Categories: Riau

Perlu Kolaborasi Kendalikan Penularan

PEKANBARU, (RIAUPOS.CO) – KASUS pasien positif Covid-19 di Provinsi Riau tidak juga melandai. Terhitung Jumat (18/9), kasus positif bertambah 225 orang. Alhasil total positif di Riau mencapai 4.867 orang. Ada pun pasien yang sembuh mencapai 2.012.

Sedangkan pasien positif yang meninggal bertambah tiga orang. Totalnya menjadi 95 orang.

Meningkatnya penyebaran Covid-19 di Bumi Lancang Kuning memantik kekhawatiran semua pihak. Apalagi wabah ini juga telah merenggut nyawa setiap hari. Pemprov Riau mau pun kabupaten/kota diminta sigap dan membuat kebijakan yang komprehensif dalam menangani pandemi ini.

Juru Bicara Tim Satuan Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Riau dr Indra Yovi pekan lalu mengatakan, saat ini tren penambahan pasien positif terbanyak di Kota Pekanbaru. Untuk itu, daerah ini perlu mendapat perhatian utama.

"Tapi di Pekanbaru, penambahannya luar biasa. Karena penularannya sudah liar, kami tidak tahu dari mana penularannya," katanya.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Riau Khairul Amri menilai penyebaran di Riau semakin liar, terutama di Kota Pekanbaru.

"Di Pekanbaru saja misalnya, pemko sudah meminimalisir dengan sebuah kebijakan untuk menekan angka itu, namun kita lihat belum maksimal. Nah, kapan kebijakan dikatakan maksimal, yaitu jika tujuannya sudah tercapai," kata Khairul Amri MSi kepada Riau Pos, Jumat (18/9).

Saat ini, wabah Covid-19 juga sudah memunculkan klaster-klaster baru, paling banyak sekarang yaitu klaster keluarga. Untuk itu, Khairul juga meminta Pemprov Riau sebagai decision maker untuk membuat kebijakan yang kolaboratif, tentunya melibatkan pemerintah di kabupaten/kota.

"Karena hari ini, masing-masing daerah beragam soal kenaikan jumlah pasien. Makanya perlu strategi dan kebijakan juga. Namun angka tertinggi masih di Pekanbaru, tak bisa dipungkiri, karena ini ibukota dan pusat ekonomi di Riau," ungkapnya.

Namun yang pasti, menurutnya di sinilah peran Gubri sebagai fasilitator dan komunikator sehingga bisa menciptakan suatu kebijakan yang kompeherensif, sehingga dampaknya maskimal dan luas.

"Perlu ada strategi yang matang. Sekarang, tenaga kesehatan sudah banyak bertumbangan. Kita harus bisa memprediksi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Harus direncanakan hari ini, dipersiapkan. Jangan ketika sudah terjadi, maka kita panik semua," ujarnya.

Makanya, Khairul juga menyarankan agar pemerintah dapat mengidentifikasi masalah. Terutama apa yang bakal terjadi ke depan harus dipersiapkan solusinya sejak dini.

"Jangan ketika sudah terjadi, kita kebingungan. Harus ada strategi kedua, langkah antisipatif, supaya hal itu tak terjadi. Dan kalau terjadi tentu harus punya langkah yang dilakukan, yaitu planing B. Pemprov adalah leading sektor, jadi kolaboratif government itu sangat penting diterapkan dalam penanganan Covid-19 ini," tuturnya.

Untuk masyarakat juga, dosen Universitas Riau ini menerangkan, bahwa berhasilnya sebuah kebijakan itu tergantung masyarakatnya.

"Masyarakat bukan objek, tapi adalah subjek dalam kebijakan ini. Untuk mengantisipasi penyebaran yang semakin liar," katanya.

Harapannya, kepada masyarakat berhasilnya kebijakan atau tidak itu tergantung masyarakat. "Jadi kebijakan itu, kalau masyarakat tertib tujuan kebijakan itu pasti tercapai," katanya.

Belum terjalinnya kolaborasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota ini bisa dilihat dari realisasi dana Covid-19 di Pemprov Riau. Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Riau Indra dalam percepatan penanganan Covid-19 mengatakan, Pemprov Riau menganggarkan dana sebesar Rp474 miliar. Anggaran tersebut dipakai untuk tiga kegiatan. Yakni untuk penanganan kesehatan yang diposkan di Dinas Kesehatan dan RSUD, pemulihan ekonomi di Dinas Perdagangan dan Koperasi, dan  anggaran jaring pengaman sosial.

"Realisasi anggaran tersebut sampai saat ini sebesar 48 persen, realisasi tersebut memang cukup lambat, mengingat penggeseran anggaran sudah dilakukan sejak beberapa bulan yang lalu. Lambatnya realisasi dikarenakan adanya kehati-hatian dari pemerintah dalam merealisasikan anggaran," sebutnya.

Selain faktor kehati-hatian, faktor lambatnya usulan dari pemerintah kabupaten/kota terutama dalam hal dana jaring pengaman sosial juga cukup berpengaruh. Lambatnya pengajuan tersebut juga dikarenakan tidak lengkapnya administrasi.

"Seperti dana untuk jaring pengaman sosial kemarin, ada daerah yang sudah mencairkan hingga dua tahap. Justru ada daerah yang belum mengajukan sama sekali," ujarnya.

Padahal kalau adanya kolaborasi Pemprov Riau dengan pemerintah kabupaten/kota tentunya penyerapan anggaran ini akan lebih maksimal.

 

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Tiga Bulan Belajar di Dunia Media, Mahasiswa Unri Rampungkan Program Magang Berdampak di Riau Pos

Mahasiswa Unri sukses menyelesaikan program Magang Berdampak selama tiga bulan di Riau Pos dengan bekal…

30 menit ago

Tangis dan Bangga Warnai Pelepasan 250 Siswa SMPN 25 Pekanbaru

Pelepasan 250 pelajar kelas IX SMPN 25 Pekanbaru berlangsung khidmat, meriah, dan penuh suasana haru.

46 menit ago

Sewa Lima Hari, Mobil Malah Digelapkan, Pasutri Berakhir Ditangkap

Pasutri di Tapung ditangkap polisi setelah diduga menggelapkan mobil rental yang tak dikembalikan kepada pemiliknya.

55 menit ago

Pantai Solop Diawasi Ketat Saat Iduladha, Maksiat dan Narkoba Jadi Perhatian

Pengawasan di Pantai Solop diperketat selama libur Iduladha untuk mencegah maksiat, miras, narkoba dan perilaku…

1 jam ago

Korupsi Bibit Kopi Liberika di Meranti, Kerugian Negara Rp663 Juta Berhasil Dipulihkan

Kejari Kepulauan Meranti berhasil memulihkan kerugian negara Rp663 juta dari kasus korupsi pengadaan bibit kopi…

1 jam ago

Kursi Kadis PUPR Riau Berganti, SF Hariyanto Tunjuk Zulfahmi Jadi Plt

SF Hariyanto menunjuk Zulfahmi sebagai Plt Kadis PUPR-PKPP Riau untuk penyegaran dan percepatan pembangunan infrastruktur.

2 jam ago