Categories: Nasional

Terawan: Yang Berkasus Siapa?

JAKARTA (RIAUPOS.CO) — Presiden Joko Widodo menunjuk Terawan Agus Putranto sebagai Menteri Kesehatan. Sosok Terawan selama ini dikenal kontroversial karena sempat berseteru dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) tahun 2018.

Kala itu, metode DSA (Digital Substraction Angiogram) alias metode cuci otak temuan Terawan dinilai IDI tidak berbasis penelitian ilmiah. Hal ini membuat Terawan mendapat sanksi keras dari IDI.

Disinggung lagi soal masalah ini usai pelantikannya sebagai Menteri Kesehatan, Terawan menanggapi dengan santai. “Yang berkasus itu siapa? Biarkan saja. Kan saya nggak pernah tanggapi. Saya kan waktu itu militer, harus tata cara militer,” katanya di sela-sela acara syukuran dan perpisahan bersama staf Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Rabu (23/10).

Ketika ditanya soal programnya sebagai menteri, Terawan menegaskan ia masih harus rapat dan mempelajari semua permasalahan. Presiden Joko Widodo juga sudah memintanya untuk melakukan terobosan percepatan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan persoalan stunting.

“Rapat dulu untuk melihat apa permasalahannya dan apa yang bisa dicapai, apa yang harus kita lakukan. Harus rapatkan dulu,” jelasnya.

Dalam pidatonya di hadapan ratusan staf RSPAD, dia mengungkapkan perjalanan karirnya dari pangkat tentara yang diraihnya. Dari mulai bintang 1, 2, hingga 3.

“Saya ingat waktu pertama kali jadi kepala RSPAD ini. Begitu saya berdiri tahun 2016 ternyata ada siklus 3 tahunan. Dari 2013 Brigjen, lalu 3 tahun kemudian Mayjen, dan lalu Letjen. Mudah-mudahan itu bisa mendorong semangat kerja, yang penting kerja tulus ikhlas,” ungkapnya.

Mengemban jabatan sebagai menteri yang tentunya tidak akan mudah, Terawan mengaku sudah siap menghadapi badai kritik yang ada di depannya. “Tantangan, cercaan, hinaan sudah biasa. Tetap kerja tulus ikhlas dan tetap tulus, responsif, profesional, teruji dan handal. Semuanya bisa terlaksana kalau pasangan hidupnya mendukung.

Untuk diketahui, Terawan dikenal sebagai seorang dokter bertangan dingin dalam menyembuhkan penyakit stroke. Metode DSA yang ditemukannya untuk menyembuhkan penyakit stroke sudah dikenal dunia sebagai terobosan dunia medis.

Secara praktik, metode DSA dilakukan dengan cara memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha penderita stroke. Hal tersebut dilakukan untuk melihat apakah terdapat penyumbatan pembuluh darah di area otak.

Namun, temuannya ini pernah dianggap melanggar kode etik kedokteran oleh IDI. Terawan dipecat selama 12 bulan dari keanggotaan IDI sejak 26 Februari 2018-25 Februari 2019. Keputusan IDI tersebut diambil setelah sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) PB IDI yang menilai Terawan melakukan pelanggaran.
Sumber: Jawapos.com
Editor: Erizal

Rinaldi

Share
Published by
Rinaldi

Recent Posts

Tekan Balap Liar dan Knalpot Brong, Polisi Sita 12 Motor di Pekanbaru

Satlantas Polresta Pekanbaru menggelar patroli Blue Light dini hari dan mengamankan 12 sepeda motor pelanggar…

5 jam ago

Inovasi Layanan Umrah, Menang Tour & Travel Launching MMC

PT Butala Menang Abadi meluncurkan Menang Member Card di awal 2026 untuk mempermudah jemaah umrah…

5 jam ago

Baznas Riau Catat Zakat ASN Pemprov Riau Tembus Rp52 Miliar

Baznas Riau mencatat zakat ASN Pemprov Riau tahun 2025 mencapai Rp52,5 miliar dan terus mengoptimalkan…

5 jam ago

Penolakan Relokasi Menguat, Masyarakat Cerenti Tanda Tangani Petisi

Masyarakat Cerenti menggelar aksi damai dan menandatangani petisi menolak rencana relokasi warga TNTN ke Desa…

6 jam ago

Kantin SDN 169 Pekanbaru Terbakar Dini Hari, Damkar Kerahkan 5 Unit

Kantin SDN 169 Pekanbaru terbakar dini hari. Lima unit damkar dikerahkan untuk memadamkan api dan…

6 jam ago

Dermaga Peranggas Meranti Kian Memprihatinkan, DPRD Minta Perhatian Pemerintah

Dermaga Peranggas di Kepulauan Meranti kian memprihatinkan dan dinilai tak layak pakai. DPRD mendesak pemerintah…

7 jam ago