Categories: Nasional

Melawan “Kutukan Kota Bertuah”

Jika hujan deras mengguyur Kota Pekanbaru, maka banjir dan genangan air adalah hasilnya. Meski durasi hujan tak lama, namun beberapa jalan protokol tergenang. Akibatnya, pengguna jalan kesulitan saat berkendara. Itu di tengah kota. Apalagi di sejumlah wilayah pinggiran kota yang padat penduduk. Kerap kondisi ini membuat kota dijuluki "kota berkuah" Tak lagi kota bertuah. Kapan "kutukan"itu akan berakhir?

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Hari masih pagi menjelang siang. Sejumlah pria muda yang dipimpin oleh seorang pria berkacamata minus sedang mengamati sejumlah daerah aliran sungai (DAS) yang ada di Kota Pekanbaru. Pagi itu mereka berada di Sungai Sail. 

Bukan saja mengamati tetapi juga membawa alat ukur, kertas, pena dan kamera. Sudah hampir empat bulan rombongan kecil itu bergerak dari satu titik ke titik lainnya mengamati parit, anak sungai, sungai, gorong-gorong, box culvert dan apa saja yang terkait dengan itu.

Dan setelah lima bulan berlalu, rampunglah hasil kerja keras mereka yang dituangkan dalam laporan lengkap bertajuk rencana induk (master plan) mengatasi banjir Kota Pekanbaru. Lengkap dengan 120 titik langganan genangan air dengan total luasnya mencapai 291 hektare. 375 masalah aliran air (drainase) yang ditemukan dan harus segera diperbaiki. Pria berkacamata itu adalah Dr Ikhsan. Dialah ketua tim penyusun Master Plan Mengatasi Banjir Kota Pekanbaru. 

"Dengan adanya masterplan ini, maka kerja-kerja teknis sudah lebih terbantu, karena kita sudah tahu di mana titik-titik rawan banjir yang bisa segera kita tangani segera,"ujarnya saat berbincang dengan Riau Pos.

Menurutnya, banjir muncul utamanya karena permasalahan lingkungan. 

"Kasusnya di kota kita, debit air yang datang misalnya karena hujan itu kapasitasnya tidak lagi terserap oleh tanah. Sebab pesatnya pembangunan membuat tertutupnya tanah, baik oleh bangunan maupun cor lantai halaman sehingga area resapan air sangat minim sekali,"ujarnya.

Akibatnya debit air tersebut  tidak terserap dan mengalir atau menggenang di permukaan aspal. Untuk Pekanbaru, penyebab banjir adalah kurangnya area resapan air (tanah) dan adanya drainase yang tidak berfungsi mengalirkan air.

Rindra

Share
Published by
Rindra

Recent Posts

Tabebuya Bermekaran, Wajah Kota Pekanbaru Berubah Jadi Lebih Indah

Bunga Tabebuya bermekaran di sejumlah ruas jalan Pekanbaru. Warga terpesona melihat pemandangan kota yang lebih…

3 hari ago

Kalam Kudus Menang di Dua Laga, Putra-Putri Melaju ke Final HSBL Selatpanjang

Kalam Kudus meraih dua kemenangan pada HSBL Selatpanjang 2026 dan memastikan tim putra-putri melaju ke…

3 hari ago

Mengarak Tabak hingga Makan Beradat, Tradisi Melayu Batang Peranap Kembali Digelar

Festival Adat Batang Peranap menampilkan Beghagak Tabak, Caca Inai dan Makan Beradat sebagai upaya melestarikan…

4 hari ago

Harga Dexlite Melonjak, Antrean Biosolar di Pelalawan Mengular

Harga Dexlite naik Rp5.050 per liter, pengendara beralih ke biosolar hingga antrean di SPBU Pangkalan…

4 hari ago

Akses Pelabuhan Tanjung Harapan Dibangun Ulang, Ini Panjang dan Ketebalan Jalannya

Pelindo mulai meningkatkan jalan akses Terminal Tanjung Harapan Selatpanjang senilai Rp1,48 miliar untuk kenyamanan dan…

4 hari ago

Lahan 221 Hektare Jadi Sorotan, Mitra Agrinas dan Ninik Mamak Koto Garo Saling Lapor

Konflik pengelolaan lahan eks PT RAL di Koto Garo, Kampar, memanas setelah Mitra Agrinas dan…

4 hari ago