AIRLANGGAN HARTANTO
JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Perjalanan pertumbuhan ekonomi untuk sampai ke level 7 persen masih panjang. Padahal, Bappenas pernah melakukan kalkulasi untuk mencapai target dalam visi Indonesia Emas sebagai negara maju pada 2045. Dalam skenario normal, pertumbuhan ekonomi harus mencapai 5,7 persen per tahun. Angka itu perlu dicapai secara konsisten sejak 2022 hingga 2045.
Jika target tersebut dipercepat ke 2038, pertumbuhan ekonomi Indonesia harus mencapai 7 persen. Memandang hal itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa salah satu penyebab ekonomi masih di level 5 persen adalah tingginya biaya berinvestasi di dalam negeri.
Airlangga menjelaskan, hal itu tecermin dari angka incremental capital output ratio (ICOR) yang cukup tinggi, bahkan di atas target pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, lanjut dia, jika ICOR bisa diturunkan ke level 4 persen, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa merangkak ke level 6–7 persen. ’’ICOR kita masih sekitar di angka 6 lebih sedikit. Dibandingkan negara lain masih tinggi,’’ ujar Airlangga dalam konferensi pers, Senin (5/2).
Meskipun demikian, Airlangga menyebutkan bahwa kondisi itu adalah hal yang lumrah. Sebab, Indonesia tengah mendorong pembangunan infrastruktur. Dengan infrastruktur yang terbangun masif, dia yakin pertumbuhan ekonomi RI akan membaik dan diikuti perbaikan ICOR.(dee/dio/jpg)
Wali Kota Pekanbaru sidak Kecamatan Marpoyan Damai dan menekankan pelayanan cepat serta kenyamanan warga.
Distankan Pekanbaru telah memeriksa 3.754 hewan kurban dan memastikan belum ditemukan kasus penyakit.
Umri melantik wakil rektor baru dan menargetkan penguatan tata kelola kampus menuju standar internasional.
Universitas Riau mewisuda 1.891 lulusan dan mengajak alumni menjadi generasi adaptif, inovatif, serta berdaya saing.
PN Bengkalis menolak gugatan praperadilan kasus karhutla dan menguatkan keabsahan proses penyidikan Polres Bengkalis.
Pegawai PNM Ukui, Ardi Yahya, ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di Sungai Indragiri, Inhu