Categories: Nasional

Tahap Berikutnya Mengadu ke Mahkamah Internasional

JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Koordinator massa aksi kawal sidang Mahkamah Konstitusi (MK) Abdullah Hehamahua meminta massa aksi agar membubarkan diri mulai pukul 17.00 WIB. Hal itu untuk menghindari aksi disusupi oleh oknum perusuh. Sebab apabila membubarkan diri pukul 18.00 WIB hari sudah gelap sehingga sulit membedakan kawan dan lawan.

Keputusan membubarkan diri pukul 17.00 WIB juga karena Abdullah yang memiliki pengalaman sebagai penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah bisa membaca arah putusan hakim yang banyak menolak dalil kubu Prabowo-Sandi.

’’Jam 5 nanti kita akan selesai. Dengan pengalaman saya di KPK 12 tahun kita tahu hasilnya bahwa 02 ditolak,’’ ujar Abdullah dari mobil komando di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Meski begitu, Abdullah memastikan perjuangan untuk menegakkan keadilan tidak berhenti sampai di sini. Besok mereka akan mendatangi Komnas HAM untuk mengadukan meninggalnya ratusan petugas KPPS dan jatuhnya korban jiwa saat aksi 21-22 Mei.

’’Baru satu episode dari perjalanan panjang. Besok salat Jumat di masjid Sunda Kelapa. Dari sana kita ke Komnas HAM adukan 600 KPPS dan 10 korban 21-22 Mei. Takbir!’’ kata Abdullah.

Selain itu, Abdullah juga mengajak massa untuk membuat aduan ke DPR RI. Supaya lembaga penyelenggara pemilu diinvestigasi atas kecurangan pemilu yang terjadi. Tak berhenti di situ, massa juga berencana membawa persoalan ini ke Pengadilan Internasional. Mereka menginginkan IT KPU diinvestigasi. Dengan harapan keadilan bisa tegakkan.

’’Mudah-mudahan mengakibatkan Oktober bukan dilantik. Kalau sampai Oktober juga belum ada kemenangan. Masih ada waktu 5 tahun kita mengajukan capres-cawapres dari kita sendiri. Bikin partai sendiri,’’ tutup Abdullah.
Dari pantauan di lokasi aksi, pukul 17.00 WIB massa mulai berangsur membubarkan diri. Mereka mendengarkan instruksi dari koordinator massa.(sabikajitaufan)

Sumber: Jawapos.com
Editor: Fopin A Sinaga

Redaksi

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, 34 Pesawat dari Pekanbaru Batal

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengganggu penerbangan Pekanbaru-Jakarta. Sebanyak 34 penerbangan dari Bandara SSK II…

59 detik ago

Bupati Siak Minta Maaf soal Kabut Asap, Evaluasi Menyeluruh Karhutla

Kabut asap pekat masih menyelimuti Siak meski tersisa satu titik api. Bupati Afni meminta maaf…

10 menit ago

Pemprov Riau Mulai Pelebaran Jalan Tuanku Tambusai, Simpang SKA Ditargetkan Ditutup Akhir Tahun

Jalan Tuanku Tambusai Pekanbaru mulai dilebarkan hingga 14 meter per jalur untuk mengurai kemacetan dan…

47 menit ago

Diduga Berbau Busuk, Enam Sekolah di Inhu Tolak Makanan MBG

Enam sekolah di Rengat Barat, Inhu, menolak MBG karena ayam goreng diduga beraroma busuk. SPPG…

1 jam ago

APBD Terbatas, Meranti Andalkan Program IJD untuk Benahi 9,6 Km Jalan

Pemkab Kepulauan Meranti mengusulkan tiga ruas jalan sepanjang 9,6 km masuk program IJD dengan kebutuhan…

24 jam ago

Kabut Asap Karhutla Kembali Selimuti Pekanbaru, Polusi Tertinggi Ketiga di Indonesia

Kabut asap karhutla masih menyelimuti Pekanbaru. Kualitas udara memburuk, AQI mencapai 171 dan 156 titik…

1 hari ago