Categories: Nasional

Musim Hujan Datang Lebih Awal, Waspada Daya Tahan Tubuh Menurun

JAKARTA, (RIAUPOS.CO) – Badan Metereologi Klimatologi Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan 2021 akan terjadi lebih awal dari biasanya. Yakni pada sekitaran September akhir hingga Oktober 2021. Selain potensi bencana hidrometeorologis, kondisi cuaca yang tidak menentu juga dikhawatirkan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia tengah mengalami puncak musim kemarau.

Daerah-daerah kering utamanya berada di selatan Khatulistiwa. Namun kondisi berbeda justru banyak dialami daerah di utara Khatulistiwa seperti Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Hal ini kata Dwikorita memang kerap menimbulkan kebingungan.

"Seperti yang sudah pernah diprediksikan oleh BMKG sebelumnya. Bahwa musim kemarau tahun ini adalah musim kemarau yang basah," jelas Dwikorita, kemarin (26/8)

Sebagai kawasan benua maritim, cuaca dan dinamika musim di Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika atmosfer di dua samudera utama. Yakni Samudera Hindia dan Pasifik. Selain itu, banyak anomali cuaca terdaftar sepanjang tahunnya seperti El Nino, La Nina, Madden Julian Oscilliation (MJO) ataupun seruakan dingin.

Dengan tibanya musim hujan yang lebih awal ini, kata Dwikorita, beberapa keuntungan yang bisa didapatkan di antaranya para petani bisa melakukan perluasan masa tanam. Kemudian panen air hujan untuk mengisi kanal-kanal tadah hujan, embung maupun waduk demi kepentingan irigasi.

 

Bagaimanapun, kondisi musim hujan juga patut diwaspadai karena berpotensi membawa serta bencana hidro-meteorologis seperti hujan lebat, banjir, angin kencang, petir serta tanah longsor.

"Selain itu, hujan es juga masih berpotensi terjadi," jelasnya.

Tidak hanya bencana, perubahan cuaca yang tidak menentu bisa membuat imunitas seseorang melemah sehingga menjadi rentan terkena penyakit.

"Terlebih situasi Indonesia saat ini belum lepas sepenuhnya dari pandemi Covid-19. Waspada bencana hidrometeorologi dan jaga kesehatan selalu," imbuhnya.

Sejumlah wilayah di Indonesia juga diprediksi mengalami musim hujan lebih besar dari biasanya. Di antaranya yaitu, sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian selatan, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian barat hingga selatan, Sulawesi, Maluku Utara bagian barat, Pulau Seram bagian selatan, dan Papua bagian selatan.

BMKG mengimbau pemerintah daerah setempat dan masyarakat untuk mewaspadai, mengantisipasi dan melakukan aksi mitigasi lebih awal guna menghindari dan mengurangi risiko bencana. Puncak musim hujan periode 2021/2022 sendiri diprediksi akan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2022.

Dwikorita menjabarkan, dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 14,6 persen diprediksi akan mengawali musim hujan pada September 2021, meliputi Sumatera bagian tengah dan sebagian Kalimantan.

Kemudian 39,1 persen wilayah pada Oktober 2021, meliputi Sumatra bagian selatan, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Bali. Sementara itu, sebanyak 28,7 persen wilayah lainnya pada November 2021, meliputi sebagian Lampung, Jawa, Bali – Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Dwikorita menerangkan, secara umum, sifat hujan selama Musim Hujan 2021/2022 diperkirakan normal atau sama dengan rata-rata klimatologisnya pada 244 ZOM (71,4 persen), sejumlah 88 ZOM (25,7 persen) akan mengalami kondisi musim hujan Atas Normal (lebih basah dari biasanya) dan 10 ZOM (2,9 persen) akan mengalami musim hujan bawah normal.

Sementara itu, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Dodo Gunawan mengatakan saat ini El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) sama-sama dalam keadaan Netral. Keduanya adalah faktor iklim penting yang mempengaruhi terhadap variabilitas curah hujan di Indonesia, terutama pada skala waktu inter-annual.

Namun, berdasarkan pemantauan parameter anomali iklim global oleh BMKG dan institusi-institusi internasional lainnya, terdapat indikasi/peluang bahwa ENSO Netral akan berkembang menjadi La Nina pada akhir tahun 2021. Sementara itu, Indian Ocean Dipole Mode (IOD) Netral diprediksi bertahan setidaknya hingga Januari 2022.(tau/jpg)

 

Firman Agus

Share
Published by
Firman Agus

Recent Posts

Kasus Perampokan Maut di Rumbai, Polisi Kantongi Petunjuk Pelaku

Polisi dalami kasus lansia tewas di Rumbai, Pekanbaru. Olah TKP kedua dilakukan, empat saksi diperiksa,…

7 jam ago

Antrean BBM Mengular di Pekanbaru, Warga Rela Tunggu Hingga Tengah Malam

Antrean panjang BBM terjadi di Pekanbaru. Warga rela antre hingga satu jam, bahkan membeli eceran…

10 jam ago

Jalan Mulus, Warga Lubuk Betung Ramai-ramai Ucapkan Terima Kasih ke Pemkab Rohul

Jalan di Lubuk Betung Rohul kini mulus usai diaspal. Warga rasakan manfaatnya dan ucapkan terima…

12 jam ago

Cegah Kelangkaan Pertalite, SPBU Bangkinang Tambah Pasokan hingga 16 Ton

SPBU Bangkinang tambah pasokan Pertalite hingga 16 ton untuk atasi antrean panjang jelang akhir bulan,…

2 hari ago

Jemaah Calon Haji Kuansing Meninggal Saat Momen Pelepasan, Jenazah Dimakamkan di Kampung Halaman

Seorang JCH Kuansing meninggal dunia usai alami serangan jantung saat pelepasan. Jenazah dimakamkan di kampung…

3 hari ago

Fakta Baru Kasus Korupsi Riau, Satpam Ngaku Antar Duit Rp300 Juta

Pengakuan satpam PUPR Riau di sidang Tipikor ungkap pengantaran uang Rp300 juta terkait dugaan pemerasan…

3 hari ago