Umum Punya Rekening Rp2,9 Miliar

Persidangan perkara korupsi mantan Sekda Kuansing Zulkarnain mengungkap transaksi bernilai total Rp2,9 miliar di dua…

1 hari ago