Categories: Ekonomi Bisnis

Tahun Ini, Pengeboran Lapangan Minyak East Natuna Dilakukan

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Wilayah Natuna yang saat ini tengah bersengketa dengan China ternyata memiliki sumber daya alam (SDA) yang cukup potensial di sektor energi. Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) akan berfokus dalam pengembangan lapangan minyak terlebih dahulu.

Plt. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto menjelaskan, di Natuna terdapat dua lapangan, yakni lapangan minyak dan lapangan gas.

“East Natuna ada dua lapangan. Satu lapangan gas yang mengandung CO2-nya tinggi, satu lapangan minyak. Kita mau menyelesaikan yang lapangan minyaknya dulu,” ujarnya di gedung Kementerian ESDM Jakarta, Kamis (9/1).

Alasan pemerintah lebih memprioritaskan pengembangan lapangan minyak dibanding gas, karena dalam mengembangkan lapangan gas secara tekhnis sulit, karena kandungan karbondioksida (CO2) di blok tersebut sangat tinggi, bisa mencapai 72 persen.

“Karena kalau minyak kan investasinya tidak terlalu besar tidak ada masalah pemisahan CO2 kan. Kalau CO2 nya besar investasi memisahkan CO2 nya itu besar sehingga agak mahal,” tuturnya.

Djoko menyebut, pengeboran lapangan minyak di East Natuna sudah dapat dilakukan. “Kita fokus ke minyaknya dulu mudah-mudahan tahun ini sudah mulai dilakukan pengeboran minyaknya,” ucapnya.

Lebih jauh, Djoko mengatakan, PT Pertamina (Persero) selaku operator di blok kawasan tersebut saat ini masih mencari partner pengembangannya. Pertamina tengah mengajukan proses pemindahan eksplorasi dari lapangan gas ke minyak.

“Disamping itu juga ada lapangan sembilang di Natuna akan kita selesaikan bulan ini juga. Pertamina sebagai operator, sekarang Pertamina sedang mencari partner. Exon juga kita tawarkan,” tutupnya.

Sebagai informasi, Blok East Natuna sudah ditemukan sejak 1973 dan memiliki potensi cadangan gas terbukti 46 triliun kaki kubik. Total produksi minyak dari blok-blok yang berada di Natuna adalah 25.447 barel per hari. Sementara produksi gas bumi tercatat sebesar 489,21 MMSCFD.

Berdasar data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), volume gas di blok East Natuna bisa mencapai 222 TCF (triliun kaki kubik). Tapi cadangan terbuktinya hanya 46 TCF , jauh lebih besar dibanding cadangan blok Masela yang 10,7 TCF.

Namun, kandungan karbondioksida di blok tersebut sangat tinggi, bisa mencapai 72 persen. Sehingga diperlukan teknologi yang canggih untuk mengurai karbon tersebut. Sementara, untuk cadangan minyak diperkirakan mencapai 36 juta barel.

Sumber: Jawapos.com
Editor: E Sulaiman

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Sempat Dirawat Hampir Sebulan, JCH Asal Pekanbaru Wafat di Batam Sebelum Berangkat ke Tanah Suci

JCH asal Pekanbaru meninggal dunia di Batam setelah menjalani perawatan hampir sebulan sebelum keberangkatan haji.

11 jam ago

Kecelakaan Maut di Tol Permai, Dua Meninggal dan Enam Luka Berat

Kecelakaan tunggal di Tol Pekanbaru–Dumai diduga akibat microsleep. Dua orang meninggal dunia, enam luka berat.

11 jam ago

Sidang Korupsi Abdul Wahid Kembali Bergulir, Jaksa Soroti CCTV Rusak dan Tas Mewah Hasil Sitaan

Sidang Abdul Wahid kembali digelar. Jaksa KPK menyoroti CCTV rusak dan temuan barang mewah saat…

11 jam ago

Wahana FC Sudah Lolos, PSSI Riau Masih Buka Peluang Tambah Satu Wakil

PSSI Riau masih mengupayakan tambahan kuota Liga 4 nasional agar Energi Bintang Riau berpeluang menyusul…

11 jam ago

Warga Tembilahan Padati Pasar Murah, Harga Bahan Pokok Lebih Bersahabat

Gerakan Pangan Murah di Tembilahan dipadati warga yang berburu kebutuhan pokok terjangkau menjelang Hari Raya…

12 jam ago

Jembatan Merah Putih Presisi di Logas Rampung, Akses Warga Kini Lebih Mudah

Jembatan Merah Putih Presisi di Desa Logas selesai dibangun dan diharapkan mempermudah mobilitas serta aktivitas…

12 jam ago