Categories: Riau

Adopsi Integrasi Sawit-Sapi

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Untuk me­menuhi keperluan sapi potong di Provinsi Riau, Pe­me­­rintah Provinsi Riau akan mengadopsi sistem integrasi pengembangan ternak sapi di perkebunan sawit yang cukup luas di Riau dengan melibatkan pihak perusahaan.

Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau SF Hariyanto mengatakan, jumlah penduduk Riau tercatat mencapai angka 6.493.600 jiwa dengan jumlah produksi daging per kapita per tahun  mencapai 3 kilogram. Jumlah itu setara dengan 62.852 ekor sapi per tahun.

"Sehingga total keperluan daging dalam setahun mencapai 19.480 ton atau setara dengan 152.659 sapi per tahun," paparnya.

Lebih lanjut dikatakan SF Hariyanto, bahwa total populasi sapi di Provinsi Riau mencapai 209.601 ekor, namun ketersediaan sapi lokal yang dapat dipotong hanya sebanyak 21.146 ekor. Dengan jumlah itu masih kekurangan sapi sebanyak 128.513 ekor sapi.

"Kekurangan daging sapi ini masih dipenuhi dari luar daerah, baik dalam bentuk daging beku maupun sapi potong. Untuk mencapai swasembada daging, sampai atau tidak masih bergantung keperluan daging dari luar Provinsi Riau," ungkapnya.

Oleh karena itu, kata sekda, diperlukan populasi dasar ternak sapi minimal sebanyak 1.115.564 ekor sapi agar tercipta swasembada di Provinsi Riau.

"Untuk mencapai hal tersebut, bukanlah tidak mungkin, mengingat potensi luasnya perkebunan sawit di Provinsi Riau yang dapat dijadikan sumber bahan pakan ternak, khususnya teknak sapi," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Riau Herman mengatakan, jika keperluan sapi di Provinsi Riau hanya mampu dipenuhi sapi lokal sekitar 15,82 persen dari total populasi sapi.

"Sedangkan sisanya kita datangkan dari luar provinsi tetangga. Misalnya saja keperluan di Rumah Potong Hewan (RPH) Pekanbaru rata-rata setiap hari 40 ekor didatangkan dari luar," katanya.

Jika kondisi ini tidak segera dicarikan solusinya, lanjut Herman, maka ketika ada wabah mengancam seperti baru-baru ini penyakit LSD, maka sapi yang didatangkan dari Provinsi Lampung sempat tertahan. "Akibatnya terjadi kelangkaan daging sapi di Pekanbaru. Permintaan banyak, sedangkan ketersediaan sedikit, maka dampaknya harga daging sapi tinggi," ujarnya.(ade)

 

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

10 Jalur Lolos ke Hari Ketiga, Pacu Jalur Rayon II Disaksikan Ribuan Penonton

Hari pertama Pacu Jalur Rayon II di Tepian Narosa berlangsung meriah. Sebanyak 10 jalur berhasil…

5 jam ago

Suhardiman Amby Terima Dua Penghargaan Nasional Langsung dari Menteri Agama

Bupati Kuansing Suhardiman Amby menerima dua penghargaan dari Menteri Agama RI pada pembukaan MTQ Riau…

5 jam ago

Mahasiswa ITB Indragiri Bikin Agroeduwisata, Pengunjung Bisa Petik Melon Langsung

Mahasiswa ITB Indragiri mengembangkan agroeduwisata melon madu di Rengat. Selain menjadi tempat belajar, lokasi ini…

6 jam ago

Sempat Hilang Saat Mancing, Riki Ditemukan Tak Bernyawa di Danau PLTA Koto Panjang

Pemancing bernama Riki ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di Danau PLTA Koto Panjang. BPBD mengimbau…

6 jam ago

Hari Pertama Pacu Jalur Rayon II Berlangsung Meriah, 10 Jalur Lolos ke Babak Ketiga

Hari pertama Pacu Jalur Rayon II di Tepian Narosa berlangsung meriah. Ribuan penonton hadir, sementara…

20 jam ago

Ribuan Peserta Tumpah Ruah, Pawai Taaruf MTQ Riau Bikin Teluk Kuantan Macet Total

Pawai taaruf MTQ Riau ke-44 di Teluk Kuantan berlangsung meriah. Sebanyak 17 ribu peserta dan…

23 jam ago