Categories: Politik

Dari 9 Pilgub, 2 Paslon yang Lolos

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Penyerahan berkas dukungan untuk bakal calon gubernur dari jalur perseorangan sudah ditutup, Kamis (20/2) pukul 24.00. Hasilnya, dari sembilan provinsi yang melakukan pemilihan gubernur, hanya ada dua bakal calon saja yang menyerahkan berkas dukungannya ke kantor KPU provinsi masing-masing.

Keduanya adalah bakal paslon gubernur perseorangan dari Kalimantan Utara Abdul Hafid Achmad-Makinun Amin dan dari Sumatera Barat Fakhrizal-Genius Umar. Sebetulnya, ada lima bakal paslon lagi yang direncanakan menyerahkan dukungan, namun hingga penutupan, mereka batal menyerahkan. Bahkan, beberapa di antaranya sempat menginput dukungan di Sistem Informasi Pencalonan (SILON) KPU.

Komisioner KPU RI Hasyim Asyari menjelaskan, meski ada dua bakal paslon perseorangan yang menyerahkan dukungan, keduanya belum tentu mengikuti Pilkada. Sebab, bukti dukungan harus melalui proses verifikasi di lapangan. Jika jumlah dukungannya memenuhi dan valid, yang bersangkutan memenuhi syarat untuk mendaftar sebagai calon gubernur Juni nanti.

Sementara itu, Komisioner KPU RI Viryan menambahkan, jumlah bakal calon perseorangan di Pilkada kali ini turun drastis. Di tahun 2015 lalu, di sembilan provinsi yang sama, ada delapan bakal calon perseorangan yang menyerahkan dukungan.

Terkait penyebab penurunan, Viryan mengaku tidak tahu pastinya. Namun jika dianalisa, ada dua hal yang mungkin mempengaruhi. Yakni regulasi dan kondisi politik. "Ada pihak menilai syaratnya semakin berat," ujarnya di Kantor KPU RI Jakarta, kemarin (21/2).

Dilihat dari regulasinya, terjadi sedikit perubahan dibanding 2015. Meski secara presentase sama, yakni 6,5 – 10 persen, namun basisnya berbeda. Di 2015, presentase tersebut dihitung dari jumlah penduduk. Sementara sejak Pilkada 2017, persentasenya diambil dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT). Sehingga ceruk dukungan semakin sempit. "Maka memang secara kuantitatif dia lebih tinggi, lebih susah," imbuhnya.

Kemudian dari sisi politik, dia memperkirakan ada kondisi psikologis yang berbeda. Bisa saja, bakal paslon lebih memilih untuk maju melalui partai politik. Mengingat partai memiliki mesin politik. "Bisa jadi komunikasi makin banyak partai yang melakukan recruitment bapaslon yang lebih baik," tuturnya.(far)

Laporan JPG, Jakarta

Arif Oktafian

Share
Published by
Arif Oktafian

Recent Posts

Ancelotti Buka Suara Usai Brasil Ditahan Maroko: Kami Terlalu Tegang

Brasil ditahan imbang Maroko 1-1 pada laga pembuka Grup C Piala Dunia 2026. Ancelotti menilai…

1 hari ago

Enam Bulan Tanpa Honor, Guru Bantu Kampar Datangi DPRD dan Tagih Kepastian

Puluhan guru bantu mendatangi DPRD Kampar untuk meminta kepastian pembayaran honor yang belum diterima sejak…

1 hari ago

Tragis! Perempuan 21 Tahun Tewas saat Bungee Jumping Diduga Karena Tali Belum Terpasang

Seorang perempuan berusia 21 tahun tewas saat bungee jumping di Brazil. Polisi menyelidiki dugaan kelalaian…

2 hari ago

Alwi Farhan Juara Australia Open 2026, Sukses Taklukkan Dong Tian Yao

Alwi Farhan sukses menjuarai Australia Open 2026 setelah mengalahkan Dong Tian Yao dan mengakhiri periode…

2 hari ago

Pemkab Bengkalis Ajukan Kerja Sama e-Ticketing RoRo ke DPRD

Pemkab Bengkalis mengajukan kerja sama pengelolaan e-ticketing RoRo guna meningkatkan pelayanan, mengurangi antrean, dan mengoptimalkan…

2 hari ago

Peringati Hari Lingkungan Hidup, UIN Suska Riau Tebar Benih Ikan dan Perkuat Komunikasi Publik

UIN Suska Riau menggelar penebaran benih ikan dan penguatan komunikasi publik sebagai wujud kepedulian lingkungan…

2 hari ago