Categories: Nasional

Dampak Corona Lebih Fatal bagi Pria Dibanding Perempuan

(RIAUPOS.CO) — Gaya dan kebiasaan buruk kaum pria yang kerap merokok dan mengonsumsi minuman keras yang membuat kerusakan paru-paru, disinyalir menjadikan kaum pria lebih rentan dan meningkatkan jumlah kematian akibat terkena corona (Covid-19) pria lebih tinggi dibanding pada perempuan. 

Hal ini dikatakan sejumlah pakar terkemuka yang mengatakan kepada Xinhua seperti dilansir oleh Antara pada Kamis (26/3), bahwa pengaruh hormon terhadap respons kekebalan tubuh kemungkinan juga memainkan peran penting dalam fenomena ini.

Ketika berbicara dalam taklimat harian yang digelar di Gedung Putih, Washington DC, Dr. Deborah Birx, direktur Gugus Tugas Covid-19 Gedung Putih, mengatakan, sebuah laporan dari Italia menunjukkan bahwa tingkat kematian pria dari hampir seluruh kelompok usia lebih tinggi dibandingkan perempuan. "Ini adalah tren yang meresahkan," ucapnya.

Menurut otoritas kesehatan Italia, pria menguasai 58 persen dari seluruh 13.882 kasus Covid-19 di negara tersebut antara 21 Februari hingga 12 Maret, serta 72 persen dari 803 kematian yang dilaporkan saat itu. Pasien pria yang terjangkit korona dan dirawat di rumah sakit 75 persen lebih mungkin meninggal dibandingkan pasien perempuan yang menjalani perawatan serupa.

Data dari beberapa negara lainnya juga menunjukkan bahwa kematian akibat korona lebih banyak terjadi pada pria ketimbang perempuan. laporan dari at Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, mengindikasikan bahwa tingkat mortalitas di kalangan pria yang dikonfirmasi terinfeksi korona sekitar 65 persen lebih tinggi dibandingkan tingkat kematian di kalangan wanita.

Berbagai kebiasaan tidak sehat, seperti merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol, lebih sering dilakukan oleh pria dibandingkan perempuan. "Kebiasaan-kebiasaan itu dapat merusak paru-paru dan mengakibatkan peradangan ketika melawan infeksi," kata Birx.

Pria juga cenderung memiliki lebih banyak penyakit terselubung, seperti hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit paru-paru kronis, menurut Global Health 50/50, sebuah institut penelitian yang mempelajari ketidaksetaraan gender di bidang kesehatan global. 

Meski sejumlah faktor lain yang dapat memicu infeksi parah, seperti riwayat merokok dan penyakit jantung, juga berbeda pada laki-laki dan perempuan, sistem imun diketahui berfungsi dengan cara yang berbeda pada tubuh keduanya. Ha itu dipaparkan oleh Susan Kovats, ahli imunologi dan mikrobiologi dari Yayasan Penelitian Medis Oklahoma (Oklahoma Medical Research Foundation) dalam sebuah wawancara dengan Xinhua seperti dilansir oleh Antara pada Kamis (26/3).

Perbedaan terkait gender dalam tingkat kemunculan dan keparahan infeksi virus pernapasan terlihat jelas pada manusia dan model tikus, serta sejalan dengan perbedaan dalam hal aktivitas sel imun, imbuhnya. ’’Sel-sel imun mampu merespons hormon estrogen dan testosteron, yang mengindikasikan bahwa perbedaan kadar hormon-hormon ini pada pria dan wanita mungkin saja berperan dalam respons imun mereka yang berbeda,’’ terang Kovats.

Ketika merespons beberapa virus, jika dibandingkan dengan sel-sel pria, sel-sel pada tubuh perempuan memproduksi protein yang disebut interferon dengan level lebih tinggi. Interferon merupakan bagian penting dari respons imun bawaan awal. Protein tersebut memicu aliran protein yang secara langsung bersifat antivirus dan bertindak untuk meredakan penyebaran virus, menurut Kovats.

"Bukti memang menunjukkan bahwa produksi interferon didukung oleh estrogen. Dalam infeksi virus pernapasan, kapasitas yang lebih besar untuk memproduksi interferon dapat membantu meredakan penyebaran virus dan kerusakan paru-paru pada wanita," tuturnya.

Dr. Stanley Perlman, profesor mikrobiologi dan imunologi dari Universitas Iowa, mempelajari sejumlah tikus jantan dan betina yang terinfeksi beberapa jenis coronavirus, yaitu coronavirus pemicu sindrom pernapasan akut berat (severe acute respiratory syndrome/SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (Middle East respiratory syndrome/MERS). Dia menemukan bahwa tikus-tikus jantan lebih rentan terinfeksi dibandingkan tikus betina di segala usia.

"Eksperimen-eksperimen yang kami lakukan pada tikus mengindikasikan bahwa hal ini sebagian bersifat hormonal. Jika kita menghilangkan estrogen dari tikus-tikus itu, mereka (tikus betina) akan sama sensitifnya terhadap SARS-CoV dengan tikus jantan," kata Perlman.

’"Respons imun antara laki-laki dan perempuan kemungkinan berkaitan dengan hormon, tetapi masih belum dipahami dengan baik," kata Kent Pinkerton, profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas California Davis. (*)

Sumber: JawaPos.com
Editor: Erizal

Rinaldi

Share
Published by
Rinaldi

Recent Posts

Hujan Deras Guyur Pasirpengaraian, Upacara HUT ke-27 Kabupaten Rohul Sempat Tertunda

Pelaksanaan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) di Halaman Kantor…

18 jam ago

Pemkab Kepulauan Meranti Lelang Aset Daerah Senilai Rp1,91 Miliar

Pemkab Kepulauan Meranti melalui BPKAD kembali melelang barang milik daerah (BMD) senilai Rp1,91 miliar secara…

18 jam ago

LAM Riau Gelar Tepuk Tepung Tawar Sambut Kedatangan Kapolda Riau Irjen Arman Achdiat

Kapolda Riau Irjen Pol Arman Achdiat resmi tiba di Pekanbaru dan disambut dengan jajar hormat,…

2 hari ago

Momentum HUT ke-27 Kuansing, Tokoh Masyarakat Marwan Yohanis Minta Putus Mata Rantai Persoalan Hukum

Mantan Ketua DPRD Kuansing Marwan Yohanis memberikan catatan kritis pada momentum HUT ke-27 Kabupaten Kuansing…

2 hari ago

Nurul Angely Juara Pertama Bintang Radio Kabupaten Kuansing 2026

Nurul Angely dari Kecamatan Kuantan Mudik berhasil keluar sebagai juara pertama ajang Bintang Radio Kabupaten…

3 hari ago

Penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru Berjalan Normal di Tengah Kabut Asap

Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional SSK II Pekanbaru berjalan aman dan normal meski Kota Pekanbaru…

4 hari ago