Categories: Kampar

Pandemi, Pengelola Wisata Wajib Patuhi Aturan

BANGKINANG (RIAUPOS.CO) – Pasca diperpanjangnya ope­rasional posko penyekatan di perbatasan Riau-Sumatera Barat (Sumbar), sejumlah objek wisata di Kampar diminta tetap mematuhi aturan pembatasan pengunjung. 

Pengelola direkomendasikan hanya menerima 30 persen dari total dari kapasitas objek wisatanya selama pembatasan tersebut.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana Kampar Dedy Sambudi menyebutkan, pembatasan ini sesuai instruksi dari Bupati meneruskan surat edaran dari Gubernur Riau maupun dari Kemendagri. Pembatasan ini dimaksudkan untuk menekan angka penularan Covid-19, khususnya di Kabupaten Kampar.

Kampar sendiri merupakan daerah rawan penyebaran Covid-19. Berada di tengah-tengah wilayah Provinsi Riau, sama halnya dengan Kota Pekanbaru, arus lalu lintas masuk dan keluar daerah ini cukup tinggi. Terutama Kampar karena beberapa tahun terakhir Kampar menjadi tujuan wisata cukup populer di Provinsi Riau lewat sejumlah objek wisata alaminya.

"Pembatasan ini, selain sebagai sebuah langkah pencegahan penularan Covid-19, juga karena alasan keselamatan. Menyambut akhir pekan dan masih suasana lebaran ini, biasanya angka kunjungan wisata meningkat. Kita tahun sejumlah objek wisata di Kampar ini objek wisata alam, berada di tepi sungai dan juga perbukitan yang rawan terjadi insiden dan kecelakaan. Kita mengantisipasi hal ini juga,"kata Dedy.

Memang, lanjut Dedy, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Satgas Covid-19 Kampar tidak merekomendasikan objek wisata untuk menutup layanan selama pembatasan mobilitas masyarakat. Namun pihak pengelola diminta untuk menaati aturan, terutama soal protokol kesehatan (prokes). Pihaknya hanya merekomendasikan pengelola menerima maksimal 30 persen dari total kapasitas tempat wisatanya.

 "Ini juga soal pencegahan kerumunan dan juga keselamatan pengunjung. Ada beberapa insiden beberapa waktu terakhir ini yang berujung kematian di objek wisata. Ini juga harus menjadi perhatian pengeloa objek wisata di Kampar,"terangnya.

Selain itu, menjelang pembukaan pos pembatasan di perbatasan Riau-Sumbar pada tanggal 25 Mei 2021 mendatang, Dedy meminta pengendara tetap waspada. Karena jalur lintas Riau-Sumbar cukup rawan bencana alam, terutama longsor. Hujan yang kerap turun meningkatkan resiko terjadi longsor di sejumlah titik jalan yang diapit perbukitan. 

Dirinya meminta pengendara tetap waspada dan tetap ikuti semua prosedur prokes maupun kesalamatan dalam berlalu lintas.(kom)
 

Laporan : HENDRAWAN KARIMAN (Bangkinang)

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

APBD Terbatas, Meranti Andalkan Program IJD untuk Benahi 9,6 Km Jalan

Pemkab Kepulauan Meranti mengusulkan tiga ruas jalan sepanjang 9,6 km masuk program IJD dengan kebutuhan…

4 jam ago

Kabut Asap Karhutla Kembali Selimuti Pekanbaru, Polusi Tertinggi Ketiga di Indonesia

Kabut asap karhutla masih menyelimuti Pekanbaru. Kualitas udara memburuk, AQI mencapai 171 dan 156 titik…

5 jam ago

Bentrokan Konflik Lahan 80 Hektare di Kuansing, 9 Orang Terluka

Bentrokan dua kelompok terkait konflik lahan 80 hektare terjadi di Kuansing. Sembilan orang terluka dan…

5 jam ago

Jalan Sontang-Duri Kembali Berlumpur, Truk Bermuatan Berat Banyak Terjebak

Jalan Sontang-Duri kembali rusak setelah hujan menggerus timbunan. Truk bermuatan berat kesulitan melintas dan terjebak…

6 jam ago

Erupsi 4 Gunung Bikin 8 Bandara Ditutup, 35 Penerbangan Pekanbaru-Jakarta Batal

Erupsi empat gunung mengganggu penerbangan. Sebanyak 35 penerbangan dari dan ke Pekanbaru batal setelah delapan…

6 jam ago

Distribusi Tersendat, Semen di Rohul Langka hingga Warga Harus Antre

Kelangkaan semen di Rohul hampir sebulan membuat warga harus booking. Omzet toko bangunan turun hingga…

6 jam ago