Categories: Nasional

Ekonomi dan Perbankan Afghanistan Terancam Runtuh

KABUL (RIAUPOS.CO) – Pemerintah Afghanistan di bawah Taliban berhadapan dengan ancaman ekonomi yang tak terelakkan: kehancuran sistem perbankan. Pasalnya, sudah hampir dua pekan bank-bank di Afghanistan tetap tutup sehingga masyarakat tidak memiliki akses ke uang tunai sejak Taliban mengambil alih kekuasaan.

"Tidak ada yang punya uang," kata seorang pegawai bank sentral Afghanistan kepada CNN Business, Jumat (27/8/2021).

Karyawan yang mau dikutip anonim tersebut mengatakan banyak keluarga tidak memiliki cukup uang untuk pengeluaran harian mereka, sedangkan pembayaran gaji telah dihentikan.

Semua ini menimbulkan momok krisis ekonomi dan krisis kemanusiaan yang parah di Afghanistan, hanya dua minggu setelah Taliban mengambilalih kekuasaan negara.

Tantangan utama yang sedang menghantui adalah ketergantungan Afghanistan terhadap negara luar dan bantuan internasional. Sementara, sebagian besar akses luar telah diblokir sejak jatuhnya Kabul.

Menurut Bank Dunia, 75 persen pengeluaran untuk publik Afghanistan selama ini berasal dari hibah.

Kendati Taliban memerintahkan bank dan layanan lain untuk kembali dibuka, hingga kini bank masih tutup karena hampir kehabisan uang, kata seorang sumber bank sentral.

"Begitu Anda membuka bank, itu akan mengekspos betapa rapuhnya sistem ini," ujar seseorang yang akrab dengan situasi ekonomi Afghanistan.

Kamar Dagang Afghanistan-Amerika memperingatkan potensi kehancuran industri perbankan Afghanistan. Bank sentral Afghanistan, sebagai landasan sistem keuangan, tampaknya tengah berada dalam kekacauan internal.

"Afghanistan dan sektor perbankannya berada pada 'krisis eksistensial' dengan keruntuhan sektor perbankan sudah dekat," bunyi memo tertanggal 23 Agustus yang dikirim oleh Kamar Dagang Afghanistan-Amerika.

Memo itu ditulis kelompok kerja perbankan dan keuangan yang terdiri dari bank-bank komersial utama Afghanistan, pelanggan, dan investor.

Memo itu menyebut para kepala bank sentral Afghanistan menolak berbagai bentuk komunikasi dengan industri perbankan. Permintaan akses ke uang tunai juga tidak diberikan.

Oleh karena itu, grup perbankan Afghanistan disebut memutuskan menutup semua bank pada 15 Agustus dan belum dibuka lagi karena kekhawatiran penarikan jumlah besar dari nasabah.

Sumber: Reuters/CNN/Berbagai Sumber
Editor: Hary B Koriun

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

DPRD Pekanbaru Ingatkan Pelaku Usaha Jangan Tutup Drainase

DPRD Pekanbaru mengingatkan pelaku usaha agar tidak menutup drainase. Penyempitan saluran air dinilai berpotensi memicu…

3 jam ago

Tabrak Lari di Pekanbaru, Pekerja Marka Jalan Meninggal Dunia

Pekerja marka jalan di Pekanbaru tewas ditabrak mobil yang kabur dini hari. Polisi memburu pelaku,…

4 jam ago

Warga Meranti Tolak Kenaikan Tarif Kapal yang Dinilai Memberatkan

Rencana kenaikan tarif kapal di Kepulauan Meranti menuai penolakan warga. Tarif naik lebih 20 persen…

5 jam ago

Penuh Tawa dan Energi, Roadshow Kopi Good Day Hibur Siswa SMKN 4 Pekanbaru

Roadshow Kopi Good Day Goes to School hadir di SMKN 4 Pekanbaru, menghadirkan hiburan, kreativitas,…

1 hari ago

PKL Jualan Lewat Jam 01.00 WIB di Rohul Siap-siap Ditertibkan

Satpol PP Rohul mengingatkan PKL agar tidak berjualan melewati pukul 01.00 WIB. Pelanggar jam operasional…

1 hari ago

Pencurian Sawit dan Narkoba Dominasi Perkara di PN Bangkinang

Kasus pencurian sawit dan narkoba mendominasi perkara di PN Bangkinang. Dari 3.532 perkara masuk, sebagian…

1 hari ago