Categories: Riau

Anjloknya Harga TBS Dipengaruhi Banyak Faktor

(RIAUPOS.CO) — Dinas Perternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) menilai anjloknya harga jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit milik masyarakat khususnya kebun pribadi.
Di antaranya rendahnya rendemen TBS karena perawatan yang tidak sesuai standar, selain biaya lansir karena lokasi kebun yang jauh, tidak bekerja sama atau pola KKPA dengan perusahaan serta TBS dijual kepada pengepul yang pastinya harganya di bawah harga pabrik.
Plt Kepala Disnakbun Rohul Ir H Sri Hardono MM, mengungkapkan, terlepas adanya ketetapan harga TBS oleh tim bersama Pemprov Riau, fakta di lapangan menunjukan masih banyak petani sawit di Rohul yang mengeluhkan murahnya harga jual TBS yang menyentuh harga terendah Rp500 sampai Rp700 perkilogram.
Selain banyak faktor penyebab anjloknya harga jual TBS, Sri meminta kepada para petani khususnya kebun pribadi atau petani swadaya, agar dapat mengurus Surat Tanda Daftar Perkebunan (STDP) agar bisa menjual TBS langsung ke pabrik kelapa sawit, sehingga pabrik tidak bisa menekan harga jual TBS.
‘’Sekarang panjang mata rantai alur penjualan TBS kelapa sawit kebun pribadi, menyebabkan biaya yang dikeluarkan petani untuk menjual ke PKS pun semakin besar sehingga berdampak kepada harga jual TBS itu sendiri. Saat ini secara global harga jual TBS mengalami penurunan. Itu disebabkan karena anjloknya harga crude palm oil (CPO) khususnya asal Indonesia di luar negeri,’’ tuturnya.
Diakuinya, anjloknya harga jual CPO Indonesia, salah satunya banyaknya perusahaan, khususnya di Rohul yang belum memiliki sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai standarisasi tata kelola sawit berkelanjutan.
Karena didalam ISPO itu diatur tata kelola usaha perkebunan sawit yang menjamin kualitas produksi, dengan tetap mengedepankan aspek-aspek lingkungan seperti tidak berada di kawasan hutan, pembukaan lahan yang ramah lingkungan dan tidak dilakukan dengan cara membakar dan lain sebagainya.
‘’CPO yang dijual ke luar negeri, legalitas CPO-nya dipertanyakan, legal atau tidak. Kalau nggak legal mereka tak mau beli, Nah ISPO ini semacam bukti, tapi faktanya di Rohul saja, hanya beberapa perusahaan yang punya ISPO. Yang tak punya ISPO jual CPO-nya ke perusahaan yang punya ISPO dengan harga murah, ujung-ujungnya perusahaan yang tak punya ISPO ini menekan harga jual TBS di pabrik,’’ tuturnya.(adv)

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Aksi Curanmor Terbongkar, Pelaku 18 Tahun Ditangkap di Kediaman Mertua

Polisi menangkap pemuda 18 tahun terduga pelaku curanmor di Inhu. Motor korban dicuri saat dini…

18 jam ago

Monyet Liar Kembali Menggigit Warga, Korban di Tembilahan Bertambah Jadi 11 Orang

Teror monyet liar di Tembilahan Hilir, Inhil, semakin meresahkan. Hingga kini 11 warga menjadi korban…

19 jam ago

Tragedi Bocah 9 Tahun Meninggal di Jalan Sontang-Duri, Himarohu Riau: Jangan Tunggu Korban Berikutnya

Meninggalnya bocah 9 tahun setelah terjebak di Jalan Sontang-Duri memicu sorotan. Himarohu Riau mendesak Pemprov…

2 hari ago

Monyet Liar Terus Teror Warga Tembilahan Hilir, 10 Orang Jadi Korban

Korban gigitan monyet liar di Tembilahan Hilir bertambah menjadi 10 orang. Tim gabungan mengintensifkan pencarian…

2 hari ago

Polres Kuansing Gencarkan Pemberantasan PETI, 48 Rakit Dimusnahkan dalam 7 Hari

Polres Kuansing bersama Polda Riau menindak 16 lokasi PETI dan memusnahkan 48 rakit dalam sepekan.…

2 hari ago

Indonesia Juara Umum Piala Dunia Woodball 2026, Raih 4 Emas di Malaysia

Tim woodball Indonesia menjadi juara umum Piala Dunia Woodball 2026 di Malaysia dengan raihan 4…

3 hari ago